Peringatan Detik-detik Pertempuran Lima Hari Semarang

Upacara peringatan Detik-detik Pertempuran Lima Hari di Semarang
SEMARANG — Ribuan masyarakat Kota Semarang memenuhi kawasan Bundaran Monumen Tugu Muda. Mereka tampak antusias melihat kemeriahan rangkaian upacara peringatan Pertempuran Lima Hari Semarang. Kegiatan upacara tersebut  telah menjadi agenda rutin tahunan, selalu diperingati pada setiap tanggal 14 Oktober.
Pantauan Cendana News di lapangan, sejak pukul 17:00 WIB, lima ruas jalan utama dari dan menuju kawasan bundaran Tugu Muda Semarang telah disterilkan dan ditutup total oleh petugas keamanan. Namun ribuan warga masyarakat terlihat telah memadati seluruh kawasan bundaran  Tugu Muda, padahal rangkaian peringatan upacarannya baru dimulai pada pukul 19:00 WIB.
Peringatan upacara tersebut dilaksanakan untuk mengenang pertempuran para pejuang di Semarang saat melawan penjajahan Jepang selama lima hari lima malam dengan luas radius sekitar 10 km. Pertempuran terjadi pada tanggal 15 hingga 19 Oktober 1945, tercatat sekitar 2000 pejuang telah gugur dalam pertempuran tersebut.
Sebelumnya, tentara Jepang telah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal tanggal 15 Agustus 1945. Setelah kota Hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh Amerika Serikat pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, meskipun demikian tampaknya bala tentara Jepang masih ingin mempertahankan kedudukannya di Indonesia lebih lama lagi.
Pada peringatan Pertempuran Lima Hari Semarang 14 Oktober 2015 di kawasan bundaran Tugu Muda, dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Heru Sudjatmoko, sekaligus bertindak menjadi inspektur upacara. Peringatan upacara tersebut juga dihadiri secara langsung oleh Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, beserta seluruh pejabat serta pimpinan TNI / POLRI.
Rangkaian peringatan detik – detik Pertempuran Lima Hari Semarang dimulai dengan pembacaan sejarah singkat latar belakang menceritakan awal mula terjadinya pertempuran. Pertempuran tersebut pada awalnya dipicu terbunuhnya dr. Kariadi, Kepala Laboratorium RS. Purusara ( sekarang RS. dr. Kariadi ) yang dicegat dan ditembak oleh tentara Jepang.
Saat menjelang detik – detik peringatan upacara Pertempuran Lima Hari Semarang, semua lampu – lampu Penerangan Jalan Umum ( PJU ) di sekitar kawasan bundaran Monumen Tugu Muda Semarang telah dipadamkan. Seluruh kawasan tersebut menjadi ” gelap gulita ” dan suasananya mencekam, satu – satunya penerangan hanya berasal dari cahaya api obor.
Diiringi dengan suara raungan sirine, suara rentetan tembakan senapan dan bunyi ledakan bom, seolah menggambarkan begitu kira – kira sekilas suasana pertempuran ketika itu. Dengan hanya diterangi penerangan cahaya api obor, sesaat kemudian ratusan mahasiswa dan pelajar memasuki lapangan, meraka sedang menampilkan drama teatrikal yang mengisahkan jalannya pertempuran Lima Hari Semarang.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Heru Sudjatmoko, dalam pidato sambutannya mengatakan, peringatan Pertempuran LIma Hari Semarang janganlah hanya menjadi kegiatan rutinitas semata.
“Namun semangat patriotisme para pahlawan hendaknya dihayati dan ditauladani oleh para generasi penerus perjuangan bangsa,” terangnya.
Heru Sudjatmoko menegaskan, betapa heroiknya semangat perjuangan para pahlawan bangsa yang telah mengorbankan harta benda dan jiwa raga, demi membela tanah air ibu pertiwi, tugas kita mempertahankan kemerdekaan dan membangun NKRI, sehingga negara kita sejajar dengan negara – negara lain di dunia.


KAMIS, 15 Oktober 2015
Jurnalis       : Eko Sulestyono
Foto            : Eko Sulestyono
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...