Pengrajin Tahu Tempe Pertahankan Harga untuk Kestabilan Pasar

Ketua Primkopti SIKS, Heriansyah
BALIKPAPAN — Menghindari ketidak stabilan pasar, Pengrajin tahu dan tempe mengaku belum menaikkan harga tahu tempe dipasaran, meskipun harga kedelai dalam bulan September kemarin mengalami kenaikan empat kali. 
“Berdasarkan informasi dolar akan terus menguat, kalau kami menaikkan harga sekarang dan ternyata dolar semakin tinggi tentu ada penyesuaian lagi. Artinya terjadi 2 kali kenaikan, kami menghindari itu, lebih baik kami tunggu dolar akan stabil diharga berapa baru kami menyesuaikan,” ungkap Ketua Primer Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Primkopti) Sentra Industri Kecil Somber (SIKS) Heriansyah di jumpai di kantornya, Kamis (1/9/2015).
Ia mengatakan bila sekarang dinaikkan maka berpotensi menganggu kestabilan pasar hingga 30 persen dan baru pulih 3 bulan kemudian. 
“Tapi ada saja pengrajin yang memanfaatkan momen. Menjual harga lebih murah dari yang disepakati yang penting laku, ini yang menganggu pelanggan akan berpindah-pindah,” kata Pria kelahiran Balikpapan yang juga berprofesi sebagai pengrajin tahu.
Meskipun harga bahan baku tahu dan tempe terus membumbung, Dia memastikan hingga kini belum ada satupun pengrajin yang mendesak kenaikan harga. 
“Ya koperasi sifatnya memfasilitasi jika ada tuntunan kenaikan harga maka akan dimusyawarahkan dan sepakati bersama,” jabar pria yang biasa disapa ujang.
Ujang mengakui selama bulan september harga kedelai mengalami kenaikan sebanyak empat kali dengan menguatnya nilai dollar. Yang tercatat dikoperasi tren kenaikan tersebut tergolong paling intens terjadi hanya dalam kurun waktu 1 bulan.
Untuk kedelai dengan kualitas nomor 2. Sedangkan kualitas super mengalami 2 kali kenaikan harga sepanjang September.
Diketahui kenaikan pun terjadi sejak 4 bulan terakhir secara perlahan. Pelemahan rupiah hingga Rp 14.700 per dolar Amerika Serikat (AS) membuat harga produk impor terkerek. Kedelai salah satu produk dengan volume impor cukup besar.
Ujang merinci, untuk kenaikan kedelai kualitas nomor 2 terjadi sejak awal September yang mencapai harga Rp7.700 per Kg. Kemudian harga bergerak ke level Rp7.900 per Kg, berikutnya Rp8 ribu per Kg dan awal pekan kemarin naik menjadi Rp8.150 per Kg. Khusus kualitas super dari Rp8 ribu kini sudah bertengger Rp8.300 per Kg.
Kendati harga terus melesat, permintaan diyakini tetap stabil. Dengan kebutuhan 300 ton kedelai yang dipasok setiap bulan. 80 persen di antaranya kualitas nomor 2.
Harga produk turunannya yakni tahu dan tempe hingga kemarin terpantau tetap stabil. “Termasuk ukuran dan isi tetap sama,” tutupnya.
pengrajin tahu tempe
KAMIS, 01 Oktober 2015
Jurnalis       : Ferry cahyanti
Foto            : Ferry cahyanti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...