Tolak PP Pengupahan, KAU Demo ke Istana Negara

JAKARTA — Gelombang aksi unjuk rasa perlawanan elemen tenaga kerja terhadap pemerintah semakin gencar. Ribuan buruh dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Banten yang tergabung dalam Komite Aksi Upah (KAU) kepung Istana Merdeka Jakarta. Aksi demonstrasi ini dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap disahkannya Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 Tentang Pengupahan.
Seperti yang dilakukan oleh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang menilai peraturan tersebut merupakan bencana besar bagi tenaga kerja di Indonesia.
“Bagi kami, Pp Pengupahan No 78 Tahun 2015 yang baru disahkan oleh Jokowi merupakan bencana besar bagi kaum buruh indonesia,”ujar said iqbal, Presiden KSPI di Depan Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara Jakarta, Jumat, (30/10/2015).
Disebutkan, bencana besar bagi tenaga kerja karena pendapatan buruh Indonesia yang berbasis upah minimum hanya sebesar 1,1 juta sampai 2,9 juta.
“Kita makin jauh tertinggal dari negara negara lainnya seperti Filipina, Thailand, China yang upahnya telah mencapai 3,5 jutaan,” tandasnya.
Dikatakan, protes buruh terhadap PP Pengupahan itu bukan pada contennya, melainkan pada proses penetapan yang tidak melibatkan dan mendengar aspirasi kaum buruh.
Dijelaskan, PP Pengupahan adalah politik upah murah yang dibuat oleh pemerintahan kabinet kerja agar kemiskinan bisa dilakukan secara sistematik dan hanya memuaskan kalangan investor rakus yang akan mengeksploitasi SDA, SDM Indonesia jelang MEA Desember 2015.
“Kami akan terus melawan terhadap lebijakan pemerintah, hingga Jokowi menerapkan kebijakan ekomomi yang pro rakyat bukan pengusaha hitam,” Jelas ikbal
Dalam aksi tersebut, Komite Aksi Upah (KAU) menuntut:
1, Menolak formula dan mekanisme penetapan upah minimum yang hanya berbasis inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
2, Copot menteri tenaga kerja, yang telah gagal memberikan perlindungan dan meningkatkan kesejahteraan kaum buruh.
JUMAT, 30 Oktober 2015
Jurnalis       : Adista Pattisahusiwa
Foto            : Adista Pattisahusiwa
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...