Akibat Kemarau, Panen Raya Salak Pondoh Diprediksi Menurun

Sardiwiyatno, petani salak
YOGYAKARTA — Musim kering yang panjang, diprediksi akan menyebabkan produksi buah salah pondoh pada panen raya di Desember mendatang akan menurun. Seperti yang diungkapkan Sardiwiyatno (50), petani salak pondoh dusun Pulewulung, Bangunkerto, Turi, Sleman, Yogyakarta ketika ditemui Cendana News, Rabu (04/11/2015).
“Bisa dilihat dari sekarang, kondisi pohon salak banyak yang mengalami gagal buah, karena pelepah buahnya cepat mengering akibat musim kemarau panjang ini”, katanya.
Sardi, demikian sapaannya, bahkan mengaku sudah tiga bulan ini tidak panen. Padahal, pada musim yang normal menjelang Desember pohon salak sudah banyak berbuah dan bisa dipanen. 
Dijelaskannya, pohon salak memang tidak tergantung musim untuk bisa berbuah. Baik di musim kering maupun hujan, buah salak tetap bisa berbuah asal tetap mendapat pasokan air yang memadai. Masalahnya sekarang, kata Sardi, musim kemarau tahun ini cukup panjang sehingga banyak sumber air yang mengering. 
“Bulan Desember-Januari, biasanya panen akan melimpah ruah dan menyebabkan harga jual salak menurun drastis. Tapi, melihat kondisi sekarang banyak pohon salak yang mengering, dipastikan panen raya nanti akan minim,” ujarnya.
Namun di sisi lain, lanjut Sardi, banyaknya petani salak yang gagal tahun ini diperkirakan akan memberi berkah tersendiri bagi petani salak yang bisa panen. Sebab, salak akan langka sehingga harganya tidak anjlok. Pada musim raya dengan hasil melimpah, katanya, buah salak bisa turun menjadi Rp. 2000 perkilogram. 
Tapi, dengan perkiraan panen raya bulan Desember-Januari yang minim, dipastikan justru akan membuat harga jual salak tidak mengalami penurunan. Saat ini  menurut Sardi, harga jual salak mencapai sekitar Rp. 7.000 perkilo. 
“Harga ini tergolong tinggi, karena saat ini salak memang langka akibat kemarau panjang”. jelasnya.
Salak Pondoh selama ini menjadi salah satu buah ikon wisata dari Kabupaten Sleman. Keberadaannya terus dikembangkan, bahkan dengan membangun kawasan Agrowisata. Sementara itu, kawasan desa Turi menjadi sentra buah salak terbesar di Sleman dengan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani salak. 
“Di desa Turi tidak ada padi. Semua warganya lebih memilih salak sebagai komoditas pertaniannya,”sebut Sardi.
Bertani salak, kata Sardi, dinilai lebih menguntungkan. Setiap bulan bisa panen dengan perawatan yang tidak begitu rumit. Hanya saja, katanya, di musim kering seperti saat ini memang menuntut petani salak lebih intens merawatnya. 
Dikatakan, bunga pohon salak akan menjadi buah salak selama dalam waktu 7 bulan. Penyerbukan terjadi alamiah, namun di musim kering ini terpaksa penyerbukan harus dibantu manusia. Caranya, bunga jantan yang sudah tua dipetik dan digosokkan ke bunga betina, agar sari bunga berbuah. Dengan cara itu, katanya, pohon salak tetap bisa berbuah di musim apa pun.
Selebihnya, lanjut Sardi, bagus tidaknya buah salak bergantung perawatan pohon dan suplai air serta pupuk. Dalam setahun, pohon salak hanya butuh pupuk sebanyak dua kali. Namun untuk air, minimal dua kali dalam sebulan harus diberikan. Karenanya, air menjadi masalah di musim kering ini dan menyebabkan lahan perkebunan salak di desa Turi banyak yang mengering dan tidak berbuah. Sardi sendiri relatif bisa bertahan karena masih mendapatkan asupan air dari kolam yang dibuatnya, meski saat ini juga sudah mulai mengering.
JURNALIS : KOKO TRIARKO
Jurnalis Cendana News wilayah DI.Yogyakarta. Bergabung dengan Cendana News bulan Agustus 2015. Sebelum bergabung di Cendana News, jurnalis, penulis dan fotografer di beberapa media cetak lokal.
Akun twitter @KOKOCND
Lihat juga...