Petani Cabe di Yogyakarta Terpukul Akibat Anjloknya Harga Jual

Petani Cabe, Supriyanto
YOGYAKARTA — Petani cabe yang biasa gembira dengan harga cabe yang tinggi, kini terpaksa harus menahan diri. Pasalnya, di saat musim panen cabe ternyata harga jualnya turun sampai lima puluh persen. Petani pun merasa terpukul, karena di musim kering ini mereka telah mengeluarkan biaya tambahan untuk pengadaan air. 
Seorang petani cabe di pedukuhan Kunjonsari, Sleman, Yogyakarta, Supriyanto menyebutkan, karena harga berkisar Rp 6.000 perkilogram membuatnya enggan untuk memanen cabe di lahan seluas 800 meterpersegi karena tidak akan mampu menutup biaya produksi.
Disebutkan, saat ini harga cabe rawit Jawa Rp 7.000 sekilo, cabe merah keriting Rp 6.000 sekilonya. Harga tersebut, mengalami penurunan antara Rp 4.000,perkilonya jika dibandingkan dengan harga jual tahun lalu.
Supri mengatakan, turunnya harga jual cabe tersebut lebih disebabkan musim panen raya yang bersamaan di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sehingga persediaan cabe di pasaran melimpah. Sedangkan untuk kualitas cabe saat ini juga bagus, karena relatif tak ada serangan hama tikus dan virus kuning seperti tahun sebelumnya. 
Namun demikian, Supri mengeluhkan biaya produksi tahun ini yang membengkak akibat musim kering. 
“Banyak sumber air mengering dan berkurang debitnya, sehingga terpaksa saya harus membeli air dari sumur warga”, kata Supri. 
JUMAT, 23 Oktober 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...