Masyarakat Keluhkan Pengerjaan Infrastruktur Jalan yang Asal Jadi

Jalan yang rusak

LAMPUNG — Pengerjaan sejumlah proyek pembangunan infrastruktur milik Dinas Pekerjaan Umum (PU) Lampung Selatan (Lamsel) Provinsi Lampung dinilai asal-asalan dengan mengejar waktu cepat selesai tanpa memperhatikan kualitas. Hal tersebut menurut warga cukup beralasan, sebab pembangunan infrastruktur tersebut merupakan kebutuhan vital masyarakat dan menyedot anggaran yang sangat besar, tapi justru kenyataannya terindikasi sarat dengan penyimpangan.
Beberapa proyek yang bernilai ratusan juta bahkan milyaran rupiah diduga sarat dengan penyimpangan, seperti proyek peningkatan jalan Lantasir di Desa Rawi sampai Desa Padan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan, yang dikerjakan oleh CV.  Dua Saudara Putri.  Berdasarkan waktu yang terpasang di papan pengerjaan proyek, belum dua bulan selesai dikerjakan jalan sudah mulai bergelombang dan rusak  karena kualitas material tidak memadai dan aspal terlalu tipis.
Selain itu, pengerjaan jalan tembus simpang Kelalah Desa Sumur Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan, yang dikerjakan oleh CV. Sinar Jaya dengan nilai kontrak sebesar Rp 592,120,000.(lima ratus sembilan puluh dua juta seratus dua puluh ribu rupiah). Berupa pengerjaan jalan cor sepanjang 150 meter,  pengerasan 400 meter,  dan lapen 900 meter.
Pantauan  Cendana News, di lapangan hanya menemukan para pekerja dan ketika mau konfirmasi tidak ada yang bisa dimintai keterangan. Mereka beralasan tak memiliki kewenangan untuk menjawab pertanyaan media.
“Kami hanya pekerja, untuk lebih jelas silahkan hubungi yang berkompeten untuk menjawabnya” ungkap salah satu pekerja, Kamis (15/10/2015).
Selain penuturan pekerja, Cendana News, melakukan konfirmasi dengan warga sekitar di lokasi proyek pembangunan tersebut. Penuturan warga setempat yang bernama Rendy Antoni  mulai dari jalan cornya tidaklah pantas dikatakan jalan cor,  tapi lebih pantas dikatakan pemelesteran jalan.  Bagaimana tidak di tengah badan jalan yang dikerjakan ditimbun batu kerikil atau batu split,  lalu ditimpah adukan semen diatasnya lagi yang ketebalannya hanya beberapa centi meter saja.
“Sedangkan untuk pemadatan jalan hanya dipasang batu belah yang tidak beraturan lalu diwerles dan ditabur kerikil pasir, sehingga nantinya apa bila datang musim hujan dikhawatirkan semua kerikil pasir dan batu akan hanyut,” ungkapnya.
Selain itu, ia mengungkapkan kondisi jalan lapennya terindikasi dikerjakan asal jadi, dengan aspal yang sangat tipis,  lalu ditabur kerikil pasir juga, sehingga dengan kasat mata sekilas pekerjaan akan terlihat rapih dan bagus padahal kalau dicermati dan diperiksa sangatlah amburadul, dan dari sisi lain bisa diduga juga bahwa terindikasi praktek korupsi di dalam merealisasikan proyek milik Dinas PU Lampung Selatan.
“Kuat dugaan juga pengerjaan proyek proyek itu tidak sesuai dengan spesifikasi di kontrak,  dan yang perlu sangat diperhatikan adalah sikap Dinas PU nantinya,  apakah akan menerima Finish Hand Over proyek-proyek yang bermasalah tersebut,”keluh Rendy.
Keluhan soal kondisi pembangunan infrastruktur jalan, jembatan yang terkesan tidak memperhatikan kualitas juga tak hanya terjadi di wilayah tersebut. Di Desa Klaten Kecamatan Penengahan Lampung Selatan, akibat mutu pembangunan jembatan yang kurang sempurna mengakibatkan jembatan tersebut jebol. Jebolnya jembatan bahkan sudah berlangsung hampir setahun dan belum mendapat perhatian dari instansi terkait untuk proses perbaikan.
“Sudah hampir setahun dan kendaraan roda empat yang akan melintas terpaks berhati hati akibat sisi jembatan sudah ambrol dan terpaksa menggunakan kayu kelapa,”ungkap Badiman warga Klaten.
Kerusakan yang terjadi mulai dari pondasi akibat gerusan air sungai kecil menurut Badiman menjadi salah satu faktor semakin cepat rusaknya jembatan tersebut. Selain itu rekanan yang membuat jembatan tersebut kurang memperhatikan kualitas bangunan yang berada di aliran air.
“Setidaknya komposisi semen atau pasirnya lebih diperbanyak namun ini belum setahun saja sudah ambrol jadi perlu dipertanyakan kualitasnya,”keluhnya.
Ia berharap agar pengerjaan sarana infrastruktur untuk kepentingan umum jangan hanya mengejar cepat selesai dengan mengkesampingkan kualitas. Sebab pengerjaan yang akhirnya rusak sama saja menghabiskan anggaran yang notabene merupakan uang rakyat. Untuk melewati jalanan tersebut warga bahkan terpaksa harus saling menunggu saat berpapasan di jalanan tersebut.
KAMIS, 15 Oktober 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...