Ada Pembiak Uang di Kampung Kami

Rusmin Toboali
Awan berarak, lintasi bintang, susuri gugusan galaksi, langit makin mentemaramkan jagad raya, sinar rembulan seolah enggan bersinar, hanya terdiam.
Suara kokok ayam makin terdengar, seiring merdunya suara ayat-ayat suci yang berkumandang dari masjid. Tenteramkan suasana hati dan batiniah manusia yang mendengarnya. Ada rasa nikmat yang tak terperikan. Ada rasa damai. Tenang.
Sukri baru saja selesai membaca ayat suci Alquran, saat  di pagi yang damai ini terdengar suara ketukan dari arah depan rumahnya.
Dalam hatinya Sukri membatin. Siapa yang mengetuk pintu dipagi-pagi buta ini? Apakah Pak yusuf yang mau mengajaknya untuk sholat subuh berjemaah? Atau ada yang butuh pertolongan.
Sembari menuju pintu depan rumahnya seribu pertanyaan terus bergelayut dalam pikiran dan otak kecil Sukri.
Dan betapa kagetnya Sukri saat pintu depan terbuka tampak lima laki-laki berbadan tegap penuh tato telah berdiri. Dari mulut mareka tercium aroma minuman. Dan Sukri paham kelima lelaki tegap itu adalah anak buahnya Ko Aciu, yang dikenal warga Kampung Kami sebagai pembiak uang atau rentenir.
“Ada yang bisa saya bantu, bapak-bapak,” sapa Sukri dengan ramah.
Dan sapaan Sukri pun mareka jawab dengan suara ketawa yang keras sehingga beberapa warga yang hendak menuju masjid dan melewati rumah Sukri pun berhenti melihat aksi purba lima kawanan manusia suruhan itu.
“Ada pesan dari Bos untuk bapak,” jawab seorang dari lima lelaki itu.
“Katakan pada bos mu usai sholat subuh, aku akan datang ke rumahnya,” jawab Sukri tegas.
Kelima manusia suruhan itu pun langsung meninggalkan rumah Sukri dengan berjalan sempoyongan. Bahkan salah satu dari mareka terpaksa digotong kawannya yang lain karena tak bisa berjalan.
Usai sholat subuh, Sukri langsung menuju rumah Ko Aciu yang terletak diujung Kampung Kami. Saat memasuki rumah lelaki yang dikenal sebagai lintah darat itu, Sukri melihat begitu orang-orang tertidur di teras rumahnya bahkan jalan masuk rumah Bos duit itu.
Ko Aciu tampak bahagia melihat Sukri datang ke rumahnya. Ko Aciu merasa bangga juga didatangi orang punya pengaruh di Kampung Kami. Maklumlah selama ini Sukri adalah teladan dan panutan bagi warga Kampung walaupun tak memiliki jabatan struktural dalam pemerintahan Kampung Kami.
“Masuk. masuk Pak Sukri. terimakasih sudah berkenan mampir ke rumah,” sambut Ko Aciu dengan ramah.
“Ada apa ya Ko Aciu. Kok tadi anak buahnya Ako menyuruh saya ke rumah,” tanya Sukri tanpa basa-basi.
“Mohon maaf Pak Sukli wo. Maklum anak-anak. Tak ada etika. Soal sisa duit dulu, gimana ya Pak Sukri,” tanya Ko Aciu.
“Lho bukannya pokok dan bunganya sudah saya bayar lunas,” 
“Iya, Pak Sukli. Tapi dalam catatan buku saya ada bunga yang belum pak Sukli bayar,”
“Ntar Siang sebelum Zohor, Ako ambil di rumah ya. Saya tunggu.
Dikalangan warga Kampung Kami Ko Aciu adalah pemiskin rakyat. Dengan dalih membantu warga yang perlu bantuan permodalan, namun pada prosesi selanjutnya bantuan itu justru membuat masyarakat menjadi miskin karena dibebani dengan bungan pinjaman yang sangat tinggi hingga 30 persen. Telah banyak warga yang menjadi korban aksi rentenir Ko Aciu. 
Namun tak ada warga yang berani melawan kezaliman dan kesewenang-wenangan ekonomi ini. Termasuk para perangkat Kampung Kami. Mareka hanya berdiam diri seolah-olah pasrah saja, bahkan menyalahkan warga yang tidak membayar. Selain itu Ko Aciu dikenal memiliki anak buah yang berbadan tegap sebagai debt colector alias penagih utang yang tak segan-segan bertindak diluar batas kemanusiaan. 
Matahari berarak lintasi langit yang cerah. Sinarnya menusuk relung hati manusia dibumi yang terus berkerja demi sesuap nasi. Keringat mengucur di tubuh warga dan para pekerja keras untuk menghadapi tantangan hidup yang semakin keras dan makin tak menentu seiring dengan makin menuanya zaman dan alam semesta ini.
Ko Aciu tampak datang ke rumah Sukri sesuai dengan janjinya. Dengan mengendarai mobil terbaru, pria tua ini langsung ditemani oleh para anakbuahnya. Dan Sukri langsung menyambut kedatangannya dengan senyum mengambang.
“Jadi berapa Ko bunga yang harus saya bayar lagi,” tanya Sukri.
“Saya minta maaf lo Pak Sukli. Ini berdasarkan catatan dibuku saya,” jawab Ko Aciu yang menyebut nama Sukri dengan sebutan Sukli.
“Tidak Masalah Ko. Kan itu kewajiban saya yang telah meminjam modal kepada Ako,” jawab Sukri.
Dan betapa terkejutnya Ako Aciu ketika hendak menerima uang bunga riba dari Sukri beberapa orang petugas berpakaian preman langsung membekuknya bersama dengan para anak buah untuk dibawa ke Polsek terdekat.
“Terimakasih Pak Sukri atas kerjasamannya. Semoga ini menjadi aksi terakhir dari aksi para lintah darat yang secara ekonomi melakukan penindasan kepada warga miskin,” ujar seorang petugas sambil menyalmi tangan Sukri.
Matahari kembali berarak. Lintasi awan. Sinarnya terang seterang hati Sukri yang bisa membantu walaupun hanya ala kadarnya. Ya membantu melawan kesewenang-wenangan penindasan ekonomi lewat pembiakan duit oleh manusia tak beradab.

Rusmin Toboali, 28 Maret 2015

Lihat juga...