Minim Perhatian, Volume Sampah Terus Bertambah di Pasar Ruteng

Pasar Ruteng
FLORES — Kondisi lokasi Pasar Ruteng di Kabupaten Manggarai, Flores, NTT saat ini tampak sangat memprihatinkan. Terus bertambahnya volume sampah di tempat ini antara lain menjadi persoalan besar yang membuat aktivitas transaksi tidak lagi dirasa nyaman. Warga sangat menyayangkan hal ini karena semestinya tidak terjadi di tempat banyak orang berbelanja kebutuhan.
Salah seorang warga, Rafael Taek kepada Cendana News mengatakan, pasar sebenarnya bisa menjadi tempat bagi masyarakat menemukan suasana yang menghibur. Hal tersebut bisa diciptakan dengan upaya menata lokasi pasar sebagai tempat yang rapi dan bersih. Terus meningkatnya volume sampah di area Pasar Ruteng, bagi dia, merupakan persoalan serius yang sangat mengganggu kenyamanan para pengunjung pasar.
“Pasar sebenarnya juga bisa jadi tempat hiburan. Kita ‘kan bisa ketemu banyak orang di sini. Itu kita bisa buat kita boleh sampai main jam di sini. Tapi saya lihat Pasar Ruteng itu sudah kotor sekali. Ini mungkin pasar paling bau yang pernah saya lihat. Jadinya sangat tidak nyaman kalau sampai lama-lama di sini. Siapa yang bisa tahan dengan bau busuk seperti ini,” ungkap Taek di Pasar Ruteng, Jumat (23/10/2015).
Hal serupa diungkapkan pula oleh Liani, seorang ibu yang didapati Cendana News sedang berbelanja di pasar tersebut.  Dirinya sangat memuji ketahanan diri para pedagang yang setiap hari berjualan di tempat tersebut. 
“Mungkin karena belum terbiasa ya. Saya lihat ‘kan, mereka yang jualan di sini, apa tidak rasa aneh ya? Kalau di tempat jual ikan itu, baunya ‘kan minta ampun. Itu karena mereka tidak jaga baik itu tempat. Air ikan, buang saja di situ. Begitu pula saya lihat di beberapa titik lain, apa-apa buang saja sembarangan,” ujarnya.
Sementara itu, sejumlah pedagang yang dimintai tanggapan terkait dengan hal ini mengungkapkan, pihaknya sangat mengharapkan ada perhatian yang lebih serius lagi terhadap kondisi pasar tersebut. Bertumpuk-tumpuknya sampah di Pasar Ruteng, diakui salah seorang penjual ayam potong, merupakan dampak dari kurangnya perhatian para petugas sampah.
“Petugas sampah sebenarnya ada. Makanya tiap bulan itu kita bayar uang sampah. Itu di luar retribusi, pak. Tidak apa-apa, yang penting bersih. Tapi kalau datangnya tidak tiap hari jadinya ‘kan begini. Sampah kita lihat ada di mana-mana. Memang ada tong sampah, tapi terlalu jauh, pak. Kami tidak mungkin lepas barang jualan,” tutur Aleks.
Aleks sendiri mengakui, dirinya pasrah pada keadaan yang ada. Sudah berulang-ulang sebenarnya persoalan ini disampaikan kepada pihak pemerintah, tapi sejauh ini belum ada respon positif yang diharapkan. 
“Sama saja, pak. Pemerintah sudah tahu ko, pak. Kita tunggu saja. Entah sampai kapan pemerintah mau lihat tempat ini,” celotehnya kecewa. 

JUMAT, 23 Oktober 2015
Jurnalis       : Fonsi Econg
Foto            : Fonsi Econg
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...