Selamat Isirahat dengan Damai, Pak Raden. Unyil Kucing!

Foto didapat dari mesin pencarian Google

CATATAN JURNALIS—Salah satu tayangan televisi untuk anak-anak masa Orde Baru yang sangat melekat adalah Film Boneka Si Unyil yang selalu disiarkan di TVRI (Televisi Republik Indonesia) pada tiap hari Minggu. Karya anak bangsa produksi PPFN ini mengalami beberapa kali hijrah dari TVRI ke beberapa stasiun televisi swasta. 

Di TVRI, Si Unyil ditayangkan mulai tahun 1981 hingga 1993. Pada tahun 2002 Si Unyil kembali ditayangkan tetapi kali ini tidak lagi di TVRI melainkan di stasiun televisi swasta pertama yang ada di Indonesia yaitu RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). Tidak lama di RCTI, Unyil Dkk kembali hijrah. Kali ini di stasiun televisi milik sulung Pak Harto, Siti Hardiati Rukmana yaitu TPI (Televisi Pendidikan Indonesia).
Keberagaman tema yang ditampilkan pada setiap episodenya menjadikan Si Unyil tontonan yang sangat menarik dan ditunggu-tunggu oleh penonton setianya yang sebagian besar adalah anak-anak karena Film Boneka Si Unyil, oleh penciptanya, memang didedikasikan untuk anak Indonesia.
Adalah Drs, Suryadi, lelaki kelahiran Jember 28 November 1932 yang ada dibalik karya hebat ini. Suryadi yang juga seorang pendongeng inilah yang menciptakan tokoh-tokoh dalam Si Unyil. Ia yang dalam film ini juga memerankan tokoh Pak Raden adalah sosok yang sangat berjasa dalam dunia pendidikan bagi anak-anak bukan hanya dunia seni. Karena film Si Unyil adalah pelopor film boneka yang sarat edukasi.
Paham akan keragaman etnis yang ada di Indonesia, Ia menciptakan sosok Melanie, seorang anak keturunan Tionghoa yang menjadi salah satu teman Si Unyil. Selain Melanie, teman-teman Unyil adalah Usrok, Cuplis dan Ucrit. Sadar pula akan keberagaman suku di Indonesia, ia menciptakan sosok Bu Bariah, perempuan Madura yang dikenal dengan “Bo Aboh”. 
Tingkat kecerdasan Drs. Suryadi bisa dilihat dari kepiawaiannya mengemas kisah pergaulan sehari-hari dalam film boneka ini. Dan masing-masing tokoh memiliki karakter yang kuat hingga mudah diingat oleh penikmatnya. Sosok Pak Ogah misalnya, sangat dikenal dengan “Cepek dulu dong”, ia dan kawannya, Pak Ableh, sangat mudah menolong asalkan ada “Cepek dulu dong”.
Demikian juga sosok Cuplis, kawan Si Unyil yang berkepala plontos/botak. Begitu melekatnya tokoh tersebut sehingga pada masa itu jika ada anak berkepala botak seringkali dijuluki Cuplis. 
Di luar semua tokoh di atas. Sosok Pak Raden yang diperankan sendiri oleh Dr. Suryadi menjadi penyempurna ide luar biasa seorang Suryadi. Pak Raden yang merupakan seorang pensiunan digambarkan begitu kikir dan pemarah. Tabiat buruknya yang selalu pura-pura encok ketika ada kerja bakti, kekikirannya yang selalu menghitung buah di halannya, pakaian khas Jawa lengkap dengan blangkon berikut kumis tebal menjadikan sosok Pak Raden begitu kuat di hati para penikmat Si Unyil, hingga sekarang.
“Mungkin hanya Pak Raden lah orang yang hafal berapa jumlah buah di pohon yang dimilikinya, dan hanya Pak Raden lah yang hafal posisi masing-masing buah di pohonnya” begitu salah satu cara beberapa penikmat Si Unyil dalam mengingat sosok Pak Raden. 
Kini, tepatnya Jum’at 30 Oktober 2015, Drs. Suryadi telah berpulang menghadap Sang Khaliq. Suryadi pergi membawa karya luar biasa yang telah terpatri di hati begitu banyak anak Indonesia yang tumbuh di era 80-an. Suryadi sosok yang memberikan banyak kontribusi bagi tumbuh kembang anak Indonesia. Itu sebuah dedikasi yang tentunya bisa menjadi pelita bagi jalannya menuju kedamaian di kehidupan yang kekal. 
Selamat jalan Pak Raden, Tak perlu pura-pura encok lagi, karena di sana tak lagi ada kerja bakti. Selamat menikmati kehidupan terindah di sisiNYA. 
Cis kacang buncis eclek!
Unyil Kucing!

Penulis : Sari Puspita Ayu
Pimpinan Umum Cendana News dan Ketua Tim IT, Kreatif dan Komunikasi PT. Media Cendana Nusantara.

Twitter : @saripuspitaayu 

Lihat juga...