Pengrajin Manfaatkan Jerami untuk Membakar Batu Bata

Pengrajin batu bata mengumpulkan jerami untuk proses pembakaran
LAMPUNG — Kurangnya pasokan serta mahalnya harga kayu bakar untuk proses pembakaran batu bata, tidak menyebabkan pengrajin kehilangan akal. Beberapa warga di Kecamatan Labuhan Ratu Lampung Timur Provinsi Lampung memanfaatkan jerami sisa panen padi untuk digunakan sebagai bahan untuk membantu proses pematangan batu bata.
Salah seorang pengrajin batu bata, Ipen (34) mengaku, semenjak musim kemarau banyak warga yang beralih menjadi pengrajin batu bata. Lahan dan kebun yang kering tidak bisa digunakan untuk bercocok tanam, sehingga warga sementara beralih pada alternatif lain.
Namun mendapatkan jerami tidaklah mudah, karena sesama pengrajin adu gesit dalam mendapatkan bahan untuk membakar batu bata. Mereka adu cepat untuk meminta kepada pemilik sawah. Setelah diikat dan dikumpulkan jerami akan diangkut menggunakan kendaraan roda dua ke rumah pembuat batu bata.
“Sembari menunggu beberapa ribu bata kering saya dibantu isteri mencari jerami kering yang akan digunakan untuk membakar bata, kalau menggunakan sekam padi dan kayu sekarang harganya sudah lumayan mahal,”ungkap Ipen saat ditemui sedang mengangkut jerami, Jumat (02/10/2015).
Ipen berniat membakar sekitar 15.000 batu bata yang dibuatnya selama tiga bulan terakhir dan batu bata sebanyak itu hendak dijualnya kepada pemesan yang akan membuat bangunan rumah. Harga batu bata yang pada musim kemarau ini menurut Ipen mencapai Rp300ribu hingga Rp350ribu tergantung kesepakatan pembeli dan penjual. Sementara untuk upah angkut dan bongkar menjadi tanggungan pembeli hingga sampai ke tujuan.
“Kami tidak punya pilihan pekerjaan lain, kalau siang mencari rumput di pinggir kali untuk makan ternak, sore hingga malam, biasanya membuat batu bata,”ungkapnya.
Proses pembuatan batu bata pun dibantu oleh sang isteri dan anak mulai dari pengolahan tanah hingga bata menjadi kering. Sang pembeli sudah memberi uang muka sebanyak Rp2juta dari total Rp4.500.000,- untuk batu bata sebanyak 15.000 yang akan dibakarnya. Uang muka tersebut akan dipergunakan untuk biaya operasional proses pembakaran yang memakan waktu sekitar 4 hingga 5 hari hingga batu bata benar benar matang.
Pemanfaatan jerami yang akan digunakan untuk membakar batu bata diantaranya dimanfaatkan untuk melapisi dinding batu bata mentah yang akan dibakar. Selain itu penggunaan sekam padi yang dibeli dari pabrik penggilingan padi dengan harga Rp.2.500 per karung, kayu sebesar Rp.250ribu per mobil L300 menjadikan biaya operasional untuk pembakaran batu bata relatif mahal.
“Jerami bisa membantu kami untuk efesiensi pembakaran batu bata karena mudah diperoleh saat warga lain sedang panen, kalau saya tidak bisa menggarap sawah karena tak dapat jatah air,”ungkap Ipen.
Aktifitas membuat batu bata oleh Ipen tersebut juga ditekuni oleh Pandi (35) yang mulai membakar bata sebanyak 20.000 yang akan dipergunakan sebagian untuk membuat bangunan dapur serta sisanya akan dijual. Kondisi petani yang memiliki keterbatasan modal serta fasilitas membuat sebagian petani tidak bisa memanfaatkan lahan pertanian mereka secara maksimal.
“Kami tidak punya modal untuk membeli mesin pompa atau menyewa pompa, jalan satu satunya ya membuat batu bata selama musim kemarau ini untuk menyambung hidup,”ungkap Pandi.
Pandi mengaku dengan menjual batu bata ia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya selama musim kemarau yang membuatnya tidak bisa mencari uang dari sektor pertanian dan perkebunan. Pada musim penghujan atau musim tanam , Pandi serta warga lain masih bisa melakukan upahan menanam atau memanen jagung, namun akibat musim kemarau yang masih berlangsung belum ada warga yang berani untuk menanam jagung.

JUMAT, 02 Oktober 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...