Mahalnya Harga Tiket Penerbangan Antar Daerah di Papua

Salah satu base pesawat perintis di bandara Sentani, Kabupaten Jayapura
JAYAPURA — Jalur Transportasi yang menghubungkan antar satu daerah kedaerah lainnya di provinsi Papua sebagian besar ditempuh menggunakan pesawat terbang, melalui jalur lintas udara. Namun, kondisi ini sangat memprihatinkan. Pasalnya, biaya yang dikeluarga masyarakat cukup besar.
Salah satu contoh, jika ingin berkunjung ke kabupaten Serui, dengan titik keberangkatan dari bandara Sentani, Kabupaten Jayapura. Pengguna jasa menggunakan pesawat perintis ke kabupaten Biak dan selanjutnya melanjutkan perjalanan udara gunakan pesawat yang sama atau berbeda ke kabupaten Serui. Sekali perjalanan tersebut, dapat merogoh kocek sebesar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta.
Sama halnya penerbangan menuju ke daerah pegunungan tengah, seperti dari bandara Sentani tujuan bandara Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, harga tiket mencapai Rp 2,5 juta. Harga tersebut dua kali lipat lebih mahal ketimbang terbang dari bandara Soetta, Jakarta tujuan Singapura atau Kuala Lumpur, Malaysia.
Menyikapi hal tersebut, anggota komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), Yan Permenas Mandenas mengatakan harga tiket belakangan ini melonjak mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 7 juta untuk penerbangan keluar maupun penerbangan lokal antar kabupaten di Papua, secara khusus kedaerah pedalaman.
“Ini harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku keputusan di daerah ini. Saat saya jadi anggota dewan periode lalu dan bidangi hal ini. Saya fasilitasi lakukan pertemuan dengan pimpinan cabang maskapai penerbangan lokal dan nasional untuk membahas soal harga tiket yang memberatkan masyarakat dan akhirnya ada solusi, harga tiketnya sesuai aturan ambang bawah dan ambang atas,” kata Yan, Selasa (13/10/2015).
Ia mengungkapkan, penerbangan dari Biak ke Serui menggunakan pesawat kecil, dengan jarak tempuh kurang lebih 20 menit, tetapi harga tiketnya bisa mencapai Rp 1 juta dan harga ini sangat memberatkan masyarakat.
“Bagaimana suatu daerah mau maju, kalau penerbangannya saja masih mahal. Kalau saya lihat manajemen penerbangan Susi Air masih yang terbaik, saya kira hal itu perlu dicontohi oleh penerbangan perintis lainnya,” ungkapnya.
Hanya saja, maskapai tersebut masih mematok harga tiketnya diluar dari kemampuan masyakarat ekonomi bawah. Menurutnya, ada baiknya managemen perusahaan penerbangan yang ada di Papua memperhatikan harga tiket untuk kalangan menengah kebawah.
“Kan kalau ada pesawat didaerah, sudah pasti ada subsidi dari pemerintah setempat, tapi ini kok malah tidak ada efek ke harga tiket? jangan terlalu mahal agar masyarakat juga bisa merasakan harga tiket murah seperti di daerah lainnya di Indonesia,” tuturnya.
Menurutnya, selain harga tiket, pihak maskapai penerbangan yang ada di Papua, wajib mengevaluasi pesawat-pesawat mereka yang sudah lama dan tidak layak pakai. Untuk menghindari adanya kecelakaan udara, yang kerap terjadi di Papua.
“Layak atau tidak layaknya pesawat terbang perintis di Papua itu harus dievaluasi. Apakah sudah sampai batas pemakaiannya atau sudah seharusnya dilakukan perawatan atau dihentikan, ganti yang baru,” kata Ketua DPD partai Hanura Provinsi Papua ini.
SELASA, 13 Oktober 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Foto            : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...