Ajaran Luhur Bangunan Tugu Pal Putih Yogyakarta

Sebuah upacara adat di Tugu Pal Putih

CATATAN JURNALIS —– Keberadaan Tugu Pal Putih Yogyakarta, sedemikian populernya. Sebagian besar wisatawan manca negara maupun domestik yang datang ke kota budaya tersebut selalu menyempatkan diri untuk berfoto di tugu itu. Terlebih bagi kaum muda. Hampir setiap hari bisa dilihat, sejumlah remaja berfoto di tugu yang berada tepat di perempatan jalan.

Tugu Pal Putih Yogyakarta, seperti menjelma menjadi fenomena tersendiri. Di luar fungsi konvensionalnya sebagai penanda perempatan jalan atau sebuah pusat keramaian, Tugu Pal Putih Yogyakarta juga menjadi daya tarik wisatawan. Di setiap senja hari, selalu bisa ditemui sejumlah remaja berkumpul di sekitaran tugu tersebut. Tentu saja, mereka mengabadikan diri dengan beragam merk kameranya, berselfie ria dengan bacground tugu dan keramaian lalu-lintasnya.
Tugu Pal Putih juga selalu menjadi tempat favorit bagi banyak ormas untuk menggelar demontrasi. Tak pelak, tugu acapkali tampil di berbagai media massa sebagai latar dari sebuah aksi unjukrasa dengan berbagai tuntutan yang beragam. Letak Tugu Pal Putih memang berada di tempat strategis.
Namun, sebenarnya lebih dari itu, Tugu Pal Putih memiliki nilai filosofi tinggi berkenaan dengan kesadaran spiritual seorang pemimpin, sehingga tempat itu dipandang memiliki magnet besar yang menarik perhatian. Dengan pemahaman itu, seolah banyak aksi massa kemudian dilakukan di tempat tersebut dengan harapan sang pemimpin juga memperhatikan aksi tersebut.
Berkait dengan filosofi Tugu Pal Putih, Pemerintah Kota Yogyakarta telah membangun diorama sejarah tugu tersebut di selatan tugu. Diorama itu menceritakan sejarah dibangunnya tugu, lengkap dengan kronologi perubahan tugu sehingga menjadi seperti sekarang. Di lokasi itu pula, dibuat replika tata letak Keraton Yogyakarta dengan tugu pal putih sebagai salah satu bagian pentingnya, yang menunjukkan filosofi tinggi ajaran Sangkan Paraning Dumadi (asal mula kehidupan) dan Manunggaling Kawula lan Gusti yang dimaknai sebagai bersatunya rakyat dengan rajanya, dan bersatunya manusia dengan Sang Pencipta.
Dalam sejarahnya, Tugu Pal Putih pada awalnya disebut Tugu Golong Gilig. Disebut demikian, karena pada awalnya tugu tersebut berbentuk silindris (golong) dan di bagian puncaknya berbentuk bola atau bulat (gilig). Bentuk yang demikian dimaknai sebagai lambang bersatu padu manunggaling cipta, rasa, dan karsa atau bersatunya, cipta atau gagasan, rasa hati dan tindakan. Jauh lebih dalam dari itu, makna golong gilig merupakan simbol manunggaling kawula lan Gusti.
Tugu yang dibangun setahun setelah Keraton Yogyakarta berdiri pada 1755 Masehi, menjadi bagian penting dari filosofi tata letak Kerajaan Mataram-Yogyakarta, yaitu sebagai sumbu filosofi Kesultanan Yogyakarta bersama dengan bangunan Panggung Krapyak di selatan Keraton Yogyakarta. 
Maka jika digambarkan, tata letak Keraton Yogyakarta dibangun tepat di tengah-tengah antara Tugu dan Panggung Krapyak di Bantul, Yogyakarta, yang kemudian disebut sebagai garis imajiner. Tugu dan Panggung Krapyak menjadi simbol ajaran sangkan paraning dumadi. Dijelaskan, dari arah Panggung Krapyak menuju Keraton merupakan lambang perjalanan manusia sejak lahir menuju dewasa sampai menikah. Lalu, dari Keraton menuju ke Tugu melambangkan perjalanan manusia menuju Tuhan Sang Pencipta.
Namun demikian, tugu tersebut sempat terlantar setelah runtuh akibat gempa besar pada tanggal 10 Juni 1867 Masehi. Tugu tersebut lalu mulai dibangun lagi dengan bentuk yang berbeda oleh Sultan HB VII dan diresmikan pada 3 Oktober 1889. Dengan bentuk tugu yang baru itulah tugu yang bersejarah tersebut mulai berganti nama sebagai Tugu Pal Putih, atau yang dalam bahasa Belanda disebut De Witte Paal.
Selama bertahun-tahun, sedikit saja orang mengetahui riwayat tugu tersebut. Namun, kini masyarakat bisa dengan mudah membacanya di lokasi diorama sejarah tugu. Tidak berlebihan, jika kemudian tugu tersebut menjadi fenomenal dan dengan segala nilai filosofinya tugu itu pun menjadi sarat makna spiritual.
RH Heru Wahyukismoyo, MeSi, budayawan mataram di Yogyakarta dihubungi Minggu (15/11/2015), menjelaskan, dalam perspektif tassawuf Tugu Yogyakarta merupakan lambang kesatuan kosmologi baik dalam konteks kosmos atau jagad ageng (habluminallah) maupun kosmis atau jagad alit (habluminannas). Dijelaskannya, tugu golong gilig dimaknai sebagai simbolisme kesatuan tekad bersatunya antara hamba (Al insan) dengan tuan (Al khaliq) atau sering disebut wihdatul wujud (pantheisme). 
Secara historis, kata Heru, tugu tersebut dibangun sebagai penghormatan terhadap Sunan Kabanaran atau Pangeran Mangkubumi, ketika dinobatkan rakyat menjadi raja di masa perjuangan melawan Belanda yang telah merampas hak-hak Kerajaan Mataram melalui tipu daya pada saat Sunan PB II sakit keras dan dipaksa menanda-tangani perjanjian Ponorogo. 
Menyitir pendapat Prof. Dr. Damardjati Supadjar (alm), Heru memaparkan jika tugu golong gilig merupakan simbolik Alif Mutawaliman Wachid (Hanya Allah Yang Maha Tegak dan Berdiri Sendiri) sehingga ketika seorang bertahta di singgasana memusatkan kekuatan kosmis/kosmos, matanya memandang tegak lurus ke arah tugu golong gilig dan tembus sampai ke Gunung Merapi.
“Ini untuk mengingatkan bahwa seorang Sultan sebagai khalifatullah fil ardh tetap manusia biasa yang mendapat sifat arrahman dari Allah (Abdurrahman) dalam menjalankan fungsi kehidupan beragama, sayyidina panatagama”, pungkasnya. 

PENULIS : KOKO TRIARKO


Jurnalis Cendana News wilayah DI.Yogyakarta. Bergabung dengan Cendana News bulan Agustus 2015. Sebelum bergabung di Cendana News, jurnalis, penulis dan fotografer di beberapa media cetak lokal.

Akun twitter @KOKOCND
Lihat juga...