Pengaruh Ekonomi Nasional, Penjualan Batik di Yogyakarta Merosot

Ragam batik yang dijual di Prambanan
YOGYAKARTA — Meski masih dalam suasana Hari Batik Nasional, bukan berarti para pedagang batik mengalami lonjakan pendapatan. Kondisi pasar batik masih sama dan sepi karena imbas ekonomi nasional yang masih belum menguntungkan bagi rakyat kecil. Ini seperti diungkapkan oleh sejumlah pedagang baju batik di kawasan obyek wisata Candi Prambanan, Kalasan Sleman, Yogyakarta, Minggu (04/10/2015).
Suratmi
Suratmi, salah seorang pedagang baju batik di kawasan Candi Prambanan mengatakan, para pedagang baju batik sepertinya, saat ini hanya bisa sekedar bertahan sambil menunggu daya beli masyarakat kembali pulih. 
“Sekarang ini penjualan merosot tajam. Di hari libur biasanya omset sehari bisa mencapai satu juta rupiah. Tapi, sejak tiga bulan terakhir ini omset hanya berkisar antara dua sampai lima ratus ribu rupiah”, ujar Suratmi.
Jumlah omset sebesar lima ratus ribu rupiah dalam sehari, menurut Suratmi, hanya cukup untuk biaya operasional dan makan selama satu hari. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Suratmi mengaku harus menjual komoditas lain yang serupa namun dengan harga yang lebih murah. Misalnya, kaos oblong batik dan sebagainya.
Sudah lebih dari lima tahun, Suratmi berjualan baju batik di kawasan obyek wisata Candi Prambanan. Beragam model, motif atau corak dan kualitas baju batik yang laku keras di pasaran sudah sangat dipahaminya. Namun, dia mengaku saat ini memabg sangat sulit untuk bisa meningkatkan jumlah penjualan. Meski di hari libur, katanya, omset juga tak sebaik seperti tiga bulan lalu.
Hari libur memang menjadi faktor utama dari naiknya omset penjualan baju batik dagangan Suratmi. Namun, kini libur atau tidak libur, omset sama saja menurun. Padahal, Suratmi mengaku sudah berupaya menarik minat pembeli dengan menghadirkan baju batik yang beragam dari segi motif, warna dan kualitas.
“Sekarang ini pembeli lebih suka dengan batik Pekalongan dan Solo yang warnanya lebih cerah dan agak modern”, pungkas Suratmi. 
MINGGU, 04 Oktober 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...