Penjual Ikan Berdagang di Areal Parkir Masih Jadi PR Pemda Manggarai

Pedagang ikan yang berjualan di areal parkir Pasar Ruteng
FLORES — Permasalahan pedagang ikan yang berjualan di area parkir Pasar Ruteng masih menjadi pekerjaan rumah (PR) dari pemerintah setempat. Meski berbagai cara dilakukan untuk menertibkan, namun hal tersebut belum dapat merubah keadaan.
Pemda Kabupaten Manggarai melalui Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (Kadis PPKAD), Willy Ganggut mengatakan, selama ini pihaknya telah berulang-ulang mengingatkan para pedagang agar tidak lagi menjalankan aktivitas penjualan di sembarang lokasi. Namun, langkah tersebut belum juga diikuti oleh para pedagang.
“Yang penjual ikan itu sudah berulang-ulang kita larang menjual di luar los yang kita siapkan. Itu sudah aturan. Hanya sekarang, manusia kita ini, yang berulang-ulang kita imbau, dari dulu hingga sekarang, bahkan sampai ke jalan raya mereka jual itu. Yang saya sesalkan, mengapa wilayah-wilayah parkir itu dimanfaatkan oleh penjual ikan,” ungkap Ganggut di ruang kerjanya kepada Cendana News, Rabu (21/10/2015).
Ganggut sendiri menyalahkan para petugas parkir di area tersebut yang menurutnya perlu bertindak tegas mengatur area parkir. “Padahal di bawah itu ‘kan ada orang-orang penjaga parkir. Kenapa mereka relakan saja tempat-tempat itu untuk jual ikan,” kata Ganggut.
Saat ditanyakan mengenai info pedagang sudah membayar retribusi, Ganggut menegaskan, retribusi hanya berlaku untuk lokasi penjualan yang sudah ditetapkan pihaknya. 
“Sedangkan di luar itu, tidak. Kalau ada petugas saya yang melakukan itu, ya nanti saya ambil tindakan. Tapi dari segi ketentuan itu tidak dibenarkan. Tidak dibenarkan mereka menagih di luar lokasi yang kita siapkan. Kalau retribusi itu ‘kan, pemerintah menyediakan tempat, orang menggunakan,” jelasnya.
Sebelumnya, terkait dengan aktivitas berdagang pada sejumlah area terlarang di pasar tersebut, sejumlah pedagang ikan mengakui dikenai kewajiban untuk membayar retribusi yang diminta oleh pegawai pasar.
 “Retribusi kita bayar Rp 1.000 per hari. Ada memang petugasnya, satpam pasar. Dia belum datang. Bukti tagihan biasanya ada,” ungkap Tedy Marnu diikuti sejumlah pedagang lainnya, Rabu (21/10/2015).
Pengakuan yang sama disampaikan pula oleh seorang pedagang lain, Ima Anita. “Ada. Pokoknya tidak tentukah. Satu minggu, Rp1.000 sampai Rp2.000. Bukti pungutan tidak ada. Tapi itu tadi, tidak sering-sering,” tutur Ima.
RABU, 21 Oktober 2015
Jurnalis       : Fonsi Econg
Foto            : Fonsi Econg
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...