Masjid Wotgaleh Yogyakarta Warisan Abad 17 Masehi Direnovasi

Masjid Sulthoni Wotgaleh di Sendangtirto
YOGYAKARTA — Masjid Sulthoni Wotgaleh di Sendangtirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta, merupakan bangunan cagar budaya yang dilindungi. Masjid kagungan ndalem atau milik Keraton Yogyakarta berbentuk limasan, khas arsitektur Jawa. Sejak dua pekan ini, masjid yang juga diyakini keramat tersebut direnovasi.
Masjid Sulthoni Wotgaleh, sudah sangat terkenal di Yogyakarta. Letaknya berada sangat dekat dengan kawasan Bandara Udara Adisucipto, Yogyakarta. Sejak tahun 1950, masjid itu pernah hendak dipindahkan karena ada perluasan kawasan bandara dan komplek Akademi Angkatan Udara yang juga berada di kawasan yang sama. Namun, tidak seorang pun berani memindahkan.
Di sebelah selatan masjid itu, ada komplek makam Pangeran Purbaya, tokoh sakti masa lampau, putra raja pertama Mataram Hadiningrat, Panembahan Senopati (1587-1601 M). Pangeran Purbaya dijuluki Banteng Mataram, karena kiprah hebatnya di medan perang.
Bidron Darsono, takmir masjid setempat ditemui Minggu (11/10/2015) mengatakan, masjid itu dibangun pada tahun 1460 Masehi abad ke-17. Sejak sebelum pendudukan Jepang, katanya, kawasan Masjid Wotgaleh merupakan komplek pesantren dan menjadi pusat perkembangan agama Islam yang sangat besar. Namun seiring dengan perubahan zaman, kawasan Masjid Wotgaleh berubah total. 
“Terutama sejak ada pembangunan bandara, sehingga banyak pemukiman sekitar masjid dipindahkan”, ujarnya.
Pada awalnya, kata Bidron, Masjid Wotgaleh hanya seluas 10×10 meter persegi. Namun kendati hanya masjid kecil dan jauh dari pemukiman warga, masjid tersebut selalu dipenuhi jemaah setiapkali tiba waktu solat fardhu. Apalagi, ketika solat jumat.  
“Karena semakin banyaknya jemaah, sejak tahun 1979 masjid itu mulai direnovasi”, kata Bidron.
Dikisahkan Bidron, renovasi pertama masjid itu sangat berkesan. Waktu itu, katanya,  masjid mendapatkan bantuan dana sebesar Rp 7 Juta dari Bina Graha Jakarta. Renovasi itu hanya meninggikan pintu setinggi 40 centimeter. Lalu, pada tahun 2010, renovasi masjid mulai ditujukan untuk pelebaran masjid dengan membangun sayap selatan. Tahun 2012 renovasi dilakukan lagi dengan memperbaiki atap dan perluasan masjid serta penataan lingkungan yang dikerjakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman.
Sebagai masjid cagar budaya, jelas Bidron, pemugaran masjid tidak merubah bentuk asli bangunan yang berupa limasan. Setiap renovasi sekecil apa pun harus mendapat izin dari Pengageng Sriwandowo Keraton Yogyakarta selaku pemilik dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman sebagai pihak berwenang. “Seperti renovasi yang saat ini sedang dilakukan”, ujarnya.
Renovasi Masjid Wotgaleh yang direncanakan selesai dalam waktu dua bulan ini, menurut Bidron, dilakukan untuk perluasan serambi masjid. Dari yang semula hanya 14×12 meterpersegi menjadi 20×15 meterpersegi. Perluasan itu karena jemaah yang terus membludak. Apalagi, pada waktu solat Jumat berjamaah. 
Bidron mengatakan, saat ini renovasi yang dikerjakan menelan dana hampir Rp 100 Juta. Anggaran tersebut, menurutnya, berasal dari dana infak jemaah masjid. “Sebagian dari dana tersebut dicarikan dengan meminjam uang di Bank Syariah atau BMT, yang pembayaran angsurannya diambilkan dari infak jemaah”, terang Bidron.
Sementara itu, pelaksanaan renovasi perluasan serambi dilakukan dalam dua tahap. Pertama, pemasangan lantai dan kedua pemasangat atap. Kw depan, kata Bidron, pihaknya juga akan membangun pagar keliling, agar keamanan lebih terjamin dan dari segi estetika juga lebih indah dengan bentuk pagar khas Keraton Jawa. 
“Masjid Wotgaleh ini adalah kagungan ndalem, yang pada awalnya merupakan tanah pemberian Keraton kepada putra Pangeran Purbaya. Wotgaleh itu dari kata wot ing penggalih. Artinya, jembatan hati menuju ketenteraman. Maka tidak heran kalau banyak orang sengaja datang ke masjid untuk menyepi dan membersihkan diri dengan laku tirakat di masjid”, pungkasnya. 

MINGGU, 11 Oktober 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...