Peringatan Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya 2015

Monumen Tujuh Pahlawan Revolusi Korban Keganasan Partai Komunis Indonesia Di Lubang Buaya
JAKARTA — Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila ke-50 yang jatuh tepat tanggal 01 Oktober 2015 ini dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo sebagai Inspektur Upacara dengan Komandan Upacara Kapolresta Depok, Komisaris Besar Polisi Dwiyono. Mengangkat tema ” Kerja Keras dan Gotong Royong melaksanakan Pancasila”, upacara tahun ini ingin mengajak seluruh Bangsa Indonesia untuk bahu membahu mengembangkan sekaligus semakin menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia.
Namun esensi yang sebenarnya dari Hari Kesaktian Pancasila yaitu mengedepankan kewaspadaan Bangsa dan Negara akan Bahaya Laten Komunis. Dimana Bangsa ini beralih dari era pemerintahan Orde Baru ke era reformasi nilai-nilai Pancasila sudah mulai hilang. 
Wacana-wacana pemutarbalikan fakta sejarah yang dilakukan oleh orang-orang tertentu maupun lembaga-lembaga swadaya masyarakat tertentu, membawa aroma tidak sedap dalam pelaksanaan Hari Kesaktian Pancasila tahun 2015. 
Dimulai dari berkembangnya isu bahwa Pemerintah harus meminta maaf terkait G.30.S/PKI kepada Partai Komunis Indonesia, sampai penelusuran tidak berguna akan ‘aktor sebenarnya’ dibalik peristiwa G30S/PKI terasa melukai bagi insan-insan yang sangat meyakini bahwa Komunis dan PKI adalah Faham serta Partai Haram di Negara ini.
Dalam wawancara dengan media selesai acara, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa sempat mengutarakan keprihatinannya akan keadaan generasi muda sekarang ini, dimana banyak sekali yang sudah tidak mengetahui siapa dan apa itu PKI serta Komunisme. Namun Mensos memberikan dukungan moril penuh kepada pengembalian hak-hak kewarganegaraan bagi mereka yang terlibat dalam Peristiwa Pemberontakan G30S/PKI.
” Restorasi hak bagi mereka sebagai warga negara perlu dilakukan. Bahkan hak politik mereka juga harus dipulihkan, namun hal itu bukan berarti kita serta merta melupakan begitu saja Sejarah kelam 30 September 1965, kita harus tetap waspada,” begitu Mensos Khofifah menjawab hujan pertanyaan media terkait penegakan hak asasi manusia terhadap pelaku-pelaku G30S/PKI.
Hal yang harus selalu diingat oleh seluruh Bangsa Indonesia lintas generasi, bahwa KOMUNISME TIDAK BOLEH ADA ATAU BANGKIT ATAU BAHKAN KEMBALI DI BUMI PERTIWI. Mereka yang selalu berbicara tentang menelusuri siapakah ‘aktor sebenarnya’ dibalik peristiwa G30S/PKI sepertinya lupa akan Pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. Apakah mereka juga akan mencoba membantah Peristiwa Pemberontakan PKI Madiun oleh Muso dan antek-anteknya yang menelan ratusan korban warga sipil terutama kaum Ulama di daerah Jawa Timur. 
Harus dipikirkan kembali, bahwa melakukan sesuatu yang tidak berguna hanyalah akan membawa Bangsa ini semakin terpuruk ke dalam kesesatan moral yang lebih parah. Dan tidak kalah mengerikan adalah hal tersebut bisa membangkitkan kembali Faham Komunis dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) yang belakangan ini sudah mulai melakukan propaganda-propaganda terselubung untuk meretas jalan masuk kembali ke Bumi Pertiwi.
Sebagai generasi muda kita harus membentengi Bangsa dan Negara ini dari Bahaya Laten Faham Komunis. Dengan demikian maka tidak sia-sia pengorbanan Tujuh Pahlawan Revolusi yang dibunuh dengan Sadis oleh para Pemberontak PKI dalam G30S/PKI. Sebuah pengorbanan sampai ke liang Kubur dalam mempertahankan Pancasila. Kita sebagai generasi penerus Tujuh Pahlawan Revolusi harus melawan !! Melawan Faham Komunisme, serta Melawan kebangkitan PKI di Negara ini.
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa

Sumur Maut Tempat Pemberontak dari Partai Komunis Indonesia memasukkan Tujuh Pahlawan Revolusi dengan sangat keji tanpa peri kemanusiaan

KAMIS, 01 Oktober 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Foto            : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...