Puluhan Hektar Tanaman Pisang Petani Layu Dihantam Kemarau

LAMPUNG — Puluhan hektar tanaman pisang milik warga Kecamatan Sragi dan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan sebagian besar mulai tidak berproduksi akibat diterjang kemarau. Tanaman milik warga tersebut mengalami kekeringan dan layu. 
Salah satu petani pisang di Desa Gandri Kecamatan Penengahan, Bagong (32) mengaku, menanam pisang jenis pisang Tanduk, pisang Kepok, pisang janten namun sebagian besar sudah mati karena kekurangan air dan terjangan hawa panas.
“Sebagian sudah saya tebang dan terpaksa dimusnahkan karena tidak menghasilkan lagi, malah sebagian besar sudah layu saat masih berbuah” ungkap Bagong kepada Cendana News, Jumat (02/10/2015)
Disebutkan, sebagai tanaman sela dilahan yang saat ini tidak bisa ditanami jagung merupakan penghasilan tambahan dengan masa panen sekitar dua kali dalam seminggu. 
Saat sebelum musim kemarau, harga pisang Kepok biasa satu tandan dihargai Rp30.000,- pisang Muli Rp8.000,- pisang Janten Rp8.000,- pisang tanduk Rp15.000,- pisang Kepok Manado Rp35.000,- namun kini harganya mulai naik meskipun pasokan tak bisa dipenuhi. 
Padahal jika dalam musim penghujan produktifitas pisang miliknya bisa menjadi sumber penghasilan dengan pendapatan sekitar Rp.750ribu lebih per bulan di luar hasil tanaman pertanian padi dan sayuran.
“Meskipun harga pisang cukup lumayan untuk menambah penghasilan  namun karena kondisi banyak yang layu tidak banyak menghasilkan,”ungkap Bagong.
Selain akibat panas musim kemarau, tanaman pisang milik Bagong dan warga lain teserang hama penyakit jenis jamur beracun yang berakibat terhambatnya pertumbuhan karena saat berbunga sudah layu dan busuk buah. Akibatnya meski berbuah namun tidak layak untuk dijual dan tak bisa dikonsumsi.
Bagong mengaku memiliki kebun pisang seluas setengah hektar yang ditanam di pinggir kebun miliknya sebagai tanaman sumber penghasilan tambahan. Akibat kemarau ini sebagai petani Bagong bahkan beralih profesi menjadi tukang bangunan.
Sementara itu, Kepala Unit Pelayanan Tekhnis Dinas Perkebunan Lampung Selatan, Tukimin mengatakan, kemarau saat ini menjadi penyebab tanaman perkebunan menurun produktifitasnya hingga 50 persen. 
Selain penurunan produktifitas, kemarau bahkan mengakibatkan tanaman perkebunan mengalami kekeringan, diantaranya tanaman pisang, kelapa sawit, kelapa dalam, kopi robusta, kopi cokelat. Produktifitas hasil perkebunan cukup baik tetap bisa dipertahankan pada perkebunan warga yang berada di bantaran sungai dengan sumber pengairan cukup bagus meski harus menggunakan pompa air.
Berbagai penyuluhan dilakukan oleh Dinas Perkebunan, dengan menyarankan petani menanam tanaman perkebunan yang tahan panas dan menunda untuk melakukan tanaman baru selama musim kemarau, sebab hanya akan mengeluarkan biaya operasional tinggi.
“Sebaiknya tunda untuk menanam tanaman baru karena kondisi kemarau masih belum mendukung akibat kurangnya pasokan air,”ungkap Tukimin.
Ia bahkan menghimbau petani memanfaatkan musim kemarau untuk membersihkan kebun dan mempersiapkan untuk masa tanam berikutnya. Sebagian petani pekebun bahkan menggunakan waktu selama musim kemarau untuk membuat batu bata dan membersihkan kebun milik mereka.
“Saat musim kemarau ini sebaiknya untuk membersihkan perkebunan jangan dengan cara dibakar karena mengakibatkan kabut asap,”ujar Tukimin.

JUMAT, 02 Oktober 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo

Lihat juga...