Kualitas Panen Menurun, Petani Tembakau Cemas Harga Jual Anjlok

Petani tembakau, Sapurdin
YOGAKARTA — Sejumlah petani tembakau di dusun Kowang, Selomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, memasuki masa petik keempat panen tembakau. Namun sejumlah petani mulai cemas, karena di musim petik keeempat tersebut harga jual turun akibat kualitas panen tidak maksimal.
Ditemui di sela kesibukan panen tembakau, Selasa (13/10/2015), siang, Sapurdin (40)  petani tembakau dusun Kowang mengatakan, saat ini panen tembakau sudah memasuki masa petik keempat. Dari hasil panen sementara, harga jual tembakau kering menurun dibanding tahun sebelumnya.
 “Tahun kemarin, harga tembakau di musim petik keempat mencapai Rp 65 Ribu. Sekarang menurun jadi Rp 50-55 Ribu”, ujarnya.
Sapurdin menjelaskan, turunnya harga tembakau disebabkan kualitas tembakau tahun ini juga menurun. Hal itu karena minimnya curah hujan pada saat awal musim tanam tembakau. Minimnya curah hujan di awal musim tanam itu, menurutnya, menyebabkan tanaman tidak subur.
Minimnya curah hujan, kata Sapurdin, membuat kualitas daun tembakau tidak maksmimal. Daun kurang tebal, aroma kurang kuat dan warna daunnya pun tidak menarik. Kecuali itu, kandungan mringsi atau candu kurang pekat, sehingga rasanya pun kurang nikmat dan bobot daun juga kurang.
Padahal, kata Sapurdin, minimnya curah hujan saat musim tanam pada bulan Agustus kemarin, sudah diatasi dengan mensuplai air menggunakan pompa dan irigasi. Namun, segala upaya itu tidak bisa mengatasi kurangnya pasokan air.
Namun demikian, Sapurdin mengaku masih agak beruntung, karena di musim panen ini cuaca masih panas. Dengan begitu, semua daun tembakau bisa dipanen sampai pada petikan kedelapan nanti. Sapurdin yang sejak 12 tahun lalu menggantungkan hidup dengan menanam tembakau berharap, harga jual tembakau di musim petikan berikutnya bisa naik, agar keuntungannya tidak minim.
Dalam sekali petik, Sapurdin dibantu tujuh orang tenaga kerja mampu menghasilkan sebanyak 50-60 kilogram tembakau kering dari luas lahan 3,5 Hektar. Jika dirata-rata, sampai pada musim petik kedelapan nanti diperkirakan total panen tembakau kurang lebih 500 kilo. Dengan harga jual Rp 50 Ribu perkilo, Sapurdin akan mendapatkan hasil sebesar Rp 25 Juta.
“Padahal, modal yang saya keluarkan Rp 25 Juta. Karena itu, di musim petik keenam sampai kedelapan nanti saya berharap harga tembakau bisa naik, agar saya bisa untung”, pungkasnya. 
Penjemuran tembakau
SELASA, 13 Oktober 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...