Yan Ayomi: Era Soeharto, Rakyat Sejahtera dan Situasi Aman

JAYAPURA — Dalam kepemimpinannya selama 30 tahun, kinerja dan karakter Presiden ke 2 Republik Indonesia, HM. Soeharto tentu memiliki kesan tersendiri dari rakyat. Baik itu positif maupun negatif. Seperti yang diungkapkan salah seorang saksi sejarah dari Papua, Yan Ayomi yang sempat di wawancara oleh Cendana News.
Berikut pandangan Yan Ayomi terhadap HM. Soeharto. 
“Zaman Soeharto saat itu sangat aman, tenang, serta ekonomi stabil selama 30 tahun dipimpin Soeharto. Saya ini pengagum berat Soeharto. Saat jenderal-jenderal dibunuh pada tanggal 30 September 1965, disitulah Soeharto unjuk gigih menumpas gerakan komunis, dan saat-saat itu sangat sulit dan tegang, tapi beliau dapat memulihkannya,” ungkap Yan Ayomi, putra ketiga dari Purnawirawan, almarhum Sersan Mayor Marthen Ayomi (72) dan Martha Sawaki (62).
Pria yang sejak masih duduk di bangku Universitas Cenderawasih (Uncen) Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisip), Jayapura tepatnya di tahun 1973 telah aktif di Golkar, kagum akan kepemimpinan pada masa emas Bapak Orde Baru, ketika beliau berhasil merebut kembali Irian Barat (yang berubah nama ke Irian Jaya dan kini Papua) pada tahun 1963.
“Sejak Trikora dikumandangkan, Soeharto ditunjuk sebagai Panglima Trikora dan beliau berhasil membawa Irian Barat kepangkuan NKRI,” ungkap politisi partai Golkar Papua ini.
Penilaian dirinya terhadap Bapak Orde Baru ini adalah pemimpin yang tidak banyak bicara, namun banyak tindakan nyata positif yang dirasakan rakyat Indonesia selama 30 tahun. Kemakmuran, terlihat disemua daerah seantero Indonesia.
“Beliau banyak mengilhami saya, yang saya dapat dari dia tidak banyak bicara, tetapi sekali bicara, dia sangat tegas. Itulah kelebihan Soeharto. Selama dia memimpin, negara ini aman, karena beliau tidak memandang suku, agama, ras. Salah menurut pancasila, harus diteggakkan,makanya waktu dulu saya ke Jakarta, sangat aman sekali, sekarang saya ke Jakarta, baru sampai di bandara saja, merasa tidak aman,” kata Yan Ayomi.
Semenjak kepemimpinan Soeharto, dirinya telah bertemu sebanyak 3 kali. Saat itu Yan sendiri sebagai ketua Angkatan Muda Pemuda Indonesia (AMPI) organisasi pemuda dari Partai Golkar Irian Jaya (kini Papua)
“Saya ada pegang tangan dengan Soeharto tiga kali, terakhir saat ada pertemuan di Istana Presiden, waktu itu Soeharto masih jadi Presiden, antara tahun 1985 atau 1986. Saat itu saya minta perhatian logistik militer untuk Kodam Trikora di Papua. Anak-anak beliau sampai saat ini tetap saya hormati karena sesama anak-anak purnawirawan,” kata Yan lulusan SMA Negeri 417 Serui, Papua ini.
Menurutnya, saat ini pembangunan ideologi bangsa sangat kurang perhatian. Berbeda jauh saat kepemimpinan Soeharto. Dirinya sebagai orang Papua merasa bangga saat dipimpin Pak Soeharto pada masa kepemimpinananya.
“Soeharto saya akui dia hebat, karena dia memperhatikan pembangunan ideologi bangsa melalui Pedoman Penghayatan Pedoman Pancasila atau P4,” bebernya.
Saat ini, menurutnya, pembangunan ideologi bangsa terlantar sejak adanya reformasi dan sangat berbahaya bagi penerus bangsa Indonesia. Dengan adanya Hari Kesaktian pancasila, lanjutnya, itu adalah tonggak sejarah merenovasi ideologi pancasila kepada penerus bangsa.
“Kami ingin bangsa ini besar dan maju, jadi jangan melupakan sejarah itu. Dan pemerintah jangan meminta maaf kepada keluarga G.30.S/PKI. Untuk apa minta maaf. Karena kalau diikuti waktu di Muso dari tahun 1946, sampai di Blitar. Itu kan yang dibunuh PKI banyak sekali, keluarga korban dari PKI saja tidak menuntut,” kata pria kelahiran 19 maret 1952, anak ketiga dari 14 bersaudara ini.
Ancaman-ancaman tentang ideologi bangsa, dikatakan Yan, kedepannya pasti akan ada. “Jadi kita semua harus waspada dengan idoelogi komunis yang dapat mengancam bangsa ini, apabila negara tidak segera membangkitkan ideologi pancasila kepada anak-anak kita saat ini,” beber mantan Manager Irian Jaya Joint Development Fondation yang berkedudukan di Jayapura, saat itu dikenal sebagai yayasan kerjasama untuk membangun Irian Jaya.

JUMAT, 02 Oktober 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Foto            : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo

Lihat juga...