Status Waspada, Warga Dilarang Dekati Puncak Gunung Marapi

Gunung Marapi
BUKITTINGGI — Tertutup kabut tebal selama beberapa waktu terakhir, menyebabkan Gunung Marapi luput dari pengamatan visual. Padahal, menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bukittinggi, Gunung dengan ketinggian 2891 mdpl itu tengah berada dalam status waspada atau level II dan sewaktu-waktu dapat meningkat.
“Terhitung sejak 3 Agustus status Marapi masih belum turun karena tingginya aktifitas. Bulan ini masih terpantau di alat kami terjadinya gempa letusan dan hembusan,” ujar Warseno, Petugas Pemantauan Gunung Api Marapi. Rabu (14/10/2015) siang.
Menurut Warseno, akibat cukup tingginya aktifitas Marapi, warga dalam radius 3 km dilarang mendekati puncak karena berbahaya bagi keselamatan jiwa.
“Status Waspada tetap kita pertahankan. Radius 3 km dari pusat letusan tertutup dari segala aktifitas masyarakat, terutama pendaki,” lanjut Warseno mengingatkan.
Hingga 12 Oktober kemarin, pihak PVMBG mencatat sudah terjadi sebanyak 2 letusan dan 15 hembusan dari gunung yang terletak di kawasan Kabupaten Agam dan Tanah Datar itu.
Hanya saja, tebalnya kabut asap yang melanda hampir sebagian besar wilayah Sumatera Barat membuat PVMBG kesulitan untuk memantau secara visual. Kendati demikian, menurut Warseno pihaknya masih bisa mengandalkan instrumen untuk memantau aktifitas seismik.
Gunung Marapi merupakan salah satu gunung api paling aktif di Sumatera dan merupakan salah satu idaman bagi para pecinta alam. Saat hari libur, jumlah pendaki bisa menyentuh angka ratusan untuk menyaksikan pemandangan dari puncak tertinggi di Sumatera Barat itu.
Sejak akhir abad 18, Marapi tercatat sudah meletus lebih dari 50 kali. Teranyar, tanggal 26 Februari 2014, Marapi meledak cukup dahsyat hingga melepaskan material pasir dan vulkanik ke wilayah Tanah Datar dan Agam. Bahkan, pada 2011 lalu, semburan abu yang terbawa angin mencapai wilayah Kabupaten Padang Pariaman.
Puncak gunung marapi
RABU, 14 Oktober 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Foto            : Muslim Abdul Rahmad
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...