Melihat Langsung Lapas Narkotika Kabupaten Jayapura


CATATAN JURNALIS—Indonesia darurat narkoba, demikian yang sering didengar, Setiap hari ada sajian berita tentang ditangkapnya para pengedar narkotika baik skala kecil maupun besar bahkan bandar kelas kakap. Hukuman mati yang diberlakukan oleh pemerintah Indonesia bagi para pengedar narkoba seolah belum mampu menjadi momok mengerikan bagi pebisnis barang haram ini. 
Demikian juga berita kematian dikarenakan OD (Overdosis) juga tidak menjadi kengerian tersendiri bagi mereka yang masih menikmati kehancuran masa depannya karena narkotika. Pun demikian dengan hukuman penjara, karena bagi sebagian mereka, masih mendapatkan kesempatan untuk direhabilitasi. 
Jika pengguna dan pengedar tak juga jera dengan penjara dan bandar tak juga jera dengan hukuman mati, maka BNN yang diketuai Budi Waseso memang memiliki beban luar biasa berat dan besar dalam memberantas peredaran narkotika di negeri tercinta, Indonesia. 
Apakah kondisi Lapas Narkotika sebegitu nyaman sehingga mereka tak jera melakukan kesalahan yang sama? Berikut liputan khusus Cendana News di  Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Klas IIA Doyo, Sentani, Kabupaten Jayapura yang dilakukan pada hari Selasa (20/10/2015). Jika kondisi Lapas yang sangat mengerikan dan menjijikkan ini tak juga memberikan efek jera, maka apa yang sebenarnya bisa membuat jera para penjahat narkotika yang masih bebas berkeliaran.
Lapas yang memiliki daya tampung 308 orang tersebut kini dihuni oleh 174 tahanan yang terdiri dari tahanan laki-laki sebanyak 158 orang dan 17 orang tahanan wanita dengan 26 petugas Lapas yang dibagi dalam beberapa regu dimana masing-masing regu maksimal terdiri dari 6 personil. Menurut Basri, salah satu petugas Lapas, jumlah petugas tidaklah sebanding dengan jumlah tahanan, itu sebab mereka mengaku kewalahan. Maka ia mengharapkan adanya fasilitas berupa CCTV untuk membantu petugas Lapas menjalankan tanggung jawabnya mengawasi para tahanan. 
Basri menambahkan, kemarau yang panjang sekarang ini mempengaruhi kondisi 4 sumur bor yang dimiliki oleh Lapas. Normalnya, 4 sumur bor tersebut mampu memenuhi kebutuhan air bersih bagi seluruh penghuni Lapas. Tetapi ketika sumur kering maka harapan satu-satunya adalah air yang diperoleh dari saluran PDAM, tetapi itu pun keluarnya jarang. Sehingga kebutuhan air bersih sulit didapat sekarang ini. 
Ada protes dari salah satu tahanan yang enggan dituliskan namanya bahwa mengapa ada perbedaan kondisi tahanan antara sel mereka dan sel para koruptor yang fasilitasnya serba maksimal, ada tv, dapur dan kipas angin. Ia mengaku tak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi sel yang sangat buruk ini, ia pun menjelaskan kondisi kamar mandi yang tak lagi layak pakai, atapnya bolong dan tanpa dinding pembatas. 
Baca Juga
Jika kondisi sel untuk tempat tinggal tahanan saja begitu memprihatinkan, apalagi kondisi sel isolasi, sel yang khusus dibuat untuk memberikan hukuman bagi tahanan yang melakukan kesalahan di dalam Lapas. Ruangan berukuran 6 m x 3 m ini dibagi menjadi 3 ruangan dengan kondisi yang sangat menjijikkan karena dipenuhi sampah dan genangan air. Aroma tentu sangat tak sedap di ruangan ini dan lalat lalu lalang dengan bebasnya, demikian juga semut merah dalam jumlah sangat banyak di hampir setiap sudut ruangan.
Atas nama hak asasi manusia, para tahanan ini ingin mendapatkan sarana yang lebih layak karena mereka bukanlah binatang ternak, mereka adalah manusia yang dalam perjalanan hidupnya melakukan kesalahan sehingga harus dihukum dengan dijebloskan ke Lapas Narkotika Klas IIA Doyo, Sentani, Kabupaten Jayapura ini. 
Salah satu penghuni ruang isolasi tersebut adalah seorang tahanan titiipan kejaksaan berinisial AR. Tangannya dirantai, wajahnya tertunduk menyembunyikan memar di wajahnya. Pengakuan AR memar di wajahnya karena ia diduga akan melarikan diri sehingga petugas Lapas memukulnya. Ketika Cendana News mendekatinya, AR mengaku dadanya sakit karena pukulan yang dialaminya. Ia hanya bisa meratapi dirinya yang harus menerima kenyataan pahit bahwa sekarang ini ia harus tidur di sebuah ruangan lembab yang lebih tepat disebut dengan tempat sampah. 
Perihal kebersihan Lapas, Basri menjelaskan bahwa pihaknya sudah rajin membersihkan tetapi tahanan yang tidak mau disiplin menjaga kebersihan. Khusus mengenai kondisi ruang isolasi, Basri menegaskan bahwa saat memasukkan AR, kondisi ruang isolasi bersih, tapi AR tidak menjaga kebersihan ditambah lagi tahanan lain dengan seenaknya membuang sampah ke ruang isolasi. Pertanyaannya, jika tangan AR dirantai, bagaimana ia bisa membersihkan ruangannya?
Foto selengkapnya kondisi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Klas IIA Doyo, Sentani, Kabupaten Jayapur. Baca Kondisi Lapas yang Menjijikkan Tidakkah Cukup Membuat Jera?
RABU, 21 OKTOBER 2015
Penulis : Indrayadi T. Hatta
Foto : Indrayadi T. Hatta
Editor : Sari Puspita Ayu
Lihat juga...