Pembangunan Kilang Bontang Diminati Investor Arab Saudi

Direktur Pembinaan Hulu Migas Kementrian ESDM Joko Siswanto
BALIKPAPAN — Investor Arab Saudi direncanakan akan melakukan pertemuan dengan Gubernur Provinsi Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak terkait pembangunan infrastruktur kilang Bontang. Sebelumnya, investor asal Arab Saudi ini sudah melakukan pertemuan dengan tim Gubernur Kaltim sebanyak dua kali.
Staf Ahli Khusus Gubernur, Prof Zain Helvin mengatakan, investor asal Arab Saudi ini berminat pembangunan infrastruktur kilang Bontang, yang diproyeksi mampu mengolah minyak mentah menjadi bahan bakar minyak (BBM) sebesar 300 ribu barel perhari.
“ Sudah bertemu dua kali di Jeddah, Riyadh dan tempat lainya. Pangeran-pangeran ini menyatakan siap berinvestasi di Indonesia khususnya Kaltim. Untuk bangun kilang di Bontang,” terang Staf Ahli Khusus Gubernur, Prof Zain Helvin saat diminta Gubernur Kaltim Awang Faroek menjelaskan seputar minat investor untuk pembangunan kilang Bontang pada saat Awang Faroek menyampaikan paparan seputar pembangunan industri dan infrasturtur di Kaltim pada acara Joint Convention 2015, kemarin (06/09) di Balikpapan.
Dia menjelaskan, investor akan datang ke Jakarta pada 20 Oktober dan akan ke Samarinda pada 24 Oktober langsung meninjau Balikpapan dan Bontang. Pembangunan kilang ini diperkirakan akan menghabiskan biaya sekitar 8-12 miliar dollar Amerika.
Pada kesempatan itu, Awang Faroek menuturkan apabila pemerintah pusat atau APBN tidak memilki anggaran untuk pembangunan kilang Bontang, maka dapat mengundang investor asing. Termasuk dari Arab Saudi yang telah menyatakan minatnya. “ Saya kira ini harus disambut cepat oleh pemerintah pusat,” sambungnya.
Sementara itu, Direktur Pembinaan Hulu Migas Kementerian ESDM Joko Siswanto menyambut baik informasi yang disampaikan gubernur dan professor. Kendati demikian, pihaknya sedang menunggu Perpres pembangunan kilang. 
“ Itu baik sekali namun kita lagi menunggu lahirnya Perpres mengenai kilang. Perpres itu intinya Ini boleh dibangun dengan dana APBN, boleh dibangun BUMN sendiri, boleh dibangun BUMN bekerjasa swasta. Nah kalau swasta murni maka nambah satu point di Perpres tersebut. Karena itu Perpresnya belum diteken. Karena kemungkinan keempat yang disampaikan gubernur ini belum terpikirkan. Bolehkah kalau swasta murni asing masuk disitu. Kalau boleh masukan satu item di Perpres itu,” tutup Joko.
RABU, 07 Oktober 2015
Jurnalis       : Ferry Cahyanti
Foto            : Ferry Cahyanti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...