Lahan Terbatas, Warga Tanam Sayuran dengan Pola Vertikulutur

Buah cabe

LAMPUNG — Keterbatasan lahan bukan menjadi suatu alasan untuk tidak dapat berusaha. Hal tersebut diterapakan oleh warga Desa Kedaung Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung. Mereka memanfaatkan pola penanaman sayuran dengan sistem vertikultur. 
Pola vertikultur dibuat dengan memanfaatkan papan kayu yang dibentuk menyerupai rak vertikal sebagai media meletakkan pot pot serta polibag dalam pananaman sayuran. Pola ini diisi dengan berbagai jenis sayuran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga selama musim.
Salah satu warga yang memanfaatkan pola penanaman sayur menggunakan tekhnik vertikultur tersebut diantaranya Yanti (36), yang menanam berbagai jenis sayuran dengan media kantong plastik bekas. Ia mulai menanam berbagai jenis sayuran di depan rumahnya setelah mendapat pelatihan dari kelompok pemberdayaan keluarga di desanya.
“Awalnya kami menanam dengan media polibag yang disusun di rak vertikal ini saat akan mengikuti lomba tanaman obat dan keluarga dan kemudian dikembangkan lebih banyak bukan hanya untuk lomba tapi karena bisa memenuhi kebutuhan keluarga,“ungkap Yati sambil menunjukkan tanaman cabai besar miliknya kepada Cendana News, Jumat (02/10/2015).
Yanti mengungkapkan, keluarganya hanya memiliki lahan seluas 300 meter persegi yang sebagian digunakan untuk bangunan. Hobi menanam bunga sekaligus sayuran tetap tersalurkan dengan menanam berbagai jenis sayuran menggunakan pot. 
Selain pot, kantung kantung plastik bekas dipergunakan untuk menanam sayuran jenis sawi, bayam, kucai, cabai, seledri, bawang merah, bawang putih, serta tanaman sayuran lainnya.
Selain itu, Yanti juga memanfaatkan media tanam berupa pipa pvc, bambu serta botol botol bekas yang dipergunakan untuk menanam berbagai jenis sayuran. Ia bahkan hanya mengeluarkan uang sekitar Rp100ribu untuk biaya tukang kayu membuat rak kayu sebagai tatakan meletakkan pot. 
Hasil dengan modal kecil tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bumbu dapur diantaranya tomat, bawang merah, cabai merah serta sayuran lain bisa dipenuhi dari tanaman yang ada di depan halamannya.
Yanti mengungkapkan keunggulan sistem menanam dengan vertikultur diantaranya tak memerlukan lahan luas,menghemat penggunaan air,memanfaatkan bahan tak terpakai bahkan jika bisa membuat media rak yang lebih bagus tanaman sayuran yang disusun rapi bisa menjadi hiasan di depan rumah dan yang paling utama bisa mengurangi biaya pengeluaran uang dapur.
“Kalau membeli di warung, bumbu bumbu dapur harganya cukup mahal tapi kalau menanam sendiri bisa memetik langsung dari hasil tanaman ini pengeluaran bisa dihemat untuk uang jajan anak,” ungkap Yanti.
Pemeliharaan tanaman yang sudah tumbuh subur tersebut bisa dirawat pada pagi dan sore hari, terutama untuk penyiraman. Bahkan Yanti mengaku, pemeliharaan pun bisa dilakukan juga oleh anak anaknya yang mulai menyukai ikut merawat tanaman sayuran dalam pot tersebut. Tekhnik menanam dengan model tersebut juga telah diikuti oleh warga lain yang memiliki lahan terbatas.
Upaya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari hari melalui tekhnik vertikultur ataupun tekhnik lain pemanfaatan lahan pekarangan dipuji oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kabupaten Lampung Selatan, Rini Ariasih. Sebelumnya dalam beberapa kesempatan Rini mengaku memberikan pemahaman kepada masyarakat pentingnya pemanfaatan lahan pekarangan untuk ketahanan pangan.
“Warga yang kreatif terus kita dukung dengan memberikan pelatihan serta bantuan bibit beberapa jenis sayuran yang cocok ditanam di pot karena penyediaan bahan pangan secara mandiri merupakan langkah yang positif”ungkap Rini.
Tekhnik vertikultur menurutnya merupakan salah satu cara upaya masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan di level bawah. Ia berharap pola penanaman sistem vertikultur juga diterapkan warga lain agar pemenuhan kebutuhan pangan warga bisa dipenuhi. BKP Lampung Selatan bahkan memberikan pelatihan pemanfaatan lahan sempit di beberapa desa untuk menjadi media tanam berbagai tanaman obat,sayur serta pangan di masyarakat pedesaan yang memiliki keterbatasan lahan.
Selain itu tambah Rini  tehnik penanaman dengan vertikultur tersebut lebih efesien dan bisa diterapkan oleh setiap warga yang ingin menerapkan di masing masing rumah tanpa menghabiskan lahan serta biaya yang cukup banyak. Selain itu pemanfaatan bahan bahan yang sudah tak terpakai bisa mengurangi pencemaran lingkungan.
“Vertikultur bisa dilakukan menggunakan media yang dibeli tapi bisa juga dibuat menggunakan bahan bahan bekas dan rata rata tidak sampai menghabiskan modal banyak yang penting niat dan kemauan warga,”ungkapnya.
Bahan bekas yang bisa dimanfaatkan tersebut diantaranya pipa pvc yang sudah tak terpakai,bungkus plastik serta papan papan kayu yang sudah tak terpakai untuk digunakan sebagai tempat meletakkan tanaman sayuran. Rini berharap ketahanan pangan yang dilakukan oleh warga tersebut bisa dilakukan dalam sekala besar di Lampung Selatan.
Pola Vertikulitur

JUMAT, 02 Oktober 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo

Lihat juga...