Puluhan Jurnalis se-Kepulauan Maluku, Papua Ikuti Pelatihan Keuangan

Pelatihan Jurnalis Se-Kepulauan Maluku, Papua dan Papua Barat

JAYAPURA — Untuk meningkatkan kualitas penulisan dalam liputan ekonomi terhadap jurnalis, Bank Indonesia menggelar Journalist Retreat 2015 yang diikuti sejumlah jurnalis dari Maluku, Papua dan Papua Barat.

Pelatihan jurnalis se-Kepulauan Maluku, Papua, dan Papua Barat yang akan berlangsung selama dua hari 16-17 Oktober ini bertemakan “Mengasah Kata Mendulang Cita” yang dibuka langsung Kepala Perwakilan Bank Indonesia Papua, Joko Supratiko pada salah satu hotel berbintang di Kota Jayapura, Jumat (16/10/2015).

Yeni Simanjuntak, analis dari PT Trimegah Securities.TBK mengaku kedatangannya itu sendiri juga ingin mengetahui seberapa besar antusias dari jurnalis mempelajari laporan keuangan yang dapat dijadikan berita atau dikonsumsi publik.

“Karena laporan keuangan itu bukan hal yang menarik bagi banyaknya jurnalis dan saat ini saya suka sekali respon teman-teman jurnalis,” kata Yeni disela-sela kegiatan, Jumat (16/10/2015).

Dirinya sangat kaget dengan respon dari jurnalis yang hadir sekitar 20-an orang dengan cekatan melancarkan berbagai pertanyaan untuk mencari titik utama dari laporan keuangan yang dapat dijadikan sebuah berita.

“Saya kaget sekali, mereka bisa langsung mendownload laporan salah satu bank dan memberikan pertanyaan kepada saya. Ini berarti, teman-teman ingin belajar dan terus mengasah olah kata mereka,” ujar Yeni yang pernah melalanglang buana di jurnalis, khususnya berita ekonomi.

Menurutnya, untuk mendapatkan satu berita ekonomi yang menarik, tidak semuanya dapat dilakukan. Karena, lanjutnya, seorang jurnalis juga harus melihat isu apa yang sedang terjadi saat itu atau juga soal kebijakan ekonomi pemerintah pusat maupun daerah.

“Jadi carilah berita yang menyentuh langsung dengan masyarakat, sesuai dengan kepentingan yang akan membaca. Contoh, kalau pedagang-pedagang kecil mungkin tertarik dengan informasi kredit usaha rakyat,” ujarnya.

Namun, menurutnya jangan menulis secara nilai total skala nasionalnya saja, jurnalis harus jeli mencari data nilai KUR skala lokal, sehingga si pedagang lokal mendapatkan informasi akuratnya.

“Contoh, di Jayapura KUR nya berapa? Ada tidak terdata di Badan Pusat Statistik. Dan kalau perlu mewawancarai para pedagang itu sendiri juga,” katanya.

Kontributor kantor berita Antara di Ambon, Maluku, John Soplanit, mengaku baru pertama kali mengikuti pelatihan yang digelar BI untuk kalangan jurnalis. Menurutnya, untuk jurnalis wilayah liputannya ekonomi, kegiatan ini sungguh satu pelajaran berharga.

“Ini satu masukan, dan pegangan buat kami tentang perhitungan dalam keuangan. Jadi kami bisa memahaminya, jika ada persoalan-persoalan terkait keuangan dan dapat dipublish,” kata John.

Menjadi momok menakutkan, lanjutnya, bagi jurnalis ketika melakukan liputan ekonomi, terlebih lagi menulis soal angka, karena sangat rentan dengan kesalahan-kesalahan.

 “Kadang-kadang kami cuma dengar saja, dan tidak mendapatkan rilis pers, takut juga kami beritakan. Sehingga, kami harus melihat secara teliti laporan keuangan dari bank maupun instansi lainnya yang telah dipublish oleh mereka,” kata John yang telah geluti dunia jurnalistik sejak tahun 1995.

JUMAT, 16 Oktober 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Foto            : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo

Lihat juga...