Maknai Sumpah Pemuda dengan Mencintai Produk Dalam Negeri

Nanang Wahyu Prajaka
MALANG — Sumpah Pemuda merupakan peristiwa penting dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh dilupakan oleh masyarakat, khususnya para pemuda Indonesia. Karena pada peristiwa yang terjadi pada tanggal 27- 28 Oktober 1928 tersebut, para pemuda pemudi Indonesia dari berbagai daerah bersatu untuk melakukan kongres dan menghasilkan sebuah rumusan yang ditulis oleh Mohammad Yamin yang kemudian menjadi tonggak utama bangkitnya semangat dalam melakukan pergerakan kemerdekaan.
Sedemikian pentingnya peristiwa tersebut bagi bangsa Indonesia sehingga setiap pada tanggal 28 Oktober dilakukan upacara untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. 
Namun Pimpinan redaksi Pers Mahasiswa (PERSMA) Fakultas Pertanian, Nanang Wahyu Prajaka menilai kebanyakan anak muda zaman sekarang sudah tidak lagi seratus persen mampu mengamalkan isi dari Sumpah Pemuda.
“Bagaimana bisa mengamalkan, kalau mereka saja banyak yang sudah tidak hafal dengan isi Sumpah Pemuda,”jelasnya. 
Dia juga menyayangkan banyak anak muda yang kini hidup di era moderen lebih suka dan bahkan merasa bangga jika mereka mampu membeli dan menggunakan produk dari luar negeri daripada menggunakan produk dalam negeri.
Selain itu, mereka sekarang lebih sering menggunakan bahasa gaul seperti yang sering kita dengar akhir-akhir ini “loe gue end”.
“Kalaupun mereka menggunakan bahasa Indonesia, namun bahasa Indonesia yang mereka gunakan bukanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar,” terangnya.
Hal-hal seperti itu tentunya sudah tidak sesuai lagi dengan isi Sumpah Pemuda yang mengutamakan kecintaan terhadap tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia.
Mereka mungkin lupa bahwa mereka bisa hidup dengan nyaman tanpa harus takut di tembak oleh penjajah seperti sekarang ini berkat jasa para pahlawan yang rela mengorbankan nyawanya demi kemerdekaan Indonesia.
Mohammad Yamin dulu yang hidup di zaman penjajahan, penuh tekanan dan tentu kondisinya tidak senyaman seperti sekarang ini saja mampu membuat sebuah karya atau pemikiran yang dahsyat sehingga dapat membawa pengaruh besar terhadap bangsa Indonesia hingga sekarang. Namun kenapa para pemuda yang berada di zaman sekarang yang serba ada, serba canggih, tidak perlu melawan penjajah, hanya tinggal menikmati kopi, bermain laptop dan internet, justru hanya sedikit pemuda yang bisa memberikan sebuah karya yang mampu membawa bangsa Indonesia lebih maju dan berkembang. 
Nanang mengharakan, peringatan tersebut dapat membuat pemuda pemudi Indonesia termasuk dirinya memberikan sebuah karya atau prestasi yang bisa membuat bangsa Indonesia lebih baik lagi.
“Jika tida bisa memberikan sebuah karya atau prestasi, setidaknya kita bangga menggunakan produk dalam negeri dan mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar,”harapnya.
JUMAT, 30 Oktober 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Foto            : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...