BBM Bersubsidi Disalahgunakan, LSM Akan Lapor ke Polisi

LAMPUNG  — Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aliansi Indonesia perwakilan Lampung berhasil mengungkap penyalahgunaan solar bersubsidi untuk kepentingan industri. Ketua LSM Aliansi Indonesia perwakilan Lampung Agus Setiawan mengungkapkan, dasar pelaporan tersebut merupakan bentuk keprihatinan terhadap penggunaan bahan bakar subsidi yang seharusnya dipergunakan untuk kepentingan masyarakat namun justru dipergunakan untuk kepentingan industri. 
Disebutkan, selain merugikan masyarakat kasus tersebut ditengarai akan merusak citra proyek yang dikerjakan yakni pembuatan rumahs akit rehabilitasi narkoba yang merupakan kepentingan negara.
Agus Setiawan mengungkapkan, penyalahgunaan bahan bakar jenis solar bersubsidi tersebut sudah ditengarai terjadi berkali kali, namun ia baru memiliki buktinya setelah melakukan investigasi dan memiliki bukti. Bukti aktifitas tersebut serta proses pembelian solar bersubsidi tersebut bahkan akan dilaporkan ke Polres Lampung Selatan pada hari ini.
“Benar hari ini kami sebagai lembaga swadaya masyarakat Aliansi Indonesia akan melaporkan kasus penyalahgunaan bahan bakar subsidi jenis solar yang terjadi di wilayah hukum Polres Lampung Selatan,”ungkap Agus Stiawan kepada Cendana News, Senin (16/11/2015).
Agus mengungkapkan, kronologis awal hingga LSM melaporkan peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu malam (14/11) dan baru akan dilaporkan hari ini mengingat sebelumnya merupakan hari libur. Agus mengungkapkan dalam investigasi LSM Aliansai Indonesia, ia menemukan sebuah mobil pick up sedang melakukan pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar sebanyak 9 jerigen atau sebanyak 315 liter di Stasiun Pengisian Bahan Umum AKR Desa Gunung Terang Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan pada Sabtu malam (14/11/2015) sekitar pukul 21.00 WIB. 
Modus pembelian BBM bersubsidi untuk digunakan industri itu dilakukan pada malam hari saat suasana Kota Kalianda sedang mengalami pemadaman bergilir (Byarpett) untuk mengelabuhi aparat. 
“Ratusan liter solar bersubsidi ini diduga digunakan untuk bahan bakar alat-alat berat untuk pembangunan rumah sakit rehabilitasi narkoba,” terangnya.
Agus akan melayangkan surat kepada pihak Kepolisian Resort Lampung Selatan dan Polda Lampung agar mengusut penggunaan BBM jenis solar bersubsidi ini dan meminta pihak penyidik memeriksa pimpinan proyek pembangunan rumah sakit tersebut.
“Tentunya dasar dari laporan kami sudah lengkap berupa laporan dari masyarakat, barang bukti berupa foto-foto sudah kami pegang,”tegas Agus.
Sebelumnya, ungkap Agus, sopir mobil pick up Agus mengaku jika pengisian BBM dalam jumlah besar tersebut digunakan untuk keperluan oprasional kegiatan pelaksanaan proyek pembangunan rumah sakit rehabilitasi narkoba di daerah Jati Kelurahan Way Urang Kalianda.
“Saya hanya ditugaskan untuk mengisi solar saja mas, saya cuma disuruh,”ungkap Agus. 
Sementara itu Franky selaku koordinator pelaksana proyek PT.Fajar Multi Media mengaku selama ini proyek pembangunan rumah sakit ini selalu menggunakan BBM jenis solar bersubsidi.  Ia pun berdalih jika di wilayah Kalianda tidak ada ada satupun SPBU yang menjual BBM non bersubsidi.
“Iya pak selama ini kami menggunakan BBM bersubsidi, pernah kami tanyakan kepada pihak Pertamina tetapi tidak diberi tahu di wilayah mana. Jadi kami pun kesulitan harus mencari BBM non bersubsidi tersebut,”elak Franky. 
Selain itu, Franky tidak menampik jika BBM bersubsidi itu digunakan untuk oprasional alat berat berupa satu buah excavator dan genset. 
“Selain alat berat, BBM itu kami gunakan untuk oprasional genset dan kebetulan sekarang alat beratnya sedang rusak pak,”ujar Franky. 
Untuk diketahui pembangunan rumah sakit rehabilitasi narkoba di daerah Jati Kelurahan Way Urang Kalianda Lampung Selatan itu menelan anggaran sebesar Rp. 22 milyar  yang bersumber dari dana APBN dengan pelaksananya PT. Fajar Multi Media dengan waktu pelaksanaan selama 120 hari dan sudah berjalan sekitar dua bulan.
Padahal penyalahgunaan BBM bersubsidi sudah melanggar Pasal 55 juncto Pasal 56 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi dengan ancaman pidana penjara maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 60 miliar. 
JURNALIS : HENK WIDI

Bergabung dengan Cendana News pada bulan November 2014. Dengan latar belakang sebagai Jurnalis lepas di beberapa media dan backpacker, diawal bergabung dengan Cendana News, Henk Widi fokus pada pemberitaan wisata dan kearifan lokal di wilayah Lampung dan sekitarnya.

Twitter: @Henk_Widi
Lihat juga...