Aksi IPT 65 di Denhaag Bentuk Pelanggaran HAM Terhadap Umat Islam

Para pembicara yang hadir dalam diskusi Meneladani Kepahlawanan Para Aktivis Muslim, Para Santri dan Para Kyai dalam Mempertahankan NKRI
JAKARTA — Aksi International People Tribunal ( IPT ) 65 yang diselenggarakan di Denhaag, Negeri Belanda pada tanggal 10 November 2015, adalah salah satu bentuk pelanggaran HAM terhadap Umat Islam di Indonesia. Sebab IPT 65 tidak melihat praktik – praktik kekejaman yang telah dilakukan Partai Komunis Indonesia ( PKI ) terhadap umat Islam yang sudah berlangsung lama, jauh sebelum meletusnya peristiwa Gerakan 30 September PKI tahun 1965.
Demikian benang merah diskusi yang bertajuk Meneladani Kepahlawanan Para Aktivis Muslim, Para Santri dan Para Kyai dalam mempertahankan NKRI sejak tahun 1945 di dalam diskusi ” bedah buku ” yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Mahasisiwa Islam ( LDMI ) dan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam ( PB HMI ). 
Adapun buku yang dibahas dalam diskusi tersebut yakni, ” Ayat – Ayat yang Disembelih ” karya Anab Afifi dan Thowaf Zuharon. Buku ini memuat sejarah banjir darah para kyai, santri dan parabpenjaga NKRI oleh aksi – aksi PKI yang berdasarkan wawancara puluhan saksi dan korban kekejaman PKI sejak tahun 1948 – 1965.
Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI ) sekaligus ketua panitia bedah buku, Fatkhurahman menyebutkan, pihaknya sengaja mengangkat buku ini sebagai bahan diskusi, sekaligus sebagai bantahan balik atas aksi eks tahanan politik PKI di International People Tribunal 65 di Denhaag, Negeri. 
Fatkhurahman
Fatkhurahman menambahkan, jika pengadilan HAM Internasional di Denhaag tersebut hanya untuk mengusut peristiwa setelah Oktober 1965, berarti mereka sedang berupaya untuk tidak mengakui Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
“Namun jika hendak mengusut HAM, harusnya juga diusut pula berbagai kejadian pelanggaran HAM berat yang telah dilakukan oleh PKI,” jelasnya.
Berbagai pelanggaran Hak Asasi Manusia ( HAM ) kepada Bangsa Indonesia kepada para pengkhianat ( pemberontak ) telah terjadi sejak awal kemerdekaan, setelah 17 Agustus 1945. Para pengkhianat bangsa tersebut telah melakukan berbagai macam cara untuk mengganti ideologi Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945.
Para pengkhianat telah berulang kali melakukan berbagai pelanggaran HAM, salah satunya pemberontakan PKI. Di masa lalu PKI dan antek – anteknya pernah mencoba menghancurkan HMI. PKI berusaha keras menghasut Presiden Soekarno untuk membubarkan HMI.
Tercatat dalam sejarah, sudah dua kali PKI mencoba melakukan kudeta berdarah di Indonesia, pertama tahun 1948 dan yang kedua tahun 1965. PKI terbukti melakukan berbagai kekejian dan kekejaman dengan cara membantai secara brutal dan tanpa mengenal ampun bagi siapa saja semua golongan yang menentang faham komunisme. [JURNALIS : EKO SULESTYONO]
Lihat juga...