Ketika Tanah Kering dan Langit Tak Menangis di Asmat

seorang mama Papua menadah air bersih [Ilustrasi]
JAYAPURA — Kekeringan melanda Agats, ibukota Kabupaten Asmat. Masyarakat kekurangan air bersih, tanah yang kering itu membuat warga mencari sumber air bersih ditengah hutan dengan harapan turunnya hujan dimusim El Nino. Tak jarang para turis asing yang berkunjung ke kabupaten tersebut, harus membeli air dengan harga Rp 2 juta untuk empat orang.
Tiga bulan terakhir, dari data yang dihimpun Cendana News. Demi air bersih, masyarakat di Asmat harus rela merogoh kocek Rp 60 ribu hingga Rp 100 ribu setiap galon. Tak hanya air bersih, kesulitan air untuk digunakan sehari-hari harus dialami masyarakat tersebut, dengan menimba air dari parit serta air kali sekitar pemukiman yang telah dicemari sampah dan telah mengeluarkan bau tidak sedap.
Agus Wianimo, salah satu pengurus World Wildlife Fund (WWF) wilayah Asmat mengaku kekeringan telah melanda Asmat hampir tiga bulan terakhir. Akibatnya, masyakarat di Asmat kesulitan mendapatkan air bersih.
“Sumber mata air terdekat, berada disekitar hutan-hutan rakyat, harus ditempuh dengan menggunakan speed boat yang jaraknya sekitar 2-3 jam perjalanan laut,” kata Wianimo, Jumat (09/10/2015).
Tak hanya itu, sejumlah wisatawan asing pun yang melakukan petualangan di kabupaten tersebut harus merasakan pahitnya kehidupan tanpa air. Sampai mengharuskan untuk membeli air dengan harga jutaan rupiah.
Pimpinan Papua Adventure, Iwanta Peranginangin bercerita kesejumlah awak media di Kota Jayapura, saat dirinya mengantar sejumlah turis untuk wisata ke Agats, Kabupaten Asmat, pertengahan September lalu, dirinya harus membeli air bersih seharga Rp 2 juta untuk kebutuhan 4 orang wisatawan asing dari negara Jerman.
“Kami mengunjungi Agats hanya 2 hari. Air bersih yang saya beli itu hanya digunakan untuk kebutuhan mandi dan buang air untuk mereka. Saya lihat, musim kekeringan tahun ini sangat parah, padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini,” kata Iwanta.
Salah satu warga yang memberikan kesaksiannya kepada sejumlah media melalui telepon selulernya mengaku ada beberapa distrik seperti Distrik Sawaerma dan Atsi, curah hujannya sudah normal dan air berkelimpahan disana dan untuk kelokasi itu membutuhkan waktu 1-2 jam perjalanan gunakan speedboat.
“Warga di Asmat yakin kalau matahari dan bulan masih berwarna kemerahan, ini pertanda kemarau masih berlangsung cukup lama dan sampai saat ini, matahari dan bulan juga belum ada perubahan warnanya,” ungkap Terry dari ujung selulernya.
Sebelumnya, Kepala Sub Bidang Pelayanan Jaya BMKG wilayah V Jayapura, Zem Irianto Paddama mengaku kekeringan berdampak ke sejumlah kabupaten di Papua dan Papua Barat, diantaranya Kabupaten Yahukimo, Yalimo, Memberamo Tengah, Lanny Jaya, Jayawijaya, Puncak Jaya, sebagian wilayah Asmat, Fak-fak, dan Sorong Selatan.
“Berdasarkan analisa kami, bagian selatan Papua terasa sekali itu kering, kemudian daerah pegunungan juga begitu. Itu semua dampak dari El Nino, fenomena alam yang menyebabkan penurunan curah hujan,” kata Paddama awal bulan September lalu. 
JUMAT, 09 Oktober 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Foto            : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...