Stasiun Klimatologi dan Radar Cuaca Yogyakarta Diresmikan

Peresmian Stasiun Klimatologi dan Radar Cuaca Yogyakarta
YOGYAKARTA — Semakin kompleks dan ekstrimnya cuaca saat ini, semakin menuntut kebutuhan informasi cuaca yang lebih cepat dan akurat. Terutama informasi cuaca yang berhubungan dengan pertanian dan kebencanaan. 
“Yogyakarta sebagai salah satu kota penghasil pertanian utama yaitu padi, pun menjadi kota penting untuk dibuatkan stasiun klimatologi dan radar cuaca,”ungkap Sekretatris Utama BMKG, Dr. Widada Sulistya, DEA saat mewakili Kepala BMKG, Andi Eka Sakya dalam peresmian pembangunan Stasiun Klimatologi dan Radar Cuaca Yogyakarta di pedukuhan Sendangadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, Rabu (21/10/2015). 
Widada  memaparkan, berdasarkan data dari BPBD diketahui ancaman bencana di Yogyakarta adalah puting beliung, tanah longsor dan kekeringan. Sedangkan gempa jarang terjadi, namun sekali terjadi biasanya berskala besar. Selain itu, Yogyakarta juga merupakan daerah penghasil pangan. 
“Sesuai program pemerintah dalam hal swasbada pangan, keberadaan stasiun Klimatologi dan Radar Cuaca ini akan mendukung ketahanan pangan melalui informasi,” jelas Widada.
Disebutkan, anggaran pembangunan Stasiun Klimatologi dan Radar Cuaca berasal dari APBN sebesar kurang lebih Rp 25 milyar belum termasuk pengadaan tanah. Stasiun tersebut akan dapat memprediksi turunnya hujan lebat dua jam sebelum terjadi. Dengan kemampuam jangkauan sejauh 150 meter, radar cuaca tersebut juga diklaim mampu memberikan update informasi cuaca persepuluh menit. 
“Diharapkan dengan kemampuan radar cuaca yang sudah terpasang di 40 titik, prediksi cuaca dan iklim bisa diberikan sedini mungkin dan dampak bencana bisa diminimalisir”, ungkapnya. 
Lebih jauh Widada juga mengungkap, berdasar catatannya di Yogyakarta ada suatu daerah yang lebih dari 170 hari tidak hujan, utamanya di sekitar Bantul dan Gunungkidul, sedangkan di Kulonprogo musim hujan belum datang. 
“Maka dengan berbagai persoalan cuaca ini, keberadaan radar cuaca menjadi sangat strategis”, tegasnya.
Sementara itu, Sri Paduka Paku Alam IX yang hadir mewakili Gubernur DIY, Sultan HB X dalam sambutannya mengatakan, jika keberadaan stasiun klimatologi dan radar cuaca di Yogyakarta akan bermanfaat bagi manusia dalam mengenali alam dan gejala-gejalanya.
 Sedangkan Joko Siswanto selaku Kepala Balai Wilayah II BMKG mengatakan, dibangunnya Stasiun Klimatologi dan Radar Cuaca di Yogyakarta untuk lebih memaksimalkan pelayanan informasi secara tepat, cepat, akurat dan bisa lebih mudah dipahami terutama di bidang informasi cuaca dan iklim. 
Stasiuan Klimatologi dan Radar Cuaca Yogyakarta, dibangun sejak tahun 2012. Menempati lahan seluas 8.866 meter persegi, stasiun tersebut melengkapi Stasium Geofisika yang sudah ada sebelumnya. 
Sri Paduka PA IX meninjau peralatan

Ruang pemantauan 
RABU, 21 Oktober 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...