Wanita dan Rumahnya

Rusmin Toboali
CERPEN — Senja itu pelangi memburam. Sinarnya tak berdiorama warna warni. Ada keburaman dalam sinarnya. Ada kemuraman dalam cahayanya. Seolah menggambarkan kepedihan hati seorang wanita setengah baya yang sedang menatap senja itu yang berpelangi. Seakan-akan menyiratkan sebuah kelaraan jiwa yang mendalam. Tatapan matanya hening menatap lengkungan jingga senja itu. Entah apa yang sedang dia perbincangkan dengan hatinya. Tak ada yang tahu. Senja semakin menggelap tanda malam akan tiba. Dan rumah adalah istana kemewahan bagi setiap manusia untuk mengistirahatkan diri. Tapi wanita itu seakan-akan enggan pulang. 
Semenjak rumahnya dijadikan iklan oleh para sahabatnya untuk dijual, wanita itu bukan hanya kebanjiran tawaran  harga tinggi untuk rumahnya. Namanya melejit sebagai selebiritis baru bagi panggung media berekpresi. Awak media terus memburunya untuk mendapatkan info-info terkini dan teraktual. Dan dalam rentang 3 pekan, namanya menjadi ternding topik di media. Seluruh jagad raya mengenalnya. Dan yang amat mengecewakannya, rumahnya pun belum terjual sesuai dengan keinginannya.
” Saya itu hanya ingin menjual rumah dan masalah saya selesai. Dan saya tak berniat menjadi selebritis. Itu kisah lama yang tak bertuan,” ungkapnya kepada sahabatnya.
” Saya mengerti dan memahaminya. Mbak. Tapi karena ini sudah menjadi media darling, mau tak mau Mbak harus siap menghadapinya. Itu adalah konsekuensi dari sebuah dampak beriklan di media,” jawab sahabatnya.
“Saya mengerti. Yang saya tak mengerti dan tak habis pikir kenapa hingga hari ini, rumah yang saya iklankan tak terjual? Padahal itu kan yang lebih penting bagi saya daripada diwawancarai media-media itu. Dan ingat saya tak berniat lagi menjadi seorang penyanyi. Itu kisah tempo dulu,” ujarnya dengan nada setengah ketus.
” Sabar mbak. Menjual rumah itu tak segampang membalik telapak tangan lho. Tak segampang kita menjual kacang goreng atau roti. Saya sudah berpengalaman,” jawab sahabatnya menyabarkan kegundahan wanita setengah baya itu.
Wanita setengah baya itu baru menyadari bahwa konsekuensi sebuah perjalanan hidup yang tak lurus bukan hanya menghamparkannya dalam sebuah kedukaan yang menggunung. Lebih dari itu, sebuah tantangan harus dijawabnya dengan kelaraan yang tak pernah dibayangkannya. Keindahan hidup yang semula dibayangkannya ternyata hanya fatamorgana. Kebahagian hidup yang diimpikannya terhanya hanya sebuah tepian. Dan dia kini mulai menyadarinya. Ternyata impian dan cita-cita tak berbanding lurus dengan keinginan manusia.
Ambisinya untuk menjadi penyanyi terkenal bukan hanya membuat dirinya harus berpisah dengan lelaki yang telah menyayanginya selama ini, namun ambisi tak bertuan itu telah menyeretnya dalam kehidupan hidup yang merendahkan martabatnya sebagai seorang wanita berkodrat. Ambisinya menyeretkannya terlibat dalam gelapnya malam yang durjana. Dan lelaki yang dianggapnya mampu untuk mengorbitkannya sebagai penyanyi papan atas, tak lebih dari seorang pecundang. Habis manis sepah pun terbuang. Hanya seorang parasit.
” Saya menagih janji kamu yang akan mengorbitkan saya sebagai penyanyi. Mana realisasinya. Mana janji manismu itu?,” tanya wanita setengah baya itu kepada lelaki di sebuah kamar penginapan klas melati.
” Mbak harus sabar dan sabar. Persaingan untuk masuk rekaman bukan hanya soal kecantikan dan suara yang bagus, tapi ada faktor lainnya,” jawab lelaki itu sambil memberi kode lewat jari jempol dan telunjuknya.
” Saya memahami. Tapi sudah berapa banyak fulus yang saya keluarkan, tapi tanda-tanda itu sama sekali tak ada. kamu kok tak mensinyalkan bahwa realisasi itu terukur,” ungkapnya.
” Saya janji, minggu ini Mbak akan masuk rekaman. Tadi sebelum saya kesini, seorang produser rekaman telah menelpon saya. lebih baik kita bahagiakan nurani kita dengan aksi yang menduniawi sehingga meringgankan beban kita,” kata lelaki itu. Dan sebagaimana malam-malam sebelumnya desah nafas keduanya pun berpacu melawan dinginnya malam. Keduanya pun terkulai diterjang nafsu yang sesat.
Kelaraan hidupnya makin menduka ketika seorang lelaki gendut yang mengaku sebagai produser musik ternyata hanya berniat mereguk kasih sayang semata darinya. Kecantikannya ternyata hanya menjadi bahan perasan para penggiat malam tanpa malu. Dan ketika hutangnya mulai menggunung, tak seorang pun dari para pereguk kenikmatan sesat itu yang mampu menjawab kelaraannya. Hanya rumah yang menjadi tumpuan hidupnya kini. Setidaknya dengan menjual rumahnya, dia mampu meloloskan diri dari para penagih hutang yang berwajah sangar tanpa kemausiaan itu.
Kelaraan makin terasa panjang ketika iklan yang dibuat sahabatnya ternyata berbuntut panjang. Usai diklankan sahabatnya dimedia sosial, bukan hanya tawaran soal rumah yang dia terima, namun juga tawaran untuk dijadikan istri oleh para penawar rumahnya. Apalagi pola penawaran rumah yang dilakoninya unik sehingga para awak media mengincarnya untuk dijadikan berita. Kini setiap hari dia harus menerima kunjungan dari para awak media. Sementara kelaraannya semakin membukit.
Eskalasi namanya lewat media ternyata tak berbanding lurus dengan asanya untuk menuntaskan permasalahan hidupnya. Kepopuleran namanya sebagai bintang baru dalam media, tak mampu hapuskan laranya yang makin meninggi. Walaupun tak dapat dipungkirinya ada tawaran dari berbagai mata acara tipi yang mengundangnya sebagai tambahan uang dapurnya untuk tetap ngebul. Namun itu hanya untuk kepentingan sesaat. Tak menjawab impiannya untuk menuntaskan permasalahannya yang makin hari makin menggunung.
Dan ketika ada seorang lelaki muda yang datang bukan hanya sekedar menawarkan rumahnya, tapi menginginkannya menjadi Ibu dari anaknya, wanita itu gamang menghadapinya. Keputusasaan tampaknya masih membekas. Nasehat dari keluarga dan sahabatnya pun tak digubris. Ada rasa sesal yang membekas dalam otaknya yang cerdas. Sebuah memori yang tak gampang dilupakan.
” Saya tahu mareka itu hanya menginginkan tubuh saya semata. Mareka hanya ingin mereguk kebahagian semata tanpa tahu derita saya,” ujarnya dengan nada ketus.
” Lelaki ini beda. Sangat berbeda dengan lelaki yang kamu temui dan kenal selama ini,” ujar sahabatnya menyakinkan.
” Iya, Nak. Ibu pernah ketemu dengannya. Dia sangat serius ingin meminangmu,” ungkap Ibunya. Wanita itu pun trenyuh. Hatinya pun perlahan luluh. Apalagi ketika lelaki muda itu bertandang ke rumahnya dengan membawa segenggam harapan yang sempat mati suri.
” Saya serius lho mbak. Saya ingin kita membina rumah tangga yang bahagia. Saya siap membahagiakan Mbak. Saya ingin Mbak bahagia karena saya tahu Mbak selama ini tak bahagia,” jelas lelaki muda itu dengan narasi mantap. Malam makin melarut.
” Saya siap melunasi segala persoalan Mbak. Dan kalau Mbak tak mau rumah ini dijual pun tak masalah bagi saya karena saya yakin Mbak adalah wanita yang saya rindui selama ini yang bisa membahagiakan saya,” lanjut lelaki muda itu. 
Wanita setengah baya itu pun luluh. Malam hening. Cahaya menebarkan kebahagiaan bagi penghuni bumi. Sebagaimana kebahagian yang kini dirasakan oleh wanita setengah baya itu hingga ke tulang sum-sumnya yang tak pernah dia rasakan. Ya, itulah kebahagian hakiki yang akan didapatnya dari lelaki muda yang mencintainya dengan setulus hati. 
SABTU, 31 Oktober 2015
Penulis       : Rusmin Toboali
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...