Kisah Sukses Pengusaha Bontings, Panganan Khas Balikpapan

BALIKPAPAN — Ditengah lesunya batu bara dan melambatnya perekonomian, tak membuat salah satu usaha kecil menengah di Balikpapan patah semangat. Bahkan UKM ini justru membuka empat toko untuk mengembangkan pemasaran produk yang digeluti.
Ansori salah seorang owner Abon Kepiting ini sejak 2006 mendirikan usahanya dengan modal yang tidak banyak saat mengawali usahanya. Ia pemilik usaha aneka panganan oleh-oleh Balikpapan berbahan dasar kepiting. Diantaranya abon, stick, snack, dendeng dan amplang.
Berawal dari keputusannya datang kota minyak setelah menikahi Nurcahaya istrinya. “Iya baru menikah bingung mau usaha apa. Saat ini juga masih cari rumah kontrakan yang murah. Kebetulan dapatnya di Kelurahan Manggar,” ceritanya saat ditemuai di salah satu tokonya di kawasan Ahmad Yani kota Balikpapan, Minggu (4/9/2015).
Ia tinggal dilingkungan nelayan, dan Ansori juga ikut bersama nelayan menekuni pekerja yang sama melaut. Kemudian selama melaut Ia menemukan kepiting rajungan dan saat itu di pulau Jawa harganya mahal. Bahkan kepitingan rajungan pada tahun 2006 merupakan kualitas ekspor.
Ansori melanjutkannya dengan menghubungi kerabatnya di Pulau Jawa, menyusuri pembeli kepiting rajunga. Dari situlah Ansori menyuplai kepiting rajungan kepada pembelinya dan permintaan terus meningkat. Namun, ternyata pasokan berkurang untuk memperoleh kepiting rajungan karena kepiting rajungan musiman. ” Rajungan ternyata musiman. Nah saya harus beralih ke kepiting bakau yang pasokannya berlimpah. Coba cari pasarnya lagi,” ulasnya.
Menjadi penyuplai kepiting dalam bentuk dagingan kembali dilakoninya dengan keuntungan tentu saja gurih. Tiba-tiba sebuah kabar menggemparkannya. Seluruh dagingan kepiting yang baru saja dikirim ke eksportir dikembalikan dengan alasan kualitas tidak memenuhi standar. “Padahal pengiriman yang sudah kesekian kalinya. Karena jumlahnya banyak, enggak habis dimakan sekampung akhirnya saya nyeletuk ke karyawan, ya udah dibikin abon aja,” tuturnya mengenang.
Tanpa rasa ragu abon buatannya dikemas dan dipasarkan melalui sejumlah toko. Bukannya mendapat sambutan luar biasa produknya malah diprotes seluruh rekanan. “Katanya produk saya justru memancing banyak tikus,” ujarnya.
Kondisi tersebut tidak mengurangi semangatnya untuk menekuni usahanya. Abon kepiting tetap diproduksi. Apalagi tahun 2006 pemkot mencari makanan khas untuk dinobatkan sebagai oleh-oleh kota lewat ajang festival kuliner. Keluar sebagai juara 1 dan melesat di puncak kepopuleran membuatnya diikuti banyak orang. “Supaya masyarakat tahu siapa pelopor abon kepiting akhirnya coba daftarkan merek produk saya dengan nama Bontings. Kebetulan nama itu memang belum ada yang digunakan sehingga saya bisa langsung mempublikasikan, 2 tahun kemudian sertifikatnya rampung,” seru sambil menunjukkan produknya.
Dengan menjadi pemenang dan kepopulerannya, Ia juga ikut pameran ditingkat nasional maupun kota. Publikasi yang gencar dari media semakin terkenal. Berbagai penghargaan bergengsi pun diterimanya. Hingga permintaan yang diterimanya semakin deras. Produknya pun kembali mengisi etalase. Kali ini ke toko seluruh penjuru kota. “Waktu itu ditolak dan sulit laku mungkin karena masyarakat belum kenal dengan Bontings begitu memenangkan festival dan dipublikasi secara intens akhirnya semakin mudah masuk pasar,” terang pria yang sudah memiliki dua putra ini.
Seiring berjalannya waktu, Ansori menghimpun banyak pelanggan tak sejalan dengan omzet yang diterimanya. Sejumlah rekanan membandel. Tidak melakukan pembayaran sementara produk ludes terjual. “Akhirnya saya putuskan untuk buka outlet di Stalkuda. Sekalian penguatan image produk,” sahut Ansori. Pembukaan outlet diikuti dengan penerbitan kemasan yang diyakini mampu menarik animo.
Ia pun memutuskan membuka outlet kedua di bilangan Sepinggan. Di saat yang sama sebuah restoran dengan menu khas olahan kepiting juga dibuka. Setelah jumpalitan membangun bisnis hingga stabil di level yang diinginkan mendorongnya untuk bersantai sejenak. Ansori pun mempercayakan seorang manager untuk mengelola lini usaha sementara bersama keluarga, berkeliling Indonesia menikmati karunia Tuhan yang didapat. Dia terlena dengan segala yang sudah didapat. Usai menghabiskan kesenangan atas semua yang telah diraih saat itu pula sebuah kenyataan pahit menderanya.
Orang kepercayaannya kabur bersama seluruh uang miliknya. Ia nyaris bangkrut, tagihan menumpuk tanpa kemampuan bayar sedikit pun. Bahkan namanya masuk dalam daftar hitam perbankan yang berlaku selama 5 tahun. Untuk bisa bangkit kembali ia harus merelakan 2 unit rumah dan 4 motor dijual. Restoran yang baru seumur jagung pun ditutup. Ia pun memilih fokus pada bisnis abon kepitingnya. Dan benar saja, perlahan tapi pasti tepatnya akhir tahun 2014 sang pelopor abon kepiting kembali menapaki kejayaan.
Kini tepat di tahun 2015, produksinya terus meningkat mencapai 70 Kg yang habis dalam waktu 1 hari. Dari semula awal usaha hanya 10 Kg periode 3 hari. Bahkan karyawannya kini sudah mencapai lebih dari 50 karyawan.
Dengan keyakinannya fokus mengembangkan usaha Bontings nya, tahun ini empat toko dibukanya sampai akhir tahun ini. Pesanan dari luar daerha juga datang melalui website yang dibuka dengan bekerjasama jasa pengiriman.
Bagi anda yang tertarik dengan panganan khas Balikpapan seperti abon kepiting, stick kepiting dan produk Bontings lainnya bisa langsung datang atau pesan melalui websitenya.
MINGGU, 04 Oktober 2015
Jurnalis       : Ferry Cahyanti
Foto            : Ferry Cahyanti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...