Alumni HMI Dirikan Pesantren di Kawasan Gang Dolly


CATATAN JURNALIS—Nama mucikari kompeni (baca: mucikari asal Belanda) Dolly Van Der Mart menjadikan daerah Jarak, Pasar Kembang, Surabaya lebih dikenal dengan nama Gang Dolly. Kawasan lokalisasi yang konon merupakan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. 

Bahwa di tempat ini pusat terjadinya transaksi birahi antara penjaja dan pembeli yang digawangi oleh mucikari dan diamankan oleh centeng-centeng kesayangan sang mucikari, semuanya sudah tahu. Tapi, bisa jadi masih sangat sedikit yang tahu bahwa dibalik hingar bingar suara musik dari kafe dan karaoke, ada alunan nada doa bersahaja dan seruan ayat-ayat Al-Qur’an yang terdengar lembut dari sebuah tempat yang didirikan oleh tiga lelaki bersaudara kandung, Mochamad Rofi Uddin SH, H. Mochamad Nu’man  dan Mochamad Qomarudd. 
Ketiga nama tersebut tidaklah sepopuler ustadz-ustadz yang tiap hari menemui pemirsa melalui layar televisi, atau ustadz-ustadz yang aktif di media sosial menemui para pengikutnya. Tetapi apa yang dilakukan oleh tiga bersaudara sejak tahun 2008 lalu adalah karya kemanusiaan yang sangat pantas diketahui oleh seluruh pelosok negeri. 
Apa yang dilakukan oleh Rofi Uddin bersaudara menyadarkan semua pihak bahwa di kawasan Gang Dolly tidak hanya PSK, mucikari, preman, dan pembeli yang bermukim, tetapi juga anak-anak. 
“Banyak anak-anak yang tidak sekolah karena tidak ada biaya, mereka anak-anak PSK. Banyak juga anak-anak yang tak terurus oleh oleh sentuhan ibu karena sang ibu sibuk menjalani pekerjaannya sebagai PSK. Yang paling mengenaskan, anak-anak dibawah umur yang terbiasa mengkonsumsi miras, mereka mendapatkan miras dari sisa-sisa pelanggan,” demikian Rofi Uddin menjelaskan bagaimana awal mula muncul ide untuk melakukan sesuatu bagi anak-anak Gang Dolly. 
Dengan gelar Sarjana Hukum yang disandang Rofi Uddin, bisa saja ia menyalurkan kepeduliannya kepada anak-anak Gang Dolly, cukup dengan menulis kondisi anak-anak di sana. Dan lalu ia fokus dengan bidang hukum yang ia kuasai. Demikian juga sang kakak  H. Mochamad Nu’man, dosen UIN Sunan Ampel. Bisa saja menyalurkan kepeduliannya dengan menulis, saja. Seperti yang dilakukan oleh banyak orang. Karena menulis tentang anak-anak di lokalisasi cukup menyedot pembaca. Tetapi rupanya kakak beradik alumni HMI ini memutuskan cara yang berbeda untuk memperlihatkan keprihatinannya-mewujudkan kepeduliannya. Mereka tak hanya memilih menulis, mereka memilih terjun langsung berinteraksi dengan anak-anak lonte, demikian bahasa suroboyoan menyebut PSK. 
Yang dilakukan tiga bersaudara ini, sangatlah sederhana. Kegiatan yang bisa ditemui dengan mudah di kawasan manapun, yaitu mengaji. Mengaji bukanlah hanya membaca Al-Qur’an tetapi mengkaji ayat-ayat dari Sang Maha Benar dengan segala firmanNya. Rofi bersaudara meyakini, ketika anak-anak dikenalkan tentang bagaimana membangun pondasi agama yang kuat maka mereka akan memahami apa yang dibenarkan dan tidak dibenarkan oleh ajaran yang mereka yakini yaitu Islam. 
Kaum muslim intelektual alumni HMI ini menggunakan tilawati dalam mengajarkan Al-Qur’an. Selain mengaji, anak-anak juga dikenalkan dengan doa-doa yang harus mereka ketahui untuk bekal berinteraksi dengan Tuhannya. 
Agar anak-anak tak hanya mengenal ketauladanan yang mereka lihat di Gang Dolly, keteladanan dari preman, dari mucikari, atau bahkan dari PSK yang ibunya sendiri, maka Rofi pun merasa sangat perlu mengajarkan pada anak-anak tentang sejarah keteladanan Islam. 
Sekilas, apa yang dilakukan oleh Rofi bersama kedua saudaranya adalah apa yang dilakukan seorang guru ngaji di masjid-masjid pada umumnya. Tetapi melakukan semua itu di Gang Dolly, tentulah sesuatu tindakan yang istimewa. Karena melakukan syiar di hadapan orang-orang “baik” tentulah lebih mudah dibandingkan melakukan syiar di hadapan orang-orang “tak baik” di lingkungan “hina” pula. 
Ketika kegiatan ini bisa dilakukan secara konsisten sejak tahun 2008 maka tentu sudah sepantasnya Rofi mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Dan Rofi membenarkan bahwa betapa sangat dibutuhkan dukungan dari para kaum dermawan yang mampu melihat apa yang Rofi lakukan adalah sebuah kebaikan bagi masa depan anak bangsa. Karena seistimewa apapun sebuah program jika tanpa didukung dana yang memadai, tentu tak bisa jalan sesuai yang diharapkan.
“Ada bantuan dari Departemen Agama berupa tunjangan gaji guru. Dari Dinas Sosial pernah membantu satu kali. Sumber dana kami berasal dari sedekah yang kami himpun dari jamaah, masyarakat sekitar dan masyarakat umum,” demikian Rofi menjelaskan mengenai sumber dana bagi kegiatan kemanusiaan dibawah payung Pesantren Jauharotul Hikmah ini. 
Dengan segala prosesnya, kegiatan yang semula dikhususkan untuk anak-anak Gang Dolly, kini sudah merambah ke para orang tua. Dan bahkan kegiatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Pesantren Jauharotul Hikmah semakin luar biasa, jika semula hanya kegiatan mengaji bagi anak-anak, kini orang tua pun ikut mengaji. Jika semula hanya mengaji, kini pesantren ini sudah mampu mengadakan kegiatan kemanusiaan seperti donor darah, membagi hewan qurban, khitan gratis, membagikan ATK bagi anak-anak dan bahkan biaya sekolah.
Sangat disayangkan jika kegiatan kemanusiaan semulia ini tak terendus oleh pihak-pihak terkait yang memiliki potensi dan kekuatan untuk memberikan dukungan. Dan tentu tidaklah cukup waktu satu hari untuk mengupas tuntas tentang siapa Rofi Uddin bersaudara, apa itu metode tilawati dalam pengajaran Al-Qur’an dan bagaimana sejarah berdirinya Pesantren Jauharotul Hikmah. Maka, penulis akan terus melanjutkan Catatan Jurnalis yang didedikasikan secara khusus untuk tiga bersaudara asal kota Surabaya ini. 
Satu hal yang paling menarik adalah, ketiganya memiliki wawasan luas tentang bagaimana peran media sosial dalam mensosialisasikan sebuah kegiatan kemanusiaan, bahkan memiliki potensi mempopulerkan sosok yang ada dibalik kegiatan kemanusiaan tersebut, tetapi Rofi Uddin ketika ditanya apakah sudah memiliki akun disalah satu media sosial yang ada sekarang ini, Rofi Uddin menjawab, belum ada. Dengan kata lain, mudah dipahami bahwa Rofi Uddin dan saudara-saudaranya bukanlah sosok yang gila akan publikasi, tetapi hal baik tetaplah harus diberi tempat agar kebaikannya mampu menjadi inspirasi bagi banyak orang. Dan sosok anak muda yang memiliki kepedulian terhadap saudara sebangsa setanah air, tetaplah harus dikabarkan, agar tumbuh harapan bahwa Indonesia masih memiliki penerus bangsa yang mampu mengangkat harkat dan martabat saudaranya dimata manusia lainnya. 
Dan ketika sekarang ini penikmat media disuguhi berita tentang “rombongan liar” HMI pada Kongres HMI di Pekanbaru berikut aksi-aksi anarkisnya, maka Rofi Uddin menyuguhkan karakter lain dari HMI, yaitu pemuda Islam yang paham bagaimana menghargai waktu di masa muda. Rofi Uddin memperlihatkan bahwa Himpunan Mahasiswa Islam, bukan hanya sekedar emblem bagi mahasiswa yang beragama Islam tetapi mahasiswa dan atau kaum muda yang paham menjadi pemuda Islam. Sebagaimana yang tertulis dalam HR Turmidzi : 2416 “Pada hari kiamat tidak seorangpun hamba diperkenankan meninggalkan posisinya kecuali ditanya lima perkara. Tentang penggunaan umurnya, masa mudanya, kekayaannya dari mana dia peroleh dan untuk apa digunakan dan apa yang dilakukan terhadap ilmunya.” (Baca Berita Gambar : Ini Kegiatan Pesantren Jauharotul Hikmah yang Terekam dalam Gambar)
Penulis

Sari Puspita Ayu


Editor : Sari Puspita Ayu / Sumber Berita : Rofi Uddin SH / Sumber Foto : Rofi Uddin SH

Lihat juga...