Pelaku Usaha: Harus Berani Ambil Resiko untuk Maju

Haerul Anwar saat berada di lapak Eroel stake, jalan Catur Warga Kota Mataram
MATARAM — Bisa bekerja sebagai karyawan di suatu perusahaan atau instansi pemerintahan dan memiliki penghasilan, tentu menjadi dambaan hampir sebagian besar orang. Mulai dari kalangan masyarakat dengan tingkat pendidikan rendahan hingga masyarakat berpendidikan tinggi. Tidak heran ketika sudah menjadi pegawai atau karyawan suatu peusahaan, mereka akan mati – matian mempertahankan diri dari ancaman pemecatan atau pemutusan hubungan kerja.
Tapi hal tersebut tidak dilakukan Haerul Anwar, salah satu karyawan kantor notaris di Kota Mataram. Setelah bekerja selama tiga tahun memilih berhenti dan menjalankan usaha mandiri dengan membuka lapak Eroel Stake di pinggiran jalan Catur Warga Kota Mataram.
Mahasiswa semester akhir di Institut Keguruan dan Pendidikan (IKIP) Mataram tersebut, bersama kekasih dan dibantu dua orang temannya dengan bermodalkan nekad dan pinjaman uang, memberanikan diri memulai membuka lapak dan  menjalankan usahnya berjualan bistik atau steik sejak dua bulan terahir.
“Harus berani mengambil resiko dan berspekulasi kalau ingin maju, serta berani keluar dari kondisi nyaman, kalau tidak begitu, kita tidak akan pernah maju serta berani untuk memulai menjalankan usaha sendiri” kata Haerul kepada cendananes di Mataram, Minggu (4/10/2015).
Dikatakannya, kalau punya prinsip, kalau ingin maju harus berani keluar dari kondisi nyaman dan berwirausaha, karena kalau hanya hidup dari mengandalkan gaji sebagai karyawan yang diterima setiap bulan, jelas tidak cukup, di tengah situasi seperti sekarang, apa-apa pada mahal, apalagi nanti kalau sudah berkeluarga.
Haerul menyadari, kalau memilih keluar dari tempatnya bekerja untuk menjalankan usaha mandiri jelas tidak begitu saja bisa berjalan mulus dan sudah pasti akan menemui resiko mengalami kerugian, lebih-lebih memang usaha dijalankan tergolong baru seumur jagung.
“Resiko mengalami kerugian menjalankan setiap usaha sudah pasti ada, tapi itulah namanya orang berusaha, harus siap dengan segala kemungkinan dan keadaan dan saya sudah siap menghadapi kondisi terburuk sekalipun,” ungkapnya.
Lebih lanjut Haerul mengatakan, dipilihnya keluar dari tempat kerja sebagai karyawan dan menjalankan usaha mandiri selain karena ingin mengembangkan hoby memasak yang selama ini dimiliki, juga karena keinginan kuatnya yang sudah sejak lama memiliki usaha sendiri.
Berangkat dari pengalaman dan tempaan kehidupan keras sebagai anak yang berasal dari keluarga tidak mampu, juga menjadi salah satu pelecut semangat pemuda kelahiran Dasan Tapen, Kabupaten Lombok Timur tersebut, bekerja lebih giat lagi membantu ekonomi keluarga dari keterpurukan.
“Saya ini bukan orang kaya seperti teman – teman lain, jadi kalau ingin maju dan bisa keluar dari kondisi yang sekarang harus bekerja lebih giat lagi serta berani mengambil resiko,” terang Haerul.
MINGGU, 04 Oktober 2015
Jurnalis       : Turmuzi
Foto            : Turmuzi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...