Kenalkan Potensi Daerah, Taman Sari Yogyakarta Gelar Festival Seni

Wali Kota Yogya Haryadi Suyuti potong tumpeng
YOGYAKARTA — Sebuah festival seni budaya digelar di kawasan Kampung Taman Sari, Patehan, Keraton, Yogyakarta, Sabtu (10/10/2015), sore. Gunungan tumpeng terbuat dari 25 kilogram beras dibuat sebagai maskot kegiatan. 
Kampung Taman Sari, semula adalah bangunan taman tempat Raja Kesultanan Yogyakarta bercengkrama dengan kerabat. Pada zamannya, Taman Sari sangat terkenal keindahannya. Dalam catatan Belanda, Taman Sari disebut Water Castle, karena taman tersebut merupakan kolam pemandian keluarga raja. 
Kini, setelah zaman berganti, Taman Sari menjadi salah satu obyek wisata menarik di kota Yogyakarta. Tak ingin Taman Sari berkembang seperti obyek wisata biasa, warga Kampung Taman Sari pun setiap tahun menggelar festival seni budaya tradisional setempat.
Ibnu Titiyanto, ketua panitia penyelenggara menyatakan, festival terebut digelar sebagai upaya mengenalkan potensi seni setempat. Selain itu, festival diadakan setiap tahun juga untuk mengawal warisan budaya masa lalu dan mengembangkan kegiatan seni yang berguna bagi penyadaran akan pemeliharaan asset budaya sekaligus mengembangkan citra Taman Sari sebagai pusat kegiatan seni, sehingga masyatakat tidak hanya mengenal Taman Sari sebagai heritage. Namun juga kegiatan -kegiatan keseniannya seperi tari-tarian tradisional, karawitan, dan sebagainya.
Gelar Festival Seni Tamansari diadakan dengan mementaskan beragam kesenian, dibuka oleh Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti. Pembukaan acara diawali pemotongan tumpeng pancawarna raksasa oleh walikota. Hadir dalam acara pembukaan festival, segenap jaaran muspika dan muspida setempat. 
Dalam sambutannya, Haryadi menyatakan kekagumannya atas terselenggaranya acara tersebut yang diawaki oleh pemuda-pemuda kampung. Dengan terlibatnya generasi muda dalam kegiatan bermanfaat, kata Haryadi, menunjukkan anak-anak muda pun mampu bergotong-royong. “Ini sangat positif sekali, karena gotong-royong itu artinya saling berbagi beban dan peran. Itulah pesan dari kegiatan ini, bahwa gotong-royong masyarakatlah yang selama ini memajukan Kota Yogyakarta,” katanya.
Usai sambutan walikota, beragam kesenian tradisioanl dipentaskan.smentara itu, ratusan warga antusias berebut nasi tumpeng yang dikemas dalam takir atau semacam cawan dari kertas khas orang Jawa. Tumpeng dibuat lima warna yaitu kuning, putih, hijau, coklat dan merah, yan disebut Tumpeng Pancawarna. 
antusiasme warga meburu jamu tradisional
SABTU, 10 Oktober 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...