90 Persen Pohon Salak di Pakem Sleman Mati Akibat Musim Kering

Mukiyat, petani salak di Pakem
YOGYAKARTA —  Berbeda dengan petani salak pondoh di desa Turi yang relatif masih bisa bertahan dari keringnya musim kemarau saat ini, petani di desa Pakem, Sleman, Yogyakarta, nasibnya sangat memprihatinkan. Ratusan pohon salak mengering dan mati, sehingga memaksa petani kelak menggantinya dengan bibit baru yang berarti harus menunggu waktu lama lagi untuk bisa mulai berbuah.
Seperti yang dialami Mukiyat, petani salak pondoh dusun Sidorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Ditemui Rabu (4/11/2015) siang, dia menuturkan, akibat kemarau panjang ini tanaman salak miliknya di lahan seluas kurang lebih 1.000 meterpersegi, meranggas dan sebagian bahkan mati. Kecewa dengan kondisi tersebut, Mukiyat pun membiarkan lahan salaknya begitu saja, sehingga kondisinya semakin tampak memprihatinkan. 
Mukiyat mengatakan, hampir 90 persen pohon salaknya mengering karena tak lagi mendapatkan pasokan air dari sungai. Sedangkan irigasi pertanian digunakan  bergantian sehingga tak mampu mensuplai semua lahan. Dengan kondisi demikian, Mukiyat pun memastikan tidak akan bisa panen. Jangankan berbuah banyak, katanya, bunga pohon salaknya pun kering, menyusut dan menjadi rumah bagi semut. 
“Kalaupun ada yang berbuah, hasilnya tidak akan maksimal. Buahnya kecil dan tidak banyak dan harganya pun pasti jatuh. Bahkan tidak laku dijual”, ungkapnya.
Mukiyat pun mengaku semakin getir, manakala menyadari jika harga salak saat ini sedang tinggi, yaitu Rp 6000-7000 perkilonya. Kecuali itu, pohon salaknya yang meranggas itu baru berusia dua tahun. Dalam kondisi normal, katanya, pohon salak usia 2 tahun masih sangat muda dan produktif sekali menghasilkan buah. Namun apa daya, Mukiyat harus merelakan pohon salaknya tersebut dan menggantinya dengan yang baru nanti jika musim telah bersahabat lagi.
Dalam kondisi normal, setiap bulannya Mukiyat bisa memanen buah salak sebanyak 30an kilo. Lalu, pada musim panen raya bulan Desember-Januari, hasil panennya bisa melimpah sampai 300-an kilo lebih. Buah salak yang berbuah di setiap musim biasa dijualnya ke pasar atau pengepul. Namun ada kalanya pembeli datang dan memilih sendiri buah salaknya. 
Pohon Salak meranggas

Salak tak berbuah akibat kekeringan
JURNALIS : KOKO TRIARKO
Jurnalis Cendana News wilayah DI.Yogyakarta. Bergabung dengan Cendana News bulan Agustus 2015. Sebelum bergabung di Cendana News, jurnalis, penulis dan fotografer di beberapa media cetak lokal.
Akun twitter @KOKOCND
Lihat juga...