Masjid Asasi, Peninggalan Bersejarah Penyebaran Islam di Minangkabau

Masjid Asasi tampak dari luar
PADANGPANJANG — Sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Indonesia, Provinsi Sumatera Barat menyimpan berbagai peninggalan yang mengisyaratkan kuatnya penyebaran agama, dan penerimaan masyarakat. Salah satu buktinya, Masjid Asasi yang terletak di Sigando, Nagari Gunuang, Padangpanjang.
Menurut masyarakat setempat, Masjid ini usianya sudah lebih dari 300 tahun. diperkirakan, dibangun pada tahun 1770. Bangunan kuno ini merupakan Masjid tertua di Kota Serambi Mekkah Padang Panjang yang berdiri kokoh di tanah seluas 25X20 meter.
Masyarakat meyakini, Asasi berasal dari kata Asa (bahasa Minang) yang bermakna asal atau awal dalam bahasa Indonesia. Masjid ini didirikan secara bergotong-royong oleh oleh masyarakat Nagari Nan Ampek Jurai keturunan dari empat pasang suami istri yang datang dari lereng Gunung Merapi Nagari Pariangan Padang Panjang.
Menurut cerita masyarakat setempat, keempat pasang suami istri yang dianggap sebagai nenek moyang masyarakat Nagari Gunuang itu tiba di tanah yang tak bertuan dan kemudian membagi wilayah tersebut menjadi 4 jurai.
Meski sudah beberapa kali dipugar, masih banyak bagian bangunan yang terlihat asli. Seperti bagian atap masih berbentuk limas sejak dahulu, walau atapnya sudah berganti dengan bahan seng. Ukiran-ukiran yang terpatri pun tampak begitu mengagumkan sehingga tak jarang wisatawan sering mengabadikan keelokan bangunan ini dengan kameranya masing-masing.
Salah satu pengunjung dari Kota Payakumbuh, Fikar, terpukau dengan peninggalan sejarah ini. Ia sudah lama mendengar tentang masjid ini, namun baru akhir pekan ini berkesempatan mengunjungi.
“Saya sudah lama mendengar kecantikan Masjid ini, kebetulan tugas kuliah sedang mencari masjid yang bersejarah. Dan baru sekarang sempat berkunjung,” ujarnya, pada Cendana News, Sabtu (3/10/2015).
Seperti halnya Masjid kuno lainnya di Sumatera Barat, Masjid ini didirikan dengan sistem pasak tanpa paku dengan sembilan tiang utama. Untuk memasuki Masjid, kita akan bisa melihat ukiran penuh corak khas Minangkabau.
Mulai dari ukiran itiak pulang patang, ukiran kaluak paku dan ukiran khas Minang Kabau lainnya. Di dalam Masjid ini, akan bisa dilihat dominasi warna coklat kayu berbalut warna keemasan hingga membuat Masjid ini tampak begitu cantik. Apalagi, di bagian luar juga masih ada Bedug kuno yang masih berfungsi dengan baik hingga saat ini.
Mimbar masjid
SABTU, 03 Oktober 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Foto            : Muslim Abdul Rahmad
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...