Melihat Lebih Dekat Jejak Keberhasilan Soeharto di Museum Kepresidenan

Presiden Soeharto berjabatan tangan dengan tokoh anti Apartheid Afrika Selatan, Nelson Mandela
JAKARTA — Pada tanggal 18 Oktober 2014 yang lalu, Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia waktu itu telah meresmikan museum yang dinamakan Museum Kepresidenan Balai Kirti. Museum ini mulai dibangun pada tahun 2012, dan selesai pembangunannya pada akhir Agustus 2014, namun pada pertengahan bulan November, museum tersebut baru dibuka untuk umum.
Museum Kepresidenan Balai Kirti berada di dalam komplek Istana Bogor, Jawa Barat, sedangkan untuk pintu keluar – masuk museum harus melewati samping Gereja, dan tentu saja sebelumnya harus meminta izin kepada pihak berwenang. Karena bagaimanapun letak museum tersebut berada di lingkungan Istana Kepresidenan yang mendapatkan pengawalan ketat dari pihak keamanan.
Cendana News berkesempatan mengunjungi Museum Kepresidenan Balai Kirti bersama rombongan Pengurus Yayasan Harapan Kita dan rombongan Pengurus Taman Mini Indonesia Indah ( TMII ), yang kebetulan baru saja selesai mengadakan kegiatan Rapat Kerja Nasional ( Rakernas ) di Hotel Salak, yang letaknya berdekatan dengan Istana Bogor.
Museum tersebut dinamakan ” Kirti ” , yang artinya dalam bahasa Sansekerta yaitu amal atau tindakan yang membawa kemasyuran, pengertiannya Balai Kirti adalah sebuah bangunan tempat untuk mengenang berbagai benda dan peristiwa bersejarah peninggalan perjalanan panjang para pemimpin ( Presiden ) Republik Indonesia terdahulu.
Museum tersebut memiliki tiga lantai, lantai pertama adalah ruangan Galeri Kebangsaan, yang berisi antara lain Sumpah Pemuda, Naskah Proklamasi, Lambang Negara Pancasila, Undang – Undang Dasar 1945 dan enam patung mantan Presiden Republik Indonesia, mulai Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarno Putri hingga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Mengunjungi museum tersebut rasanya seperti mengenang kembali sejarah para pemimpin bangsa Indonesia yang telah banyak berjasa untuk negara ini, salah satunya adalah Presiden ke-2 Republik Indonesia H.M. Soeharto. 
Pak Harto, begitu nama panggilan akrabnya, telah dinobatkan sebagai Bapak Pembangunan Nasional dan tercatat dalam sejarah sebagai Kepala Negara terlama yang pernah memimpin bangsa Indonesia, yaitu selama 32 tahun.
Dibawah kepemimpiman Soeharto, secara bertahap bangsa Indonesia berubah dari negara yang tertinggal menjadi negara berkembang pesat dalam pembangunan di segala bidang.
Bangsa Indonesia berubah menjadi bangsa yang disegani dan patut disejajarkan dengan bangsa – bangsa lainnya di dunia. Di bawah kepemimpinan Pak Harto, Indonesia mulai diperhitungkan dalam percaturan ekonomi, sosial, politik dan pertahanan keamanan di dunia internasional.
Salah satu buktinya, di era kepemimpinan Presiden Soeharto pada waktu itu, Indonesia pernah mendapatkan piagam penghargaan dari Food & Agricultural Organization ( FAO ), sebuah Badan Perserikatan Bangsa – Bangsa ( PBB ) yang mengurusi masalah pangan.
Indonesia dinilai telah berhasil mengubah ” predikat ” sebelumnya sebagai negara pengimpor beras terbesar menjadi negara pengekspor beras terbesar di dunia, sehingga mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. 
Presiden Soeharto pada waktu itu telah mendapatkan simpati dunia internasional, karena telah memberikan bantuan sumbangan sekitar ” 100.000 ” ton gabah kering kepada negara – nagara di benua Afrika pada waktu itu yang sedang dilanda kelaparan hebat.
Di ruangan Museum H.M. Soeharto yang ada dilantai dua Museum Kepresidenan Balai Kirti yang berada di Istana Bogor, dipamerkan bukti Piagam Penghargaan dari FAO yang pernah diterima Presiden Soeharto. Namun sayang, semua pengunjung tanpa terkecuali, termasuk Cendana News ” dilarang keras ” memotret seluruh ruangan keenam mantan Presiden tersebut, termasuk ruangan Museum H.M. Soeharto.
Fransiska, salah satu pelajar saat ditemui Cendana News di Museum Kepresidenan Balai Kirti mengatakan bangga pernah memiliki seorang pemimpin yang disegani dan diakui oleh berbagai negara.
“Sebagai warga negara Indonesia, saya bangga kapada Pak Harto yang pernah mendapatkan pengakuan internasional berupa Piagam Perhargaan dari FAO,” terangnya.
Fransiska menambahkan, sepengetahuannya tidak banyak kepala negara di dunia yang pernah mendapatkan Piagam Perhargaan bergengsi seperti itu, semoga keberhasilan Pak Harto menginspirasi para pelajar untuk meraih prestasi, baik untuk level nasional maupun level internasional.
“Keberhasilan Pak Harto merupakan inspirasi untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara,” pungkasnya mengakhiri pembicaraan.
Patung Soeharto

Patung Presiden NKRI

Teks Proklamasi, Lambang Negera dan teks Pancasila
JUMAT, 30 Oktober 2015
Jurnalis       : Eko Sulestyono
Foto            : Eko Sulestyono
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...