Warga Keluhkan Isi Tabung Elpiji 3 Kilogram yang Berkurang

Warga sedang memasak menggunakan kompor gas
LAMPUNG — Sejumlah warga di Kecamatan Penengahan Lampung Selatan mengeluhkan Isi gas di dalam tabung gas elpiji 3 kilogram (kg) yang dirasa semakin berkurang. Tabung gas elpiji 3 kilogram yang isinya lebih sedikit  tersebut dirasakan oleh warga sejak sebulan terakhir.
Keluhan paling banyak dirasakan warga di Kecamatan Penengahan. Menurut Sundari, salah satu warga Desa Klaten, setiap membeli tabung gas elpiji subsidi tersebut, isinya berkurang karena hanya bisa bertahan kurang dari 9-10 hari.
Padahal biasanya, menurut dia, elpiji melon itu bisa digunakan selama dua pekan. Selain itu, dia mengungkapkan bahwa segel dalam kemasan tabung itu juga sudah rusak. Padahal tabung elpiji ukuran 3 kilogram tersebut dibelinya dengan harga Rp.23ribu dan di warung lain Rp.24ribu namun cepat habis saat digunakan meski pemakaian normal seperti biasa.
“Kalau dulu masih tinggal di Penengahan segel tabungnya sulit dibuka sampai-sampai mengunakan pisau, tapi dibuka menggunakan tangan saja bisa,” keluh Sundari, di rumahnya saat sedang memasang selang elpiji, Selasa (29/6/2015).
Warga menduga sebelum dijual, tabung tersebut terlebih dahulu dikurangi isinya, dengan cara dipindahkan ke tabung lain. Untuk itu warga meminta agar Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan  melalui dinas terkait melakukan penyidikan mendadak (sidak) di sejumlah agen elpiji.
“Harus disurvei ke agen elpijinya. Kalau seperti ini, kasihan kami sebagai konsumen merasa dirugikan,” ujar dia.
Masyarakat berharap agar dinas terkait bisa  melakukan sidak ke beberapa agen. Dia mengaku menyesalkan sikap oknum yang berbuat curang yang diduga untuk mengurangi isi tabung.
“Kami sebagai  masyarakat kecil tidak tahu ke mana harus  melaporkan terkait keluhan berkurangnya isi tabung elpiji 3 kilogram jika menemukan tabung gas elpiji yang isinya tidak sesuai kami komplain ke pengecer tapi mereka juga tidak tahu,” kata Sundari.
Sementara itu warga lain Hamsiah, mengaku dirinya yang memiliki usaha pembuatan keripik mengaku kecewa dengan isi tabung elpiji yang berkurang. Sebagai langkah untuk menyiasati kerugian ia terpaksa menggunakan kayu bakar untuk memproduksi keripik.
“Saya berniat beralih ke tabung elpiji ukuran 12 kilogram namun harganya agak mahal jadi urung karena akan menambah tinggi biaya produksi”ungkap Hamsiah.
Ia pun menyayangkan pihak pengecer yang tak menyediakan timbangan khusus untuk memastikan isi tabung elpiji sehingga konsumen memperoleh informasi yang tepat terkait isi tabung elpiji 3 kilogram yang dijual. Selama ini konsumen membeli tabung elpiji ukuran 3 kilogram tanpa mengecek beratnya sehingga baru menyadari saat cepat habis warga baru menyadari semakin sedikitnya isi tabung elpiji yang digunakan.
Salah satu pedagang pengecer tabung elpiji 3 kilogram, Gopar mengaku mendapat keluhan dari para para pembeli yang akhir akhir ini lebih cepat membeli tabung elpiji ukuran 3 kilogram untuk pemakaian normal. Ia pun mengaku pernah menyampaikan hal tersebut kepada agen namun agen pun tak memiliki jawaban memuaskan.
“Kalau konsumen mengeluh sudah saya sampaikan tapi bagaimana tindak lanjutnya belum tahu persis harapannya agar isinya sesuai dengan sebutan tabung 3 kilogram”ungkapnya.
Meski ada keluhan terkait isi tabung elpiji 3 kilogram yang dikeluhkan masyarakat Gopar mengaku permintaan akan tabung elpiji tersebut masih cukup banyak. Sementara untuk tabung elpiji ukuran 12 kilogram hanya dibeli oleh kalangan pembeli yang memiliki usaha warung.
SELASA, 13 Oktober 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...