Angkutan Umum Masal Belum Mampu Tekan Kemacetan di Jakarta

Kemacetan di salah satu ruas jalan di Jakarta
JAKARTA — Kemacetan tak dapat terhindarkan, terutama saat – saat jam berangkat dan pulang kantor, seolah – olah menjadi pemandangan yang biasa ditemui sehari – hari di hampir semua jalanan wilayah Daerah Khusus Ibukota ( DKI ) Jakarta. 
Terhitung mulai Senin hingga Jumat, para pengendara kendaraan bermotor dan para pengguna angkutan umum harus ” bersabar ” saat berangkat dan pulang kantor. Biasanya kemacetan di pagi hari saat pukul 07:00 – 09:00 WIB, sedangkan sorenya pukul 16:00 – 19:00 WIB. Rata – rata jam berangkat dan pulang kantor hampir bersamaan, otomatis kepadatan volume kendaraan bermotor di jalanan Ibukota sangat tinggi.
Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selama ini telah berusaha semaksimal mungkin untuk menekan dan mengurangi tingginya penggunaan kendaraan pribadi di jalan raya yang menjadi salah satu penyebab utama kemacetan arus lalu lintas di Jakarta.
Berbagai cara telah ditempuh Pemprov DKI Jakarta untuk mengurangi kemacetan, mulai peraturan tiga penumpang untuk satu kendaraan roda empat ( Three In One ) saat melintas di kawasan segitiga bisnis, Jalan Sudirman – MH. Thamrin – HR. Rasuna Said ( Kuningan ) Jakarta Pusat dan larangan bagi semua kendaraan bermotor roda dan tiga melintas di kawasan tersebut.
Selain itu Pemerintah juga menyediakan layanan Bus Trans Jakarta, Bus Trans Jabodetabek, Bus APTB, Kereta Rel Listrik ( KRL ) Jabodetabek, maupun Kereta Layang ( Monorel ) yang sekarang sedang dalam tahap pembangunan tersebut merupakan salah satu solusi untuk mengakomodasi ketersediaan angkutan umum masal terintegrasi / Mass Rapid Transit ( MRT ).
Namun kenyataannya semua itu ternyata belum mampu menekan tingginya penggunaan kendaraan pribadi di Ibukota DKI Jakarta, diperkirakan ratusan ribu kendaraan pribadi dan kendaraan angkutan umum setiap harinya lalu – lalang melintasi jalanan Ibukota. Mulai dari kendaraan bermotor roda dua, roda tiga, roda empat, bus sedang, bus besar, truk kecil, truk sedang hingga angkutan kendaraan berat.
Kumalasari, salah satu penumpang Bus Trans Jakarta mengatakan, kemacetan kerap terjadi karena setiap tahunnya kendaraan pribadi bertambah tanpa diikuti dengan sarana dan prasarana yang cukup.
Kumalasari menambahkan, Pemerintah kedepannya harus terus menerus meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana, terutama angkutan umum masal.
“Karena sampai sekarang kenyataannya para pengguna kendaraan pribadi di Ibukota DKI Jakarta masih sangat tinggi,” pungkasnya mengakhiri pembicaraan.[JURNALIS : EKO SULESTYONO]
Lihat juga...