Tanggul Sungai Retak, Pemukiman Warga Terancam Luapan Air

Beberapa orang anak sedang bermain di tanggul yang rusak
LAMPUNG — Tanggul sungai di Desa Tanjung Heran Kecamatan Penengahan Lampung Selatan Provinsi Lampung mengalami kerusakan. Meski sudah berlangsung lama, namun hingga kini belum ada perbaikan yang dilakukan oleh pihak terkait. Bahkan kondisinya sudah sangat memprihatinkan, akibat terjangan banjir serta konstruksi yang tak sempurna. 
Salah satu warga Desa Tanjung heran, Karman (35) mengaku, saat musim kemarau tanggul yang longsor terlihat tidak membahayakan namun saat penghujan dipastikan tanggul dan tebing sungai akan semakin rusak.
Disebutkan, kerusakan tanggul dan tebing sungai terjadi akibat pembuatan tanggul yang dilakukan pada musim penghujan beberapa waktu lalu dalam kondisi tanah yang labil dan masih basah. Akibatnya saat musim kemarau jenis tanah merah yang labil tersebut retak dan amblas.
“Saat musim penghujan sungai yang akan menyatu dengan Way Pisang ini pernah mengalami banjir besar lalu dibuat tanggul namun akhirnya saat musim kemarau justru retak retak dan hancur,”ungkap Karman kepada Cendana News, Sabtu (03/10/2015).
Dikatakan, sungai tersebut memiliki dua cabang yang melintasi jembatan penghubung Desa Tanjung Heran dan Desa Semana, dan menjadi penting bagi warga sekitarnya untuk pengairan. Perbaikan yang dilakukan pada tanggul di sisi kanan dan sisi kiri beberapa tahun lalu membantu perumahan warga tidak terimbas banjir di saat musim penghujan dan juga menyelamatkan hektaran sawah.
Kerusakan tanggul juga diakibatkan dalam proses pembuatan tidak menggunakan beronjong di beberapa bagian. Akibatnya ketika terkena terjangan air saat hujan dan kemarau panjang membuat tanah di sekitar tanggul merekah dan retak. Selain itu wilayah sekitar bantaran sungai selalu menjadi langganan banjir akibat air sungai yang meluap.
“Kerusakan parah ada puluhan meter meskipun di beberapa bagian dibuat beronjong untuk penguatan bantaran sungai, tapi di sisi sebelah Barat lebih labil tanahnya,”ujar Karman.
Warga lain yang berada di sekitar sunga tersebut, Wahyudin (34) bahkan telah menyiapkan karung karung berisi pasir dan batu sebagai antisipasi saat meluapnya air sungai yang diyakini tidak dapat dibendung oleh tanggul yang rusak dan longsor.
Titik longsor yang berada tak jauh dari perumahan warga tersebut terlihat semakin terbuka selama musim kemarau dan akan semakin parah saat musim hujan. Beberapa warga bahkan melawan bahaya dengan menggunakan tanggul yang longsor tersebut untuk pergi ke sawah mereka di seberang sungai.
Camat Kecamatan Penengahan, Lukman Hakim mengaku sudah memetakan wilayah tersebut sebagai wilayah rawan banjir dan longsor pada bagian tepi sungai. Sama halnya dengan wilayah di Desa Gayam yang berada di tepian sungai Way Pisang ia menghimbau agar meski masih musim kemarau warga selalu mengantisipasi jika musim penghujan datang dan banjir terjadi.
“Sebab, setiap musim penghujan sering meluap, meski tidak merendam rumah tapi beberapa rumah di tepian sungai rawan tergerus pondasinya dan bisa roboh diterjang air,”ungkapnya.
Selain itu, pihaknya meminta warga yang tinggal di sekitarnya untuk selalu waspada. Hal itu dimaksudkan agar apabila sewaktu-waktu terjadi banjir bisa segera dilakukan penanganan, termasuk mengevakuasi warga apabila diperlukan. 
Warga menunjukan tanggul yang rusak

SABTU, 03 Oktober 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...