Pesparawi XI di Kota Ambon Biking Bae Maluku


AMBON — Konflik horizontal yang pernah melanda Maluku era 1999, nampaknya meninggalkan pesan berarti bagi seluruh masyarakat di Provinsi Seribu Pulau ini. Berbagai format rekonsiliasi dibuat pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda dan elemen masyarakat guna mengeratkan kembali hubungan persaudaraan orang Maluku yang hancur akibat konflik naas 16 tahun silam. 
Pelaksanaan lomba Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) tingkat Nasional Ke XI di Kota Ambon salah satu tujuannya adalah mendamaikan seluruh masyarakat Maluku. Hal ini dikuatkan dengan peran umat muslim dalam turut berpartisipasi bukan hanya mendukung tapi juga terlibat mensukseskan even nasional tiga tahunan tersebut.  
Bentuk kontribusi umat muslim Maluku ditunjukkan dengan cara menjemput peserta dan tamu khususnya yang beragama Kristen dari luar Maluku, sebagiannya ditampung di rumah-rumah warga muslim di Kota Ambon. 
” Inilah persaudaraan orang Maluku. Siapapun orangnya, apapun identitas agamanya, kita semua manusia biasa. even Pesparawi tingkat Nasional ini adalah milik semua warga Maluku,”  ujar Moezhard Hatala, Tokoh Pemuda Desa Batu Merah, saat diwawancarai Cendana News di Ambon, Kamis (8/10/2015). 
Apa makna Kaeng Salele atau Kaeng Gandong, Moezhard menjelaskan,  bahwa ini menggambarkan persaudaraan yang erat di Maluku. 
Tampak para peserta dan tamu dijemput di Desa Batu Merah Kecamatan Sirimau Kota Ambon, semuanya masuk ke kain yang pajangnya sekitar 300 meter itu.  Disambut dengan tarian hadrat elaborasi musik sawat dan totobuang khas Maluku.
“Selaku umat muslim kami maknai sungguh adanya perbedaan tersebut. Dia bukan pembatas,  tapi pesannya adalah perbedaan itu pemersatu seluruh umat manusia di Maluku dan umumnya Indonesia, jadi Kaeng Salele ini sangat pas dengan Bhinneka Tunggal Ika,” lanjutnya
Diakuinya, Pesparawi  yang dilaksanakan tanggal 6 –  12 Oktober 2015 diikuti oleh 34 Provinsi termasuk Maluku , adalah media untuk biking bae (mendamaikan/menyatukan) seluruh masyarakat Maluku. Alasannya, karena provinsi yang kental dengan budaya pela dan gandongnya itu, memiliki sejarah pahit nan pedih (konflik horizontal 1999). 
“Sekarang tanggung jawab perdamaian Maluku adalah milik semua pihak. Bukan person atau kelompok,” pungkasnya. Pesparawi tingkat Nasional Ke XI, dengan tema “Sungguh Alangkah Baik dan Indahnya Apabila Saudara-Saudara Diam Bersama Dengan Rukun”. Tema ini diangkat dari Mazmur 133 : 1
KAMIS, 8 OKTOBER 2015
Jurnalis : Samad Vanath Sallatalohy
Foto : Samad Vanath Sallatalohy
Editor : Sari Puspita Ayu
Lihat juga...