Laku Brata Kirab Budaya Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta

Peserta kirab siap diberangkatkan
YOGYAKARTA — Kesultanan Yogyakarta menggelar kirab mubeng beteng dalam rangka menyongsong tahun baru Jawa 1 Suro 1949 Jimawal. Kendati banyak masyarakat telah melaksanakan tradisi menyambut tahun baru Jawa pada hari sebelumnya, namun telah sejak lama pula Keraton Yogyakarta memiliki perhitungan hari atau kalenderisasi tersendiri.
Ratusan abdi dalem keraton dan ribuan warga berbagai daerah di Yogyakarta, mengikuti prosesi kirab tapa bisu mubeng beteng atau mengilingi benteng Keraton Yogyakarta, menyambut datangnya tahun baru Jawa, Suro. Prosesi ini diikuti ribuan warga berbagai daerah di Yogyakarta, Rabu (14/10/2015) malam.
Kirab brata budaya mubeng beteng keraton merupakan tradisi tahunan yang selalu diadakan sebagai sarana munajat dengan laku, merenungkan segala yang yang telah diperbuat setahun lalu, dan memohon agar diberi yang lebih baik di masa mendatang. Demikian diungkapkan Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH) Prabukusumo, penghageng Tepas KPH Widya Budaya Keraton Yogyakarta, dalam sambutannya, sebelum kirab diberangkatkan.
Gusti Prabu, demikian sapaan akrabnya, juga membabar perihal maksud digelarnya kirab brata mubeng beteng yang menurutnya penting sebagai sarana intropeksi diri. 
“Tapa bisu bukan berarti diam saja, tapi berdoa dalam hati agar diberi yang lebih baik di tahun depan”, ujarnya.
Dalam sambutannya pula, Gusti Prabu membabar, Kesultanan Yogyakarta didirikan pada tahun 1755 Masehi sebagai kerajaan Islam. Semenjak itu pula, jelasnya, leluhur Mataram telah membuat paugeran atau peraturan dan pranatan atau tata cara dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, KRT Gondohadiningrat, ketua panita mubeng beteng keraton menjelaskan, laku tapa bisu mubeng beteng keraton merupakan tradisi yang telah dilakukan sejak zaman Pajang Hadiningrat. Pada awalnya, jelas Kanjeng Gondo, laku mubeng beteng merupakan tradisi ronda malam para prajurit untuk menjaga keamanan kerajaan. Dalam aktifitas ronda itu, prajurit berdoa agar diberi keselamatan.
“Sekarang, tradisi itu menjadi laku tapa mubeng beteng. Dan, ini merupakan tanda bakti kawulo atau rakyat kepada negara NKRI berupa doa agar di tahun lebih sejahtera,” jelasnya.
Sesudah beberapa sambutan, prosesi lalu disambung dengan doa pengharapan. Beberapa saat kemudian, barisan abdi dalem segera bersiap membuat barisan. Lalu tepat tengah malam, ditandai bunyi lonceng brajanala, kirab mubeng beteng diberangkatkan.
Kirab brata mubeng beteng keraton, menjadi tanda bagi masyarakat Jawa telah memasuki tahun baru Jawa. Adapun penentuan hari bagi keraton memiliki kalender tersendiri. Karena itu, sebelum kirab mubeng beteng yang diadakan oleh abdi dalem keraton, sehari sebelumnya sejumlah masyarakat telah mengadakan kirab serupa. Namun demikian, Kanjeng Gondo mengatakan, jika perbedaan itu tak menjadi masalah.
Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah kelompok atau paguyuban pelaku budaya Jawa, telah menyelenggarakan tradisi kirab tapa bisu. Perbedaan waktu pelaksanaan ini, menurut Kanjeng Gondo, karena Keraton Yogyakarta memiliki kalenderisasi sendiri, yaitu Kalender Sultan Agungan. Perbedaan itu, katanya, juga sudah biasa terjadi.
“Keraton menggunakan kalender Sultan Agungan. Ini merupakan kalender yang dibuat Kanjeng Sultan Agung ketika menyatukan Kalender Hijriyah dan Kalender Jawa atau Saka. Maka memang dimungkinkan, terjadi perbedaan pada tahun-tahun tertentu”, jelasnya, sembari mengimbuhkan, Sultan Agung Hanyokrokusumo adalah raja besar Mataram ketika masih berada di Kotagedhe, Bantul, Yogyakarta, pada tahun 1613 Masehi.
Peserta kirab siap diberangkatkan

Prosesi sambutan GBPH Prabukusumo

Ribuan warga ikuti kirab mubeng beteng 

KAMIS, 15 Oktober 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...