Tambah Penghasilan, Kelompok Wanita di Lampung Buka Usaha Rumahan

Pembuatan keripik pisang
LAMPUNG — Kebutuhan ekonomi yang semakin tinggi menuntut perempuan harus mampu mengatur perekonomian rumah tangga dengan lebih baik dengan ikut memberikan pemasukan dalam rumah tangga. 
Kondisi tersebut yang membuat beberapa perempuan di Kabupaten Lampung Timur melakukan upaya penambahan ekonomi keluarga dengan memanfaatkan potensi yang ada. 
Salah satu kelompok yang memanfaatkan potensi buah pisang yang banyak di daerah tersebut diantaranya Kelompok Sekar Asri yang terdiri dari sebanyak 10 orang perempuan di Desa Mataram Baru Lampung Timur. 
“Awalnya ragu untuk memulai tapi karena diyakinkan oleh salah satu motivator pemberdayaan perempuan agar wanita memberi nilai plus bagi keluarga akhirnya kami mulai dengan cara membuat keripik pisang,”ungkap Zubaidah kepada Cendana News, Sabtu (10/10/2015).
Zubaidah bersama sembilan perempuan di desa tersebut juga melibatkan para suami yang diantaranya bekerja sebagai petani pisang atau sopir eksepedisi ke wilayah Jakarta. 
Dukungan dari suami serta pelatihan dalam kelompok, baik oleh pemerintahan setempat serta mencontoh keberhasilan kaum wanita pelaku usaha kecil yang sudah sukses di wilayah lain memberikan semangat untuk memulai.
“Kami memulai dengan membuat keripik pisang yang memiliki varian manis serta gurih yang belum memiliki merk, tapi kami bekerjasama dengan toko penjualan oleh oleh khas Lampung satu diantaranya keripik pisang,”ujar Zubaidah.
Beberapa wanita anggota kelompoknya memang hanya bekerja sebagai rumah tangga, sementara itu Zubaidah yang juga sekaligus sebagai pegawai negeri sipil ingin memberdayakan kelompok perempuan di desanya. Pertemuan demi pertemuan hingga mulai bisa memproduksi keripik pisang menjadikan kelompok yang diketuainya bisa menambah penghasilan bagi keluarga.
Kendala permodalan ditahap awal diakui Zubaidah menjadi hal yang mendasar, namun karena beberapa anggota kelompok memiliki kebun pisang maka akhirnya potensi tersebut dianggap sebagai modal. Bermodalkan bahan baku yang melimpah tiga tahun yang lalu kemudian iuran para anggota kelompok tersebut mulai menggeluti usaha rumahan keripik pisang secara manual.
Zubaidah mengaku bersama Surini, Siti serta beberapa perempuan di kelompoknya mulai membuat keripik pisang sebanyak 10 kilogram yang dibuat dari 20 sisir pisang jenis pisang Kepok Manado yang dibelinya satu tandan seharga Rp.30ribu. Selain itu modal minyak goreng 5 liter seharga Rp.50ribu, gula pasir 1,5 kilogram Rp.18ribu serta bumbu bumbu lain sekitar Rp.15ribu.
Selain itu modal kompor gas serta biaya produksi Rp.200ribu akhirnya membuat kelompok tersebut mulai berjalan. Harga rata rata keripik pisang buatan kelompok tersebut perkilogram dijual dengan harga Rp.20ribu sehingga untuk sebanyak 10 kilogram bisa mendapat keuntungan Rp.62 ribu dengan keuntungan cukup lumayan.
“Awal kami membuat saat itu bertepatan dengan bulan puasa sehingga mendekati hari raya banyak pesanan sehingga menambahs emangat kami,”kenang Zubaidah.
Salah satu kendala setelah produksi berjalan diakuia Zubaidah serta anggota kelompoknya yaitu soal pemasaran karena penjualan keripik pisang saat ini didominasi oleh pabrikan berskala besar. Sebagai langkah untuk meningkatkan mutu kelompok tersebut mengajukan modal pinjaman kala itu dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan(PNPM) Mandiri untuk kelompok perempuan.
Modal kelompok yang mencapai Rp.10juta digunakan untuk membeli mesin vacum semacam penggorengan yang lebih modern tapi bisa dioperasikan secara sederhana. Akhirnya kelompok tersebut bisa memproduksi rata rata 50 kilogram seiring dengan banyaknya permintaan.
Permintaan tersebut merupakan awal untuk memasarkan produk keripik buatan kelompok tersebut khususnya permintaan yang masih berupa bahan baku. Permintaan berupa bahan baku tersebut yakni keripik pisang yang masih belum memiliki rasa dan dipasok oleh penjual keripik pisang yang menjual sebagai oleh oleh terutama di toko oleh oleh wilayah Pelabuhan Bakauheni.
“Mereka membeli dari kami lalu dikemas dengan kemasan lebih bagus dan diberi varian rasa coklat, gurih, manis serta varian lain, tapi kami juga tetap memproduksi yang sudah memiliki rasa,”ungkap Zubaidah.
Tanpa mau menyebutkan omzet dari pemberdayaan perempuan setelah memproduksi keripik pisang di kelompoknya, Zubaidah mengaku pembukuan, administrasi yang baik membuat kelompok tersebut akhirnya memiliki tabungan untuk keperluan semua anggota yang disisihkan dari keuntungan. Secara umum ia mengungkapkan peluang dari adanya potensi pertanian pisang di wilayah tersebut akhirnya bisa membantu sebagian ibu rumah tangga yang masih memiliki anak usia TK dan SD.
“Kami memang sengaja memilih kelompok yang keluarga muda dengan harapan ini merupakan proses pembelajaran bahwa kebutuhan tentunya akan terus bertambah apalagi jika anak anak mereka mulai memasuki jenjang sekolah yang lebih tinggi,”ungkapnya.
Berbekal modal semangat, modal peralatan serta kemauan anggota kelompok tak hanya keripik pisang, kelompok tersebut juga berniat membuat produk makanan tradisional yang bahan bakunya mudah diperoleh. Zubaidah serta anggota kelompoknya berharap kaum perempuan di desanya tak hanya mengandalkan penghasilan dari pekerjaan sang suami.
“Setidaknya untuk uang kebutuhan dapur, uang jajan anak saya bisa membantu suami dan penghasilan suami bisa ditabung untuk keperluan keluarga,”ungkap Siti salah satu anggota kelompok.
Kondisi musim kemarau yang melanda sebagaian besar wilayah Lampung dengan menurunnya kualitas dan jumlah buah pisang dipenuhi dengan memesan pisang dari daerah lain. Bahkan Zubaidah mengaku bahan baku diantaranya dibeli dari Lampung Selatan.
SABTU, 10 Oktober 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...