Orasi Dalam Sunyi, Kota Lama Kendari Sebenarnya Milik Siapa?


CATATAN JURNALIS—Sebuah pos ronda sekali pun, memiliki sejarah. Kapan dibuat, siapa yang gotong royong membuat, bahan diperoleh darimana, dana didapat darimana, dengan cara apa. Sejarah, adalah hal penting yang sering dilupakan karena mungkin bagi sebagian orang adalah hal sepele yang sudah jadi bagian dari masa lalu. Semudah itu.

Pos ronda memiliki banyak manfaat bagi masyarakt sekitarnya, tak bisa dibantah. Bisa dijadikan tempat bergosip bagi ibu-ibu, bisa dijadikan tempat nongkrong anak muda sambil main gitar dan menikmati minuman ringan, bisa digunakan area laga catur bapak-bapak sambil menikmati kopi, bisa digunakan tempat berteduh pedagang makanan yang menjajakan makanan dengan gerobak, bisa dijadikan lokasi pantau para penjaga malam, dan bisa digunakan sebagai lokasi janjian muda mudi yang lagi pacaran. Banyak fungsi.
Banyaknya fungsi atau manfaat dari pos ronda, tidak lantas pos ronda bisa dibangun dimana saja. Tetap harus memperhitungkan sejarah-sejarah lain yang mendahuluinya sebelum mencetak sejarah baru tentang pendirian pos ronda. 
Tak mungkin diizinkan oleh masyarakat sekitar ketika pos ronda didirikan di atas makam leluhur, masyarakat juga tak akan memberikan izin jika pos ronda dibangun di halaman rumahnya yang beirisi tanaman hias nan indah. Masyarakat pun bisa marah ketika pos ronda seenaknya dibangun persis di depan toko sembako orang tuanya. Bahkan masyarakat bisa murka luar biasa ketika pos ronda dibangun seenaknya dengan mengambil bagian lahannya yang begitu bersejarah di masa kecilnya.
Itu pos ronda. Sementara ini, yang hendak dibangun di Kendari adalah jembatan. Pos ronda memiliki banyak fungsi, tentu demikian pula sebuah jembatan yang dibangun untuk menghubungkan sisi teluk kota lama dengan kampung Lapulu Kendari,
Tetapi, sama saja dengan pos ronda, membangun jembatan pun harusnya tak melukai pihak manapun, terlebih lagi mereka yang ada dan berada dalam rentetan sejarah berdirinya sebuah kota. Kota lama Kendari bukan hanya sekedar ikon, tetapi titik awal berdiri megahnya ibukota provinsi Sulawesi Tenggara. Tak terhitung nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.
Ketika penguasa menginstruksikan buldozer meruntuhkan bangunan tua, yang terlihat oleh mereka hanyalah puing-puing berisi serpihan batu, potongan kayu dan lembaran seng yang mulai koyak oleh waktu. Sesungguhnya, yang mereka lihat adalah tulang-tulang dan muntahan darah berserakan dari mereka yang pernah memperjuangkan-membangun kota lama Kendari menjadi pisat perdagangan, pemukiman dan tempat mencari hiburan. Mereka membangun bukan dalam waktu setahun, dua tahun, tiga tahun, mereka membangun dalam waktu seumur hidupnya agar generasi penerus bisa menikmati dan memanfaatkannya.
Atas nama generasi penerus dan kesadaran melestarikan budaya-sejarah, penolakan demi penolakan terhadap penggusuran kota lama Kendari sempat dilakukan, masif atau tidak, itu relatif. Menjadi relatif, ketika faktanya, sekarang ini masyarakat kota lama Kendari berjuang sendiri mempertahankan haknya untuk tinggal di tanah leluhurnya.
Kemana perginya mereka yang pernah berteriak lantang tentang perlunya menghargai sejarah? Kemana larinya mereka yang pernah berteriak menolak jadi tuna sejarah? Jika benar pemerintah bisa dipidanakan dengan keputusannya menggusur kota lama Kendari, kapan dipidanakan? Siapa yang sungguh-sungguh berlaga sampai titik darah penghabisan di pengadilan? Siapa?
Kota lama Kendari sebenarnya milik siapa? Apakah hanya milik etnis Tionghoa dan suku Tolaki yang sampai sekarang bertahan tinggal di sana, atau milik seluruh masyarakat Kendari? Jika memang hanya milik mereka yang asli kota lama Kendari, pantas saja mereka kini berjuang sendiri. Jika memang kota lama milik seluruh masyarakat Kendari, maka kemana perginya mereka semua ketika sejarah asal usul kota yang mulai berkembang ini hendak dihapuskan dari peradaban Indonesia modern?

Kelak, jika anak cucu bertanya tentang asal usul kota kelahirannya, jangan berkelit dengan mengatakan bahwa penguasa lah yang menghancurkan sejarah, tetapi akuilah dengan gagah bahwa generasi sekarang lah yang menghancurkannya. Karena pembiaran yang dilakukan. Katakan pada anak cucu bahwa pada generasi ini tak ada yang dengan gagah berani mempertaruhkan segalanya demi eksistensi kota lama Kendari.

Kisah hilangnya kota lama Kendari akan berbeda-akan berubah jadi kisah membanggakan bagi anak cucu ketika kakek nenek kelak mampu berkisah, “Itu, itu, itu, mereka itu yang dulu mempertaruhkan waktunya, kemapanannya, tenaganya, hartanya untuk memperjuangkan kota lama Kendari agar tidak rata dengan tanah dan tersisa jadi lahan mati sebagai titik pondasi jembatan ini!”

Sejarah, jejak peradaban, heritage, atau apapun istilah yang dipilih, memang sangat sexy untuk dijadikan topik diskusi. Terlampau sibuk berdiskusi, lupa bahwa penguasa sudah memberi instruksi meluluh lantahkan sejarah-menghapus jejak peradaban, pada akhirnya nanti kota lama Kendari benar-benar hanya sebuah kisah.
Dan generasi penerusnya, tetap berkutat bangga pada peningkatan levelnya dalam kepiawaian kreatifnya membuat dokumentasi kota lama Kendari dalam foto, video dan film dokumenter. saja.
JUM’AT, 23 OKTOBER 2015
Penulis : Sari Puspita Ayu
Lihat juga...