Lestarikan Budaya, Kuda Lumping Sari Budoyo Hibur Masyarakat

Kuda Lumping Sari Budoyo
LAMPUNG — Sambut 1 Muharam 1437 H dan 1 Suro 1949 Jimawal, kelompok seni tari Kuda Lumping “Sari Budoyo” menghibur masyarakat di Dusun Sumbersari Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan, Lampung. Kelompok seni budaya jawa yang disebut dengan kuda lumping atau kuda kepang tersebut selain merayakan tahun baru juga merayakan hari ulang tahun kelompok seni tari tersebut yang ke-2.
Menurut ketua kelompok tari Kuda lumping Sari Budoyo, Nyoto, tarian kuda lumping masih dilestarikan di desa tersebut sebagai bagian dari budaya Jawa. Sebab kuda kepang masih sangat digemari masyarakat pedesaan. Atraksi tersebut merupakan bentuk rasa syukur setelah selama dua tahun berdiri serta mengharapkan agar musim hujan segera datang untuk membasahi bumi pertiwi yang masih dilanda musim kemarau.
“Kelompok kuda lumping Sari Budoyo ini sudah  berdiri sejak dua tahun lalu bertepatan dengan tahun baru jawa dan untuk merayakannya kami menghibur masyarakat di sini dengan menyajikan tarian kuda lumping bagi masyarakat di sini,”ungkap Nyoto kepada media Cendana News, Rabu (14/10/2015).
Nyoto mengaku “tanggap warso” atau ulang tahun yang memasuki tahun ke-2 kelompok tari kuda lumping tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih menyukai kesenian kuda lumping. Kelompok kuda lumping Sari Budoyo berdasarkan sejarahnya dibentuk di Dusun Sumbersari Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan pada tahun 2013 lalu dengan misi melestarikan kesenian kuda lumping yang sudah hampir punah dan kini mulai diminati kembali.
Meski diakui sebagai seni kuda lumping memiliki sisi magis namun tetaplah sebagai bagian budaya yang harus dilestarikan. Seni kuda lumping yang dipertunjukkan di lapangan dusun Sumbersari tersebut bahkan mampu menyedot penonton dari berbagai desa yang ada di Penengahan. Beberapa penari kuda lumping yang rata rata generasi muda bahkan terlihat bersemangat ditambah para penabuh musik dari kalangan generasi tua menambah kebersamaan dua generasi di desa yang mayoritas berprofesi sebagai petani tersebut.
Alunan gendang, terompet, gong yang dipadukan dengan musik dari alat musik elektone lengkap dengan tabuhan musik lain menghadirkan musik ritmis yang didiringi dengan nyanyian dari sang sinden membuat tarian kuda lumping semakin menarik. Penonton pun terkadang terhanyut dengan alunan musik dari sang sinden, bagi yang menyukai kuda lumping besar kemungkinan ikut kesurupan selama tarian kuda lumping dimainkan, sementara yang lain hanya menonton atraksi kuda lumping yang menarik untuk ditonton tersebut.
Antusiasme masyarakt tersebut juga dilihat oleh kepala desa SUmbersari, Kartini, sebagai bentuk perhatian masyarakat untuk melestarikan budaya terutama kesenian kuda lumping. Kartini mengaku di Desa Pasuruan selain kuda lumping juga memiliki kesenian camour sari yang merupakan paguyuban Keluarga Yogyakarta (PKY). Kesenian tersebut juga hingga kini masih dilestarikan di desa tersebut.
“Kami di desa ini mendukung berbagai bentuk kesenian yang bisa membawa kebersamaan dalam masyarakat dan ini merupakan hiburan yang murah meriah dan mampu menjangkau banyak orang,”ungkap Kartini.
Bahkan dengan mengambil tema “Menjalin Silaturahmi pelaku dan pecinta seni jaranan” pertunjukan kuda lumping juga mampu menjaga pecinta kuda lumping dari wilayah lain. Undangan bahkan diberikan kepada kelompok kelompok kesenian kuda lumping dari desa lain yang ikut menyaksikan dan berpartisipasi dalam kesenian kuda lumping tersebut. Pemerintah desa sebagai perpanjangan pemerintah daerah pun ikut memberikan dukungan terkait pelestarian budaya yang hingga kini masih dijaga tersebut.
“Atraksi tarian nanti juga akan semakin seru jika ada penari yang kesurupan setelah sang barongan atau singa barong keluar sebagai wujud pertempuran antara penunggang kuda kepang dan barong, selain itu atraksi makan kelapa dengan giginya, makan kaca, atau bergulingan di duri pohon salak  merupakan hiburan yang menarik untuk warga di sini,”ungkap Kartini.
Selain masyarakat yang hendak menonton, pertunjukan seni kuda lumping tersebut juga mengundang para pedagang yang memadati lokasi pertunjukan. Sebuah tenda didirikan khusus untuk undangan khusus yang berasal dari desa desa tetangga untuk menyaksikan serta merayakan HUT ke-2 kelompk tari Sari Budoyo tersebut. Cuaca panas menyengat bahkan tak mengurangi antusiasme warga yang menonton pertunjukan tersebut.
Pantauan Cendana News,  sesi pertama kuda lumping Sari Budoyo menampilkan kelompok pertama dari sekitar empat kelompok yang akan dimainkan hingga sore hari. Satu kelompok tarian akan menampilkan kuda lumping yang dimainkan oleh beberapa wanita. Sementara itu untuk mengantisipasi kesurupan seperti halnya permainan kuda lumping dengan berbagai atraksinya, beberapa tetua kampung yang dipercaya menjadi pawang pun sudah berjaga.
RABU, 14 Oktober 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...