Moda Transportasi Masyarakat Way Haru Pesisir Barat Lampung

Fotografi
Moda Transportasi Masyarakat Way Haru Pesisir Barat Lampung
Karya : Henk Widi
Lokasi, Lampung, Sabtu 31 Oktober 2015
Berada di bibir Samudera Hindia, Desa Way Haru di Kecamatan Bengkunat Belimbing terisolir dari dunia luar. Lautan lepas menjadi bagian dari keseharian masyarakat yang akan keluar untuk menuju ke pasar.
Berjarak kurang lebih 30 kilometer ke pasar dari wilayah Way Haru, warga menggunakan moda transportasi ojek serta pedati yang ditarik seekor sapi untuk mengangkut hasil bumi seperti lada, kopi, kelapa, padi dengan upah Rp.250ribu sekali angkut.
Warga memiliki kearifan lokal dalam menentukan saat terbaik melalui pinggiran Samudera Hindia dengan menghitung ombak agar kendaraan motor tidak terhempas ombak. Kearifan lokal tersebut membuat warga aman saat melintas di pinggir pantai akibat tak ada akses jalan lain.
Selain melewati puluhan kilometer pasir pantai di bibir Samudera Hindia, warga Way Haru tetap melewati sekitar 9 buah sungai dan setiap sungai harus menyeberangi rakit bambu. Dua orang operator rakit mengutip uang sebesar Rp.10ribu sekali melintas bagi kendaraan roda dua.
Jurnalis Cendananews.com dalam perjalanan menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam untuk mencapai lokasi di Desa Way Haru yang terpencil. Masyarakat masih mengandalkan moda transportasi ojek untuk bepergian meskipun mengeluarkan biaya cukup mahal.
Belum ada jembatan cukup representatif di wilayah ini selain jembatan gantung sederhana dengan alas kayu yang menjadi pilihan warga untuk menyeberangi sungai sungai di wilayah tersebut.

Lihat juga...