Keterbasan Teknologi dan SDM, Pedagang Akik tak Berkutik

Batu Akik Obsidian, Pancawarna Klawing dan sebagainya
YOGYAKARTA — Terpuruknya pelaku bisnis lokal di tanah air, tak hanya disebabkan oleh krisis ekonomi yang melanda saat ini. Namun juga regulasi pemerintah yang berdampak merugikan bagi pelaku usaha. Misalnya, peraturan yang melarang eksport bahan tambang mentah termasuk batu akik yang membuat pedagang batu akik tak berkutik menghadapi persaingan dengan negara asing.
Larangan eksport bahan tambang mentah di Indonesia, mulai diberlakukan semasa Pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri dengan diterbitkannya Kepmen Nomor 385/2004. Namun sejak itu pula banyak perubahan peraturan menyangkut pelarangan eksport bahan mentah. Sampai pada tahun 2014, pemerintah baru melarang secara total eksport bahan mentah ke luar negeri. Larangan itu ditujukan untuk melindungi Sumber Daya Alam dan meningkatkan nilai jual dan menumbuhkan ekonomi kreatif.
Saefudin
Sayangnya, larangan eksport bahan mentah itu tidak diimbangi dengan upaya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), apalagi dalam hal penguasaan teknologi. Karenanya, larangan eksport bahan mentah tersebut justru menimbulkan keterpurukan pelaku bisnis tambang seperti batu akik.
Hal itu setidaknya terungkap dari penuturan Saefudin (60), pedagang batu akik dan batu mulia di desa Dewan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Saefudin yang ditemui Minggu (18/10/2015) siang mengatakan, sejak tahun 2014 ia terpaksa menghentikan semua aktifitas eksport bahan mentah batu akik ke sejumlah negara langganannya seperti Belanda dan Taiwan. Padahal, sudah sejak tahun 1980 ia berbisnis batu akik skala besar dengan jumlah eksport 4 kontainer atau sekitar 150 Ton bahan batu akik setiap bulannya.
Saefudin menyadari, jika larangan eksport bahan tambang mentah itu memang bertujuan baik. Namun, Saefudin mengaku tak bisa mengikuti persaingan bisnis, jika eksport batu akik harus diolah terlebih dahulu. Pasalnya, proses pengolahan batu akik dalam jumlah besar membutuhkan waktu lama dan biaya tenaga kerja yang sangat besar pula. 
“Sementara itu negara lain bisa mengolah batu akik dengan biaya produksi minim dan dalam waktu singkat karena menggunakan teknologi”, ujarnya.
Dijelaskan Saefudin, untuk sekedar memoles batu akik seberat 3 kwintal, dibutuhkan waktu pengerjaan selama dua hari dengan upah tenaga kerja Rp 100 Ribu. Bisa dibayangkan, katanya, berapa lama dan berapa besar biaya produksi yang dikeluarkan jika harus memoles 100-150 Ton batu akik.
Sementara itu, lanjutnya, negara China dengan penguasaan teknologinya mampu memoles batu akik seberat 3 kwintal itu hanya dalam waktu kurang dari satu jam “Itu baru memoles batu akik. Dalam pembuatan ring cincin, China pun dengan mesin canggihnya mampu membuat ring cincin sebanyak 2 truck dalam sehari. Kita bikin ring cincin masih manual dan dalam sehari hanya bisa menghasilkan 3-4 buah ring cincin,” ungkapnya getir.
Saefudin menjelaskan lagi, dengan penguasaan teknologi itu China mampu memproduksi massal ring cincin dan menjualnya hanya dengan harga Rp 6.000 perbuah. Sedangkan, ring cincin buatan manual harus dijual seharga Rp 60-80 Ribu perbuahnya, karena ada ongkos produksi dan upah tenaga kerja. “Dalam membuat ring cincin, China bisa jual begitu murah karena menggunakan mesin cetak dan bahan limbah seperti bekas block mesin kendaraan bermotor, bekas stainless dan sejenisnya”, tandasnya.
Dengan kondisi persaingan yang tak imbang, Saefudin kini tak lagi mengeksport batu akik dalam jumlah banyak. Kecuali ada pesanan khusus. Ia memilih bertahan dengan sisa bahan batu akik milikinya, dan mengandalkan hasil penjualan retail batu akik buatannya yang menurutnya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Ia juga terpaksa menghentikan sementara puluhan tenaga kerjanya yang biasa dipekerjakan di lokasi penambangan batu akik miliknya. 
Saefudin, warga asli Tasikmalaya, Jawa Barat, baru setahun pindah di Yogyakarta. Dia mulai menggeluti bisnis eksport bahan mentah batu akik sejak tahun 1980. Awalnya, ia hanya dimintai tolong untuk mencarikan batu akik oleh majikan kakeknya yang merupakan orang Belanda. Karena waktu itu merasa mudah mencari batu akik dan harganya mahal, Saefudin pun kian tekun menambang batu akik. Salah satu tambang batu akiknya yang masih ada sampai kini ada di Gunung Singajaya desa Gadok, Pamempeg, Garut, Jawa Barat.
MINGGU, 18 Oktober 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...