Warga Buat Sumur di Tepi Sungai untuk Peroleh Air Bersih

Sumur di tepi sungai
LAMPUNG — Musim kemarau panjang yang hingga awal Oktober masih berlangsung di sebagian wilayah Provinsi Lampung mengakibatkan kebutuhan air bersih menjadi hal yang sangat vital. 
Bencana kekeringan di Provinsi Lampung mengakibatkan warga memanfaatkan sungai Way Pisang yang berhulu di Gunung Rajabasa. Sungai yang telah mengering serta mengalirkan air dengan debit yang sangat kecil dan kering di pinggirnya dimanfaatkan oleh warga Desa Tanjung Heran Kecamatan Penengahan untuk mencari sumber air.
Pantauan Cendanews, beberapa kabupaten masih dilanda kekeringan cukup parah sehingga warga banyak memanfaatkan air sungai yang kotor untuk keperluan mandi, cuci. Kebutuhan air bersih diperoleh dengan membeli serta mencari di sumber sumber air yang letaknya sangat jauh dari lokasi tempat tinggal warga. 
Namun bagi Karman (35) tinggal di bantaran sungai membuatnya tak kehilangan akal. Meski susah mendapatkan air dari sumur yang telah mengering ia memanfaatkan sumur sumur kecil buatan (beilik) di pinggir sungai untuk membuat lubang yang menampung air.
“Sudah sejak empat bulan lebih saya membuat lubang di pinggir sungai Way Pisang ini sehingga mendapatkan sumber air bersih,”ungkap Karman kepada media Cendananews.com Jumat (2/10/2015).
Karman mengaku membuat sumur kecil di pinggir sungai karena sumur miliknya telah kering sehingga tak bisa lagi dipompa. Selain itu debit air di Sungai Way Pisang pun telah mengering dan hanya mengalir sebagian. Bahkan sungai tersebut sudah ditumbuhi rumput menyisakan sungai yang lebarnya 10 meter lebih hanya menjadi 4 meter lebarnya.
Musim kemarau tahun ini Karman dan warga lainnya mengaku tak mendapat bantuan air bersih dari pemerintah setempat. Akhirnya meski mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli pipa PVC beberapa puluh meter serta menggali bebatuan serta pasir di pinggir sungai dan memasang mesin pompa kebutuhan air masih bisa terpenuhi meski harus lebih berhemat.
“Hatus bagaimana lagi. Terpaksa saya buat sumur di pinggir kali. Lokasinya untung cukup dekat dengan tempat tinggal. Kondisi ini terus terjadi selama kemarau berlangsung, setiap tahun,” ucap Karman sambil mengecek mesin pompa miliknya.
Sumur buatan tersebut disaring dengan beberapa penyaring dari serabut kelapa, serabut aren serta dipagari dengan strimin agar tidak ada hewan atau binatang yang masuk. Beberapa balok kayu digunakan sebagai penyangga sumur buatan yang bisa memenuhi kebutuhan air bersih bagi keluarganya setiap hari meskipun warga lain kesulitan memperoleh air bersih.
Warga lain di Tanjung Heran lainnya, Sumantri juga mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya, setiap musim kemarau datang, sumur-sumur warga mengering. Selain membuat sumur di pinggir sungai, warga juga terpaksa masuk ke tengah hutan Gunung Rajabasa mencari sumber air yang tersisa.
“Harus menempuh jarak sekitar lima kilometer untuk masuk ke pinggir hutan. Sumber air di kali yang tersisa di tengah hutan kemudian dibuat menjadi sumur untuk ngangsu. Kebanyakan ya jalan kaki,” ujarnya.
Meski lelah, namun warga mengaku tidak masalah, demi bisa memperoleh air untuk mencuci, dan minum. Warga berharap musim penghujan segera datang agar kebutuhan warga akan air bisa terpenuhi.
JUMAT, 02 Oktober 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...