Kemeriahan HUT TNI di Papua Dihiasi Perang Suku

Drama perang suku pegunungan tengah Papua, meriahkan HUT ke-70 TNI 
JAYAPURA – Dua orang meninggal dunia, akibat perang antar suku dari pegunungan tengah Papua yang terjadi di Kota Jayapura. Perang tersebut dipicu akibat salah satu suku membawa kabur perempuan dari suku lainnya. Beruntung, perang suku ini dapat didamaikan prajurit TNI dan Polri di wilayah tersebut.
Awalnya, seorang empat perempuan yang sedang bercocok tanam di kebun, dan didatangi beberapa kaum pria dari suku lainnya. Tiba-tiba, sekelompok pria dari suku yang berbeda itu membawa kabur ketiga perempuan dari empat perempuan yang saat itu sedang berkebun.
Tak lama kemudian, seorang perempuan berhasil kabur dan memberitahu kepala sukunya bahwa tiga perempuan dibawa oleh kelompok suku lain, saat sedang berkebun. Sontak, kepala suku tersebut memerintahkan pengikutnya untuk mengambil kembali tiga perempuan yang telah dibawa suku lain.
Bermodalkan jubi (panah), tombak tradisional dibawa suku tersebut untuk melakukan perang dengan tujuan mengambil kembali tiga perempuan tadi. Beberapa menit berselang, pecahlah perang antar suku. Jatuhlah korban dari suku yang membawa tiga perempuan tersebut. Tak terima ada korban, suku tersebut membalas dan juga kembali jatuh korban lagi dari suku yang perempuannya telah dibawa suku yang menjadi pelaku tersebut.
Beruntung, dengan sigap dua Babinsa Kodam Cenderawasih yang dibantu seorang anggota Polri berusaha mendamaikan kedua kubu yang sedang bertikai dan mengakibatkan jatuhnya korban dari dua kubu tersebut. Setelah bermusyarawarah yang dimediasi kedua perwakilan institusi TNI dan Polri, akhirnya kedua belah pihak telah berdamai dan saling memaafkan.
Perang suku ini hanyalah, satu cerita rakyat yang diangkat dan dipertontonkan keribuan mata para undangan yang hadir dalam kemeriahan di Hari Ulang Tahun (HUT) TNI ke-70 yang terpusat dilapangan rumput Makodam XVII/Cenderawasih dengan ide cerita dari Matius Murib, yang juga salah satu aktifis Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua.
Salah satu pengunjung dalam hari besar TNI tersebut, Fitriani, mengatakan dirinya baru pertama kali melihat cara perang suku dari pegunungan secara langsung. “Ini cerita yang sering saya baca di koran media lokal, tapi belum pernah melihat secara langsung. Saya sangat senang bisa melihatnya, mulai dari pakaian adat, gaya perang dan ceritanya sendiri,” kata Ani sapaan akrabnya dan juga sebagai mahasiswa disalah satu perguruan tinggi di Kota Jayapura, Senin (05/10/2015).
Ternyata, menurutnya, perang suku itu berawal dari masalah kecil bisa jadi besar. Namun, ia mengaku dari apa yang pernah dibacanya, perdamaian dari perang suku, biasanya disertai dengan bakar batu (bakar Babi diatas batu) bersama sebagai simbol perdamaian.
“Terakhir soal perdamaiannya yang kurang, biasanya harus ada bakar batu atau barapen untuk dimakan secara bersama-sama, itu kalau cerita yang biasa saya baca di cerita rakyat Papua ya,” ujarnya.
Pengunjung lainnya juga sangat senang dengan tontonan hari ini di markas Kodam Cenderawasih itu, Rifin katakan dirinya baru pertama kali menonton teatrikal atau cerita rakyat dan cerita Jenderal Sudirman yang diangkat melalui seni peran.
“Ini seni yang sangat menarik, dan perlu diangkat terus. Jangan hanya ditulisan, kalau perlu seperti ini, diberikan tontonan teatrikal atau drama peran. Agar kita semua selalu mengingatnya,” kata Ifi.
SENIN, 05 Oktober 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Foto            : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...