Warga di Lampung Selatan Kesulitan Peroleh Gas Elpiji 3 Kilogram

Antri dalam operasi pasar gas 3 kg [ilustrasi]
LAMPUNG — Kebutuhan akan tabung elpiji melon atau elpiji ukuran 3 kilogram mulai mengalami kesulitan dalam hal pasokan di wilayah Kecamatan Penengahan Lampung Selatan. Hal tersebut diakui sejumlah pedagang pengecer yang mengaku sulit karena dari distributor sedang tidak ada pasokan.
Salah satu pedagang pengecer yang memiliki warung di Desa Klaten Kecamatan Penengahan, Imam (34) mengaku dalam tiga hari terakhir ,diakuinya sedang sulit pasokan gas elpiji ukuran 3 kilogram. Keterlambatan atau sebab lain mengakibatkan warga yang hendak membeli tabung gas terpaksa mengurungkan niatnya akibat tak ada stok.
“Ada sekitar 20 tabung tapi tabung semuanya kosong karena dari distibutor yang kadang mengirim dengan mobil belum datang, setiap ada pembeli yang datang kami minta membeli di daerah lain yang masih ada stok,”ungkap Imam saat ditemui media Cendana News, Minggu (11/10/2015).
Imam mengaku permintaan masyarakat akan gas Liquefied Petroleum Gas (LPG) terutama ukuran 3 kilogram memang meningkat. Ia menengarai banyaknya masyarakat yang memiliki hajatan atau kegiatan untuk syukuran serta membangun menjadi faktor penyebab kebutuhan tabung elpiji semakin meningkat. Akibatnya membuat distributor kekurangan pasokan gas ukuran 3 kilogram.
“Kalau permintaan banyak dan penggunaan banyak tentunya akan cepat habis mudah mudahan segera dapat pasokan karena kasian masyarakat harus beralih sementara menggunakan kayu bakar,”ungkap Imam.
Ia mengungkapkan, meskipun pasokan langka namun penjualan harga elpiji di warungnya masih dikisaran harga Rp.25ribu sementara di warung lain ada yang menjual dengan harga Rp.26ribu.
Dirinya mengatakan, untuk memenuhi keinginan masyarakat saat ini, dirinya harus bersaing dengan penjual lainnya untuk memesan lebih awal kepada agen besar.
“sekarang kita harus cepat dan rajin rajin nelpon depot gas, karena kalau lambat tidak kebagian,” ungkapnya.
Salah seorang ibu rumah tangga di Kecamatan Penengahan, Sumini (34) mengaku sudah sejak dua hari memasak menggunakan kayu bakar. Ia mengaku mencari ke sekitar 4 warung yang ada di wilayahnya namun stok gas elpiji sedang tak ada. 
“Saat gas elpiji saya habis kebetulan sudah malam dan saat pagi hari saya mencari ke warung yang biasa menjual gas justru sedang kosong, terpaksa ganti pakai kayu bakar sementara untuk memasak,”ungkapnya.
Ia berharap pasokan gas segera normal kembali agar ia bisa memasak menggunakan gas yang saat ini sementara menggunakan kayu bakar. Ia juga berharap saat ada kelangkaan pasokan gas segera dilakukan operasi pasar dengan penjualan elpiji dengan harga murah.
MINGGU, 11 Oktober 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...